Cintailah Tenun Toraja Sebelum Punah

Kompas.com - 10/10/2012, 18:34 WIB

KOMPAS.com - Erni Pongpadati (40) meluruskan kakinya sehingga telapaknya menjejak balok kayu yang diletakkan di bawah alat tenun. Jejakan itu membuat benang-benang tenun berwarna biru, krem, kuning, dan merah itu menegang. Dengan cekatan tangannya memasukkan bilah kayu yang ”membawa” untaian benang saling menelisik, dan sreett... ketika ditarik, jalinan itu membentuk kain tenun yang makin lama makin panjang.

Teknik menenun yang dipraktikkan Erni yang berasal dari Desa Sad’an Malimbong Tobarana, Kabupaten Toraja Utara, itu menghasilkan kain jenis paramba, kain yang dipenuhi dengan garis-garis warna-warni yang cerah.

Di sebelahnya, Yeni Bulo (36), menenun dengan cara yang lebih rumit. Motif yang ditenunnya tercetak di balik kain, mirip teknik menenun songket. Ini adalah teknik paruki, yang menurut Yeni lebih sulit.

Ketika menenun di teras Museum Tekstil Jakarta, puluhan siswa sekolah dasar mengelilinginya dengan pandangan penuh takjub. Puluhan mata anak-anak itu menatap lekat ke arah jari-jari tangan Erni yang demikian lincah memasuk-masukkan bilah kayu di antara benang, sekaligus menggerak-gerakkan kakinya.

”Nah lihat kan, susah sekali membuat satu lembar kain seperti yang dipajang di museum itu. Bisa berminggu-minggu membuatnya,” kata ibu guru yang memandu para siswa itu menyaksikan pameran kain tenun Toraja ”Untannun Kameloan”, 19 September-14 Oktober.

Pameran yang merupakan kerja sama Yayasan Toraja Melo dan Museum Tekstil Jakarta, ini memamerkan aneka kain tenun yang berasal dari Kabupaten Toraja, Mamasa, Mamuju, dan Rongkong.

Makin langka
Keterampilan menenun yang diperagakan Erni dan Yeni makin sulit ditemui di antara perempuan Toraja, meskipun sebetulnya wilayah ini memiliki tradisi menenun secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tengoklah misalnya sebuah koleksi langka berupa kain tenun berwarna putih yang sudah usang dimakan usia, yang memiliki untaian ujung benang yang berbentuk kepang. ”Ini adalah contoh kerudung yang digunakan perempuan Toraja di masa lalu ketika berkabung karena kematian suaminya,” kata Dinny Jusuf, Ketua Yayasan Toraja Melo, yang sejumlah koleksi kain tenunnya dipamerkan di museum ini.

Kain pote lullung ini bermotif sederhana, dan di ujung kain menjuntailah pintalan-pintalan benang yang ditenun kepang atau mangka’bi. Ada juga kain polos yang jika diperhatikan dengan teliti memiliki tenunan ”tersembunyi” –saking halusnya– yang disebut pa’bunga bunga (lungsi).

Seberapa sulitnya membuat mangka’bi, puluhan pengunjung museum sore itu bisa merasakannya. Mereka mengikuti pelatihan membuat teknik kepang toraja yang diajarkan Keiko Kusakabe, ahli tenun Sulawesi asal Jepang.

Teknik kepang bermanfaat untuk berbagai kegunaan dalam proses menenun. Namun dalam kriya modern, seperti pembuatan tas misalnya, teknik kepang biasanya digunakan untuk bagian penutup tas, juga pada selempangnya. Pembuatannya tidak saja mengoptimalkan kelima jari tangan penenun, tapi juga jempol kaki!

Sayangnya, keterampilan menenun dengan berbagai teknik itu perlahan mulai punah. Sebagai contoh, teknik menenun dengan menggunakan kartu berbentuk segi empat –kartu bisa terbuat dari gading atau tulang, yang ujungnya dilubangi sebagai tempat keluar masuknya benang yang berwarna-warni– yang merupakan teknik menenun yang sangat tua di dunia. Saat ini, teknik seperti itu hanya bisa ditemukan di Mamasa, Sulawesi Barat.

Bayangkan, untuk seutas ikat kepala ukuran 3 cm x 164 cm misalnya, dibutuhkan pengerjaan dengan menggunakan sekitar 28 kartu yang dibolak-balik mengikuti irama jari penenun sehingga menghasilkan rajutan yang sangat rapat, dengan motif yang kompleks. Pembuatannya pun membutuhkan waktu lama.

”Penenun yang masih bisa melakukan teknik kartu sudah langka, mungkin di Mamasa tidak sampai belasan orang. Bahkan di Sa’dan, Toraja Utara, sudah musnah sama sekali,” kata Dinny.

Suporter tenun
Dari ujung barat sampai ujung timur Nusantara, sejumlah provinsi di Indonesia sebetulnya memiliki tradisi menenun dengan keunikan masing-masing, yang diturunkan lintas generasi. Namun kenyataannya, tradisi itu mulai menghilang hampir di semua wilayah.

Ketika masyarakat Indonesia berhasil dibangkitkan dengan gerakan mencintai batik, sudah waktunya kampanye serupa juga diterapkan pada tenun. ”Pendekatannya harus dua arah, baik dari para suporter tenun maupun masyarakatnya. Contoh yang paling bagus adalah industri kain sutra di Thailand yang didukung dengan program one village one product, dan didukung penuh oleh raja dan ratunya,” kata Dinny.

Yang dimaksud ”suporter tenun” di sini adalah pihak-pihak yang menggerakkan kecintaan pada kain tenun. Mereka bisa masyarakat biasa, pengumpul kain tenun, organisasi pengadaan produk tenun, perusahaan, sampai pemerintah. Kampanye yang bisa dilakukan mulai dari edukasi, talk show, pengetahuan tentang produk, sampai peragaan mode.

Intinya, cepatlah bergerak atau kita kehilangan sebuah warisan luhur. 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau