Inilah 10 Cara Atasi Anak "Picky Eaters"

Kompas.com - 16/10/2012, 12:10 WIB

KOMPAS.com - Kesulitan makan pada anak balita merupakan hal yang cukup lazim. Salah satu problem yang paling sering ditemui adalah kebiasaan pilih-pilih makanan atau biasa disebut picky eater. Kebiasaan ini banyak dialami oleh anak balita ketika mereka mulai beralih mengonsumsi makanan cair ke padat.

Banyak orang tua kerepotan ketika mereka menemukan anaknya mogok makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Meski masalah ini kadang membuat frustasi, tetapi demi kebaikan dan masa depan buah hati, hal ini tentu tidak boleh dibiarkan oleh para orang tua. 

Ada beragam cara dan strategi untuk mengatasi dan menghadapi anak-anak picky eaters. Para ahli kesehatan anak dari Mayo Clinic memiliki beberapa saran penting beserta strategi untuk para orang tua. Melalui 10 langkah berikut ini, para orang tua diharapkan tetap bersemangat untuk membuat anak-anaknya memeroleh kecukupan gizi yang dibutuhkan dalam masa pertumbuhan. 

1: Hargai nafsu makan anak Anda

Jika anak Anda tidak merasa lapar, jangan paksa mereka untuk makan atau menyantap camilan. Jangan menyuapi atau memaksa anak untuk menelan makanan tertentu atau menyuruh mereka menghabiskan makanan. Hal ini hanya akan memicu suatu "pertarungan batin" anak terhadap makanan. Selain itu, anak Anda juga mungkin akan menjadikan momen atau jadwal makan dengan hal yang mencemaskan atau membuat mereka frustasi. Biasakan memberi porsi makanan yang sedikit guna mencegah anak merasa kelebihan. Kebiasaan ini juga memberikan dia kesempatan menambah porsi secara mandiri.

2: Makanlah tepat waktu

Hidangkan makanan atau camilan (snack)  pada saat atau jam yang sama setiap hari. Hidangkan jus atau susu bersama makanan, dan tawarkan mereka air putih di antara jadwal makan dan snack.  Jangan membebaskan anak untuk minum jus atau susu sepanjang hari, karena hal itu justru dapat mengganggu hasrat mereka untuk makan.

3: Lebih sabar dengan makanan baru

Anak-anak balita sering kali menyentuh dan membaui makanan baru. Mereka kerap memasukkan potongan kecil makanan baru pada mulut kemudian memuntahkannya kembali. Anak anda mungkin perlu terus berulang kali ditunjukkan makanan baru sebelum ia mencoba menggigitnya untuk pertama kali.  Bangkitkan dan rangsanglah minat anak Anda pada suatu jenis makanan  dengan  membicarakan tentang warna, bentuk , aroma dan tekstur makanan — bukannya tentang rasanya yang enak. Hidangkan makanan baru tersebut bersama makanan favorit mereka.

4:  Hidangkan dengan "Fun"

Banyak ibu mungkin bingung bagaimana cara menghidangkan brokoli atau sayuran yang berdaun hijau.  Supaya lebih menarik minat makan anak, sajikan sayuran tersebut dengan celupan atau saus favorit.  Potonglah makanan menjadi berbagai bentuk yang menarik dan menggugah selera dengan alat atau cetakan khusus.  Coba pula untuk menawarkan menu sarapan untuk hidangan makan malam anak. Sajikanlah beragam jenis makanan dengan warna-warna yang cerah.

5: Libatkan mereka

Pada saat berbelanja di supermarket, mintalah bantuan anak Anda untuk memilih buah-buahan, sayuran dan makanan sehat lainnya. Jangan membeli makanan yang tidak perlu, dan Anda sendiri tidak ingin anak Anda mengonsumsinya. Sesampainya di rumah, ajaklah anak Anda untuk membantu menyiapkan sayuran saat memasak atau mengolahnya dan saat menyiapkannya di meja makan.

6: Tunjukkan contoh yang baik

Jika Anda biasa menyantap beragam jenis makanan sehat, maka anak-anak pun cenderung akan mengikuti kebiasaan Anda.

7: Selalu kreatif

Berupaya untuk selalu kreatif dalam menghidangkan makanan. Tambahkan potongan brokoli  atau paprika hijau ke dalam saus spaghetti, bubuhi sereal  dengan potongan buah, atau campurkan parutan zucchini dan wortel dalam casserole dan sup.

8 : Minimalisir distraksi/pengalihan

Matikan televisi, gadget atau atau alat elektronik lainnya selama waktu makan.  Ini akan membantu anak Anda lebih fokus saat menyantap makanan. Ingatlah bahwa iklan  televisi juga dapat membentuk pola makan yang buruk pada anak karena merangsang mereka untuk menyantap makanan-makan manis dan berkalori tinggi.

9: Jangan tawarkan dessert sebagai penghargaan

Menahan dessert memberikan suatu sinyal bahwa  dessert  adalah makanan terbaik, yang mungkin hanya akan memincu hasrat anak Anda untuk mengudap makanan manis. Anda boleh memilih satu atau dua malam dalam sepekan sebagai dessert nights, dan menunda dessert selama sepakan kemudian —  atau menata kembali menu dessert menjadi menu buah-buahan, yogurt atau makanan sehat lainnya.

10: Jangan  "memasak dadakan"

Menyediakan menu lain untuk anak anda yang terpisah setelah mereka menolak hidangan pertama justru akan memicu kebiasaan pilih-pilih makanan. Dorong anak Anda untuk tetap bertahan di meja makan bersama hidangan yang telah dipersiapkan — bahkah  bila mereka  tetap tidak mau makan. Tetaplah menyediakan pilihan makanan yang sehat hingga mereka akhrnya menjadi terbiasa dengan lebih menyukainya.

Jika Anda khawatir kebiasaan pilih-pilih makanan ini akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak Anda, berkonsultasilah dengan dokter anak Anda. Selain itu, pertimbangkan untuk selalu merekam atau mencatat jenis dan jumlah asupan makanan anak selama tiga hari.

Gambaran secara menyeluruh akan membantu meredam kecemasan Anda. Data makanan ini dapat membantu dokter anak menentukan kemungkinan adanya gangguan atau penyakit. Seiring waktu berjalan, ingatlah bahwa kebiasaan makan anak anda tidak akan berubah secara drastis dalam waktu singkat. Tetapi sebuah langkah kecil yang Anda lakukan setiap hari dapat membantu membantuk pola makan yang sehat bagi anak Anda seumur hidupnya.

Semoga berhasil!

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau