Berlari, Berwisata, dan Berbagi

Kompas.com - 09/10/2012, 13:24 WIB

LOSARI, KOMPAS.com - Sebuah bus wisata memasuki halaman Stasiun Ambarawa, Jawa Tengah, Sabtu (6/10/2012) pagi. Penumpang bus ternyata tidak ingin bernostalgia menaiki kereta uap yang bersejarah itu, tetapi ingin berlari dengan titik start di Stasiun Ambarawa. Mereka terdiri dari beragam profesi dan usia. Mulai dari atlet sampai pengusaha, dari usia muda sampai tua, warga negara Indonesia maupun WNA. Wajah mereka terlihat cerah dan mereka adalah peserta dari Mesastila Challenge Half Marathon 2012.

Ini adalah ajang Berlari untuk Berbagi, sebuah program amal yang digagas oleh pengusaha Sandiaga Uno. Di mana setiap kilometer yang ditempuh oleh Sandiaga, ia menawarkan kepada individu dan perusahaan untuk memberikan donasi tertentu kepada yayasan yang dipilih. Nantinya dari setiap kilometer yang disumbangkan tersebut, Sandiaga menggandakan seluruh donasi yang telah disumbangkan menjadi dua kali lipat kemudian disumbangkan kepada yayasan atau paguyuban yang ditunjuk donatur bersangkutan.

Dalam Mesastila Challenge Half Marathon ini, sebanyak 86 peserta berlari sepanjang 21 kilometer, menyusuri jalur rel kereta uap, melewati pematang sawah, jalanan menanjak, menerobos perkebunan kopi hingga finish di Mesastila Resort di Losari.

"Are you ready!" teriak Sandiaga Uno saat melepas peserta.

"Ready...!!!" jawab  peserta tak kalah semangatnya.

Sementara kereta uap sudah bersiap-siap meninggalkan Stasiun Ambarawa. Asap dari pembakaran kayu terlihat terus mengepul ke udara dari cerobong  lokomotif yang sarat nilai sejarah itu. Stasiun Ambarawa diresmikan menjadi Museum Kereta Api Ambarawa pada 8 April 1978. Tak heran saat memasuki Stasiun Ambarawa, peserta Mesastila Challenge akan melihat berbagai lokomotif zaman dahulu. Di museum ini terdapat 21 lokomotif yang digunakan oleh tentara Indonesia dalam pertempuran menghadapi tentara Belanda.

Sebelum peserta mulai berlari, pukul 07.05 kereta uap dengan menarik dua gerbong itu sudah lebih dulu beranjak meninggalkan stasiun Ambarawa. Lantas, 30 menit kemudian, disusul para pelari.

Dua gerbong tersebut dipenuhi para sponsor, panitia Mesastila Challenge, dan media itu perlahan-lahan keluar dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Jambu. Kereta melaju perlahan-lahan melewati kampung-kampung penduduk. Di kiri-kanan rel kereta, penumpang disuguhkan pemandangan alam di pagi hari, rimbunnya pepohonan, segarnya air yang mengalir serta pematang sawah yang terhampar luas. Saat kereta memasuki perkampungan, warga setempat ke luar rumah dan anak-anak kecil melambai-lambaikan tangan. Sungguh sambutan yang ramah tanpa dibuat-buat.

Pukul 07.35 kereta uap memasuki Stasiun Jambu. Di sini kereta berhenti karena lokomotif akan berganti posisi dari semula menarik gerbong menjadi pendorong gerbong. Pasalnya jalur berikutnya adalah menanjak. Ketika kereta berhenti di Stasiun Jambu untuk pergantian posisi lokomotif, tak lama kemudian satu persatu pelari melintas di depan stasiun. Abdoullah, warga negara Algeria tak mau kalah dengan pelari lokal yang sudah terlebih dahulu melintasi stasiun ini. Melewati gerbong, Abdoullah dengan sigap langsung menyambar tawaran minuman yang diberikan panitia.

Setelah lokomotif berganti posisi, gerbong pun kembali melaju menuju Stasiun Bedono. Untuk menuju Bedono, kereta harus melalui jalur menanjak. Inilah uniknya kereta uap di Ambarawa. Rel yang menanjak dilalui tanpa hambatan, karena lokomotif dilengkapi gerigi yang mencengkeram erat rel, sehingga tanjakan dengan mudah dilalui. Penumpang pun terkagum-kagum dengan kemampuan kereta uap ini. Meski lokomotif sudah berusia tua dan berjalan lambat, namun tanjakan dilalui kereta uap dengan bahan bakar kayu jati ini dengan mudah.

Namanya kereta uap, kereta selalu berhenti untuk mengisi air guna memanasi ketel uap. Ini pun terjadi, ketika kereta selesai menanjak dengan geriginya, kereta pun berhenti untuk mengisi air. Petugas dengan dibantu alat pompa menyedot air di pematang sawah untuk memanasi ketel. Peserta Mesastila Challenge terus berlari melewati lokomotif yang sedang mengisi air itu. Mereka berlari di sisi kiri dan kanan rel kereta. Para sponsor, panitia dan awak media bertepuk tangan memberikan semangat kepada pelari yang penuh cucuran keringat itu.

Sayang, perjalanan dengan kereta uap untuk menyaksikan peserta Mesastila Challenge itu tak bisa berlanjut sampai Stasiun Bedono karena kereta mogok dan harus kembali ke Stasiun Ambarawa. Terpaksa penumpang turun dari gerbong dan berjalan kaki menyusuri pematang sawah untuk menuju jalan raya dan berganti angkutan menggunakan bus.

Sandiaga Uno pun menyayangkan mogoknya kereta tersebut. Dia pernah mengusulkan agar pengelolaan kereta wisata itu diserahkan kepada pihak swasta. Menurut Sandiaga, keberadaan kereta uap sangat unik dan ini bisa "dijual" untuk pariwisata sehingga memajukan perekonomian desa-desa yang dilalui kereta tersebut. "Sayang ya, padahal ini potensi yang luar biasa untuk dijual kepada wisman," katanya menanggapi kereta uap yang mogok itu.

Menurut Sandiaga, rute Mesastila Challenge Half Marathon 2012 sangat menantang. "Rutenya luar biasa dan cukup melelahkan," katanya.

Sementara General Manager Mesastila Resort, Bryan Hoare mengatakan di Mesastila Challenge ini semua peserta kumpul untuk satu tujuan yakni berlari. "Ada (dari kalangan) profesional, atlet, manager, general manager, staf, komunitas lari dan sebagainya. Semua jadi satu di sini karena berlari itu simple, keluarga juga bisa ikut," kata Bryan.

Bagi Mesastila Resort, acara Mesastila Challenge ini merupakan sebuah peristiwa yang menyatukan kebersamaan dengan mengombinasikan kekayaan alam Losari. "Bukan hanya Mesastila saja yang merasakan, tetapi juga pariwisata Jawa Tengah, apalagi menyongsong Visit Jateng 2013. Visi Mesastila adalah mengembangkan Desa Losari dan sekitarnya sehingga menarik wisatawan untuk datang," papar Bryan.

Bryan menambahkan, tahun ini, rute Mesastila Challenge Half Marathon melalui rel kereta, pematang sawah, kebun kopi. "Tahun depan, ada rute lebih menantang lagi," katanya tanpa mau menyebutkan rute seperti apa yang dimaksud.

Selanjutnya di akhir acara sebagai wujud kepedulian sosial, Sandiaga Uno atas nama Mesastila Challenge Half Marathon, Berlari untuk Berbagi dan Mesastila Resort menyerahkan bantuan kepada Paguyuban "Eyang Mas Ayu" yang diprakarsai oleh Trihapsari, Kepala Desa Losari, Magelang, Jateng. Paguyuban ini bermula dari perkumpulan ibu-ibu rumah tangga Desa Losari yang dilatih membuat batik tulis dan batik cap di Balai Desa yang kemudian menjadi mandiri sebagai paguyuban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau