Stop Penyebaran Virus "Negative Thinking"

Kompas.com - 07/10/2012, 13:15 WIB

KOMPAS.com - Sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, saya setiap hari bertemu dengan puluhan pasien dan setiap bulan bertemu dengan ratusan pasien. Pasien yang datang kepada saya adalah umumnya pasien dengan penyakit kronis antara lain sakit maag, sakit perut, susah buang air besar atau sering diare, nyeri otot (fibromyalgia).

Sebagian pasien datang dengan sakit kepala kronis, penderita hipertensi, kencing manis, kegemukan, kadar kolesterol tinggi dan lain-lain. Kekambuhan yang terjadi biasanya dicetuskan oleh salah makan atau faktor stres. Di dalam mengobati seorang pasien dokter juga seharusnya tidak melulu memikirkan faktor fisik, tapi juga faktor kejiwaan pasien.

Oleh karena itu, pengendalian faktor psikis seperti faktor stres merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan agar penyakit seseorang sembuh dan tidak kembuh. Tercetusnya suatu faktor stres ini juga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik lingkungan rumah, sekitar atau lingkungan luar yang datang dari media. Suasana hati bangsa ini sebagian akan muncul di media dan akan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari.

Apakah suasana hati bangsa saat ini mendukung atau malah memperburuk?

Jawaban saya, saat ini faktor lingkungan luar masyarakat kita tidak mendukung kita untuk hidup sehat. Apa yang saat ini kita dengar, kita baca dan kita lihat di media isinya sebagian besar berita adalah pertikaian dan hujatan-hujatan. Antar lembaga pemerintah saling menyalahkan.

Peristiwa proses upaya penangkapan seorang polisi penyidik KPK di kantor KPK oleh polisi/provost mencetuskan kemarahan sebagian masyarakat dan kondisi ini menjadi konsumsi media dan secara terus menerus menjadi berita yang "menarik" untuk disuguhkan ditengah masyarakat. Peristiwa ini menjadi ulasan menarik bagi para "pengamat".

Kita juga sudah maklum bahwa reformasi ini telah melahirkan ribuan "pengamat", semua orang bisa menjadi narasumber dan semua orang bisa angkat bicara walau pengetahuannya terbatas atas apa yang dibicarakan, karena memang media cetak dan elektronik melahirkan para "pengamat" dadakan tersebut. Berbagai analisa disampaikan, berbagai hujatan dilemparkan: Polisi menyerbu KPK, Polisi mengepung KPK, Polisi melemahkan KPK.

Di sisi lain, juga ada analisa bahwa isu pertikaian KPK-Polisi sengaja dihembuskan untuk menutup kasus -kasus terdahulu yaitu kasus Hambalang atau Century, agar kita lupa akan kasus Hambalang. Kita tahu bahwa polisi adalah pelindung masyarakat, keberadaan polisi membuat kita seharusnya menjadi aman, tetapi peristiwa yang terakhir saat ini dan informasi yang kita terima dari media membuat wibawa polisi menjadi jatuh, pesan-pesan negative yang diterima masyarakat ini akan mencetuskan masyarakat juga berpikir negatif.

Kita bisa lihat bahwa sebagian besar pernyataan-pernyataan yang muncul menanggapi pertikaian ini isinya hanya negative thinking. Di sisi lain, klarifikasi yang disampikan pihak kepolisian juga belum menyakinkan, sehingga masyarakat dipaksa untuk berpikir negatif.

Virus negative thinking terus disebarkan di tengah masyarakat. Sebagai seorang dokter, saya hanya meminta agar pemimpin negara ini untuk menghentikan pertikaian ini. Penghentian pertikain lembaga pemerintah apalagi antara lembaga penegak hukum akan membawa kebaikan bagi suasana hati bangsa ini. Harus ada pernyataan dari pimpinan bangsa ini agar kita menghentikan penyebaran virus negative thinking ini.

Masyarakat harus menghilangkan atau menghindarkan pikiran negatif, ganti pikiran-pikiran negatif dengan pikiran positif agar kita sehat.

Sekali lagi saya melihat dari seorang praktisi klinis yang sehari-hari bertemu dengan pasien, bahwa suasana hati bangsa ini harus diperbaiki. Seharusnya kita semua, para "pengamat", para petinggi negara, para pemimpin negara yang sedang bertikai harus bersama-sama berupaya agar menghentikan penyebaran virus "negative thinking".

Berpikir negatif bisa menjadi sumber berbagai macam penyakit. Masyarakat harus diingatkan akan hal ini dan kembali untuk berpikir positif. Berbagai penelitian telah membuktikan adanya hubungan faktor psikis dengan sistim neuroendokrin dan daya tahan tubuh seseorang. Seseorang yang selalu berpikir positif maka otaknya akan memberikan pesan-pesan positif bagi organ tubuh lain.

Daya tahan tubuhnya akan lebih baik dan mereka tidak mudah mengalami infeksi sebaliknya kalau kita selalu mendapat pesan dan selalu berpikir negatif maka daya tahan tubuh kita juga akan menurun sistim neuroendokrin kita juga akan terganggu dan akhirnya kualitas hidup kita juga akan menurun. Masyarakat harus selalu disuguhi berita-berita agar mereka selalu berpikir positif. Positive thinking akan meningkatkan daya tahan tubuh seseorang, akan meningkatkan kualitas hidup seseorang.

Masyarakat sehat akan membuat bangsa ini kuat. Mari kita bersama-sama memperbaiki suasana batin bangsa ini untuk tidak saling menghujat dan menyalahkan satu sama lain serahkan segala karut marut ini kepada sistem yang ada. Kita semua harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas yang akhirnya memprovokasi masyarakat berpikir negatif.

Ajaran agamapun selalu mengajarkan kepada kita untuk selalu berpikir positif dan menghindarkan diri untuk saling berhujat. berkata buruk dan memojokkan orang lain. Kita harus bersama-sama menghindarkan diri untuk berprasangka buruk yang juga akan membawa dampak buruk bagi kesehatan kita dan akhirnya menurunkan kualitas hidup kita.

Media juga seharusnya mendukung upaya-upaya memberantas penyebaran virus negative thinking di tengah masyarakat kita.

Salam sehat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau