Kenangan Manis di Pengujung Pengabdian Sang "Doktor Insinyur"

Kompas.com - 07/10/2012, 06:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama 35 tahun bukan periode yang pendek, apalagi untuk suatu pengabdian. Fauzi Bowo telah melalui periode panjang tersebut di lingkup Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Maka, ia pun layak diantar ratusan warga Jakarta kepada simbol purna tugas, kediaman pribadi keluarganya.

"Ini kejutan manis di akhir masa jabatan saya," ujar Fauzi di depan ratusan pendukung yang mengantarnya hingga ke depan rumah pribadinya, Jalan Teuku Umar No 24 Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/10/2012) sore.

Sosok pria berkumis ini tergolong orang paling berpengalaman di lingkungan Kebon Sirih, tempat pusat pemerintahan DKI berada. Sejak tahun 1977 ia telah mulai menapaki karier sebagai pegawai negeri sipil. Jabatan demi jabatan diraihnya hingga ke posisi puncak pemerintahan pada 2007 lalu.

Kisah sukses dalam karier sebagai birokrat layak didapatkan suami Sri Hartati (59) itu jika menyimak latar belakang pendidikan yang telah ditempuhnya. Ia lebih dari sekadar gambaran ideal "tukang insinyur" dalam kisah sinetron terkenal "Si Doel Anak Sekolahan".

Fauzi adalah seorang "Doktor Insinyur" lulusan Jerman. Lebih tepatnya, Fauzi adalah penyandang titel Doktor Ingenieur dari Fachbereich Architektur/Raum Und Umweltplanung-Baungenieurwesen Universitat Kaiserlautern Republik Federasi Jerman.

Berbekal pengetahuan dalam bidang perencanaan kota dan wilayah, Foke, sapaan Fauzi, menjadi salah seorang warga asli Jakarta yang diharapkan bisa membangun Ibukota sekaligus menciptakan kenyamanan dan kesejahteraan bagi warga Jakarta. Posisi-posisi strategis telah dirambah ayah tiga anak itu sejak tahun 1979 dengan jabatan Pelaksana Tugas Kepala Biro Kepala Daerah DKI.

Dua jabatan utama di lingkup pemprov sudah diduduki pula. Sekretaris Wilayah Daerah ditempatinya dari tahun 1998 hingga 2002. Lima tahun berikutnya dilalui Foke sebagai DKI-2 mendampingi Gubernur Sutiyoso.

Dengan segudang pengalaman itu, Fauzi sukses memenangkan pilihan rakyat pada Pilkada langsung pertama di DKI pada 2007. Ia terpilih sebagai gubernur didampingi Prijanto sebagai wakilnya.

"Hampir 40 tahun saya bekerja untuk kota Jakarta," ucap Foke di depan pendukungnya.

Pengabdian selama puluhan tahun sang "Doktor Insinyur" dinilai sudah cukup. Sebanyak 2.472.130 suara pemilih pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang berlangsung pada Kamis (20/9/2012) menghendaki perubahan kepemimpinan.

Pilihan 53,82 persen suara warga dari 4.592.945 pemilih yang telah menyalurkan hak pilihnya itu mengantar Foke ke pengujung kariernya di lingkungan Kebon Sirih. Ia legawa menerima pilihan tersebut.

"Kita semua kader demokrasi. Karena itu kita harus hormati proses demokrasi! Yang menang Pilkada Jakarta kemarin itu adalah rakyat Jakarta. Selamat buat rakyat Jakarta," pesan Foke sebelum memasuki gerbang kediamannya.

Pada kesempatan itu, Foke juga menunjukkan jatidirinya sebagai warga Jakarta sejati. Kenangan manis yang diberikan para pendukungnya disambutnya dengan ikrar untuk terus mengantar Jakarta menuju kota yang lebih baik. Foke berjanji akan tetap memperhatikan warganya dari luar lingkaran pemprov.

"Perjuangan ini tidak ada akhirnya karena Jakarta membutuhkan itu. Perjuangan ini tidak akan selesai hingga akhir hayat," janji Foke.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau