Basuki: Rusunawa Murah, Geser Si Miskin ke Dalam Kota

Kompas.com - 18/10/2012, 13:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mulai membangun apartemen untuk kelas menengah ke bawah. Hal itu untuk mengoptimalkan penggunaan kantor pemerintahan provinsi demi kepentingan rakyat.

Langkah ini dianggap sebagai salah satu cara mengurai masalah kemacetan di DKI yang umumnya terjadi karena meledaknya masyarakat urban dari pinggiran Ibu Kota yang beraktivitas di tengah kota.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjelaskan bahwa pembangunan kota Jakarta akan mengedepankan kebutuhan warga miskin. Sementara masyarakat yang tergolong kuat secara finansial akan digeser domisilinya ke pinggiran kota Jakarta.

Menurutnya, masalah kemacetan terjadi karena banyak karyawan yang bekerja di Jakarta bertempat tinggal di daerah pinggiran Jakarta atau daerah tetangga sekitar Jakarta. Salah satu alasannya adalah karena tingginya harga sewa tempat tinggal di Jakarta yang tak sebanding dengan penghasilan setiap bulannya.

"Orang sewa kos juga mahal di sini. Makanya, mereka cari yang di pinggiran Jakarta karena masih murah. Ini yang mengakibatkan kemacetan terjadi. Makanya, kita bangun rumah sewa, kita ajak mereka tinggal di rumah sewa yang murah di tengah Jakarta sehingga macet akan berkurang," kata Basuki di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Pria yang akrab disapa Ahok ini menambahkan, inti pemecahan masalah kemacetan adalah sebanyak mungkin membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dekat dengan tempat kerja karyawan. Pembangunan pasar tradisional juga harus diwujudkan di lokasi yang berdekatan dengan rusunawa tersebut sehingga pergerakan masyarakat yang menggunakan kendaraan bermotor dapat ditekan.

"Harusnya warga yang gajinya pas-pasan itu tinggal di dalam kota. Lalu orang kaya harusnya tinggal di luar kota karena mereka punya sopir, mobil, dan duit. Dengan begitu, kemacetan bisa berkurang banyak," ujarnya.

Menurutnya, pembangunan apartemen murah berbentuk rusunawa tersebut tetap mengikuti peraturan perundang-undangan yang telah ada. Pembangunannya pun dibangun di atas lahan atau gedung yang sudah menjadi aset Pemprov DKI Jakarta.

Rencananya pasar-pasar tradisional di Jakarta merupakan lokasi yang tepat untuk dibangun rusunawa di atas bangunan pasar yang sudah ada.

"Nanti kita bikin peraturannya untuk membangun perumahan ini. Yang pasti pembagiannya harus diundi pakai nomor urut," tuturnya.

Berita terkait dapat diikuti di topik: 100 HARI JOKOWI-BASUKI.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau