Nasib kedelai bagai anak tiri, di tengah upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempertahankan produksi pertanian tanaman pangan yang terus meningkat, khususnya fokus pada padi. Produksi padi mencapai sekitar 10,1 juta ton, sangat kontras dengan produksi kedelai yang baru sampai 120.000 ton per tahun 2011.
Namun, petani kedelai berterima kasih saat harga kedelai impor melonjak jadi Rp 8.000 per kilogram (kg). Segera saja terjadi hiruk-pikuk. Banyak pihak disadarkan, kedelai juga penting.
”Perlu ada komitmen tinggi dari pemerintah supaya kedelai menjadi pilihan komoditas tanaman bagi petani,” kata Ketua Forum Tempe Indonesia Jateng Siti Hermina Bintari, pada diskusi bertemakan ”Swasembada Kedelai 2014, Mungkinkah?” yang digelar Kompas Perwakilan Jateng di Semarang, pertengahan Agustus 2012.
Selain Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, diskusi juga dihadiri, antara lain, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Jateng Aris Budiono, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng Ihwan Sudrajat, serta pakar dan peneliti dari Universitas Diponegoro, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, dan Dewan Riset Daerah Provinsi Jateng. Ada juga wakil dari Kelompok Tani Kabul Lestari Panunggalan, Pulo Kulon, Kabupaten Grobogan.
Hermina menegaskan, untuk mewujudkan kedelai menjadi pilihan petani perlu komitmen tinggi dan dukungan peranti lain, seperti jaminan harga, ketersediaan benih yang unggul, serta subsidi bagi petani. ”Kepedulian dengan komitmen ini harus dari pemerintah pusat supaya pemerintah daerah mengikutinya,” paparnya.
Ketua Dewan Riset Daerah Jateng Daniel D Kameo melukiskan kisruh kedelai ini ibarat petuah dari tetua di Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Orang tua di NTT mengatakan jangan makan yang tak kamu produksi, kecuali kamu punya uang,” paparnya. Kisruh terjadi karena tingkat konsumsi tempe di masyarakat, khususnya di Jawa, boleh dibilang tinggi. Setidaknya perajin tempe dan tahu membutuhkan sekitar 120.000 ton kedelai untuk mendukung produksi setahun. Jatah ini pun terserap untuk industri kecap di Jateng yang sedikitnya membutuhkan bahan baku 500.000 ton kedelai.
Oleh karena itu, tidak heran jika stok kedelai menipis, harga tempe yang hanya Rp 2.000 per potong mendadak menjadi Rp 2.500 per potong. Potongan tempe pun kian kecil. Gejolak pun terjadi.
Bicara soal swasembada kedelai, Ihwan Sudrajat berpendapat, jika ingin swasembada kedelai tercapai, pemerintah harus berani menghentikan impor kedelai sebesar 1,7 ton hingga 2 juta ton itu. Jika impor dihentikan, petani akan berlomba-lomba menanam kedelai. Karena ketika stok kedelai kurang, harga otomatis naik mengikuti permintaan yang tinggi.
Sebenarnya, bagi petani dengan harga kedelai paling rendah Rp 5.500 per kg, mereka akan sukarela menanam kedelai. ”Komitmen stop impor harus konsisten. Jangan sampai nanti kedelai harga rendah terus terlena lagi, kebijakan pun berubah lagi,” kata Ihwan.
Soal potensi tanaman kedelai di Jateng, peluang itu juga terbuka. Dari 35 kabupaten/kota, kedelai saat ini ditanam di 15 kabupaten, dengan sentra kedelai di Kabupaten Grobogan, Banyumas, dan Wonogiri, menyusul Demak, Kendal, Boyolali, Rembang, Sukoharjo, Purworejo, Blora, Kebumen, Brebes, Klaten, Pati, dan Cilacap.
Sejauh ini, menurut Aris Budiono, kendala dalam pertanian kedelai, produksinya masih rendah, yakni rata-rata 1,5 ton kedelai per hektar. Walaupun di Banyumas pernah berhasil hingga Rp 2 ton per hektar. Begitu juga luas lahan tanaman kedelai, rata-rata hanya 100.000 hektar per tahun, jauh dibandingkan dengan lahan padi yang mencapai 1,7 juta hektar per tahun.
”Dengan produksi 1,5 ton per hektar, kalau harganya minimal Rp 6.500/kg, petani sangat berminat menanam karena dengan harga Rp 5.500/kg saja, biaya produksi mereka sudah kembali,” kata Aris.
Soal keberhasilan produksi, Kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan, Pulo Kulon, Grobogan, sudah membuktikan. Benih kedelai Grobogan yang dirilis sejak 28 Februari 2008 tidak diragukan lagi kemampuannya karena memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Apalagi jika dibudidayakan dengan teknologi yang tepat.
”Tanaman ini umurnya pendek, 76 hari, bisa menghasilkan kedelai 2,7 ton per hektar. Jika cuaca bagus, bisa menghasilkan 3,4 ton per hektar,” papar Adi Widjaja, anggota kelompok tani.
Sayangnya, hingga kini, kedelai varietas Grobogan hanya dikembangkan di Grobogan dan beberapa daerah di Jateng dan sekitarnya. Benih kedelai ini pun hanya dijual antarpetani. Pemerintah belum peduli, bahkan benih kedelai unggulan ini secara resmi tidak boleh dijual ke pasaran, kecuali benih kedelai berlabel produksi pabrikan.
Mendengar kisah sukses petani di Grobogan, ahli teknologi pangan Unika Soegijapranata Semarang, Budi Widianarko, mengaku kaget. Ia tidak menduga ada jenis kedelai Grobogan. Ia menegaskan semestinya, varietas kedelai Grobogan jadi benih unggulan yang diambil alih pemerintah. ”Saya bisa memahami kalau varietas kedelai Grobogan seperti masih tersimpan. Karena kita kurang menghargai karya bangsa sendiri,” kata Budi.