DAMASKUS, KOMPAS.com - Pasukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad diduga telah menggunakan bom tandan untuk melumpuhkan pasukan perlawanan oposisi, yang mengancam keselamatan warga sipil dalam krisis Suriah. Bom ini dilarang di lebih dari 100 negara karena termasuk kategori senjata pemusnah massal.
Kepastian tentang penggunaan bom-bom tandan (cluster bombs) disampaikan Human Rights Watch (HRW) yang berbasis di AS, Minggu (14/1). Bom-bom tersebut diketahui buatan Rusia, tetapi belum diketahui pasti bagaimana pasukan Suriah bisa mendapatkannya.
Selama ini Moskwa menampik semua tudingan yang menyebutkan Rusia aktif memasok senjata untuk rezim Assad.
Bom tandan berbentuk bom induk yang berisi bom-bom kecil. Saat bom ini dijatuhkan dari udara, bom induk itu membuka dan bom-bom kecil di dalamnya tersebar, menimbulkan kehancuran skala besar di wilayah yang luas. Bom tandan didesain untuk merusak jalan, jalur transmisi listrik, mengantarkan senjata kimia atau biologi, dan untuk menghancurkan ranjau darat.
Bom ini juga dirancang untuk membunuh orang sebanyak mungkin. HRW mengatakan, penggunaan bom tandan di daerah permukiman penduduk sipil termasuk kejahatan perang.
Bom-bom kecil itu juga akan masuk ke dalam tanah dan bisa melukai atau membunuh siapa saja, bahkan setelah perang selesai. ”Suriah tampak mengabaikan penduduk sipil dalam serangan udaranya, dan kini termasuk menjatuhkan bom-bom tandan yang mematikan ke daerah padat penduduk,” kata Direktur HRW, Steve Goose.
Bukti kuat
HRW mengatakan, mereka memiliki bukti kuat yang memperlihatkan rezim Assad menggunakan bom tandan ini untuk menghabisi oposisi atau rakyatnya sendiri.
Video yang dirilis para aktivis Suriah pada 9-12 Oktober menunjukkan sisa-sisa bom tandan ditemukan di dekat Maarat al- Numan, Tamanea, Taftanaz dan al-Tah. Bahkan juga ditemukan di Provinsi Homs, Aleppo, Lattakia, dan Damaskus.
HRW dalam videonya memperlihatkan sisa-sisa bom tandan berupa tabung bom seri RBK-250 dan fragmentasi bom AO-1SCh. Menurut kelompok penerbitan Jane’s, yang mengkhususkan diri di bidang militer, Suriah memiliki bom tandan tipe RBK-250/275 dan RBK-500. Semuanya buatan Uni Soviet.
HRW mengimbau Suriah agar menghentikan penggunaan bom tandan. ”Suriah harus segera menghentikan semua penggunaan senjata secara serampangan yang terus membunuh dan melukai warganya selama bertahun- tahun,” ujar Goose.
Laporan pengamat HAM menyebutkan, bom-bom itu dijatuhkan dari pesawat tempur dan helikopter. Sasaran utamanya dekat jalan raya utama utara-selatan yang terbentang di barat laut kota Maarat al-Numan. Pasukan oposisi Free Syrian Army (FSA) merebut kota itu, pekan lalu, memotong rute dari Damaskus ke Aleppo. Pasukan pemerintah kemudian mencoba merebut kembali wilayah itu.
Lebih dari 100 negara telah melarang penggunaan, penimbunan, transfer, atau penjualan senjata tersebut di bawah konvensi yang menjadi hukum internasional pada tahun 2010. Namun, Suriah belum menandatangani konvensi itu, begitu juga dengan Rusia, China, dan AS.
Sementara itu, Senin, otoritas Turki kembali memerintahkan pesawat yang terbang menuju Suriah mendarat untuk menjalani pemeriksaan muatan. Pesawat asal Armenia yang sedang menuju Aleppo itu dipaksa mendarat di kota Ezurum, Turki timur. Sehari sebelumnya, kedua negara menutup wilayah udara masing-masing untuk penerbangan satu sama lain. (AFP/AP/REUTERS/CAL)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang