Jokowi: Yang Dulu-dulu Jangan Ditanyakan ke Saya

Kompas.com - 18/10/2012, 15:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kondisi Rumah Susun Sementara Sewa (Rusunawa) Marunda, Jakarta Utara, terlihat tidak terawat. Banyak jendela tanpa kaca. Padahal, rusunawa itu sudah berdiri sejak 2007.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pun mengaku tidak mengerti kenapa bisa sampai tidak terawat seperti itu bangunannya.

"Ya enggak ngerti. Dulu yang bangun tuh siapa di sini, jangan tanya saya. Saya ini hanya menyelesaikan masalah-masalah yang ada sekarang. Kalau yang sudah dulu, saya enggak mau bicara karena memang barangnya sudah ada kayak begini," kata Jokowi di Rusunawa Marunda, Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Menurut Jokowi, yang diperlukan dalam sebuah pemerintahan itu adalah manajemen kontrol.

"Sekarang, kekurangannya itu di dalam sebuah pemerintahan manajemen kontrolnya lemah, ya jadinya seperti ini," kata Jokowi.

Namun, Jokowi tidak mau berprasangka bahwa pihak pemerintah daerah selama ini tidak mengurusi rusunawa tersebut.

"Saya enggak mikirlah itu dari pusat atau dari pemda. Intinya, semuanya mau saya perbaikilah. Saya tidak mau melihat ke belakang lagi, saya melihat ke depan. Saya enggak mau ngejelek-jelekin, saya mau memperbaiki. Sudah itu saja," kata Jokowi.

Setelah Jokowi meninjau rusunawa itu, ia menemukan banyak sekali permasalahan-permasalahan simpel yang selalu terjadi di rusunawa itu.

"Jendela-jendelanya sudah banyak yang copot, pintunya copot karena enggak dipakai. Wah banyak sekali," ujar Jokowi.

Jokowi, yang datang meninjau didampingi oleh Kepala Dinas Perumahan DKI Novizal dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Ery Basworo, mengimbau kepada dinas yang terkait untuk segera memperbaiki rusunawa itu. Tampak beberapa kali Jokowi berbincang dengan Novizal dalam tinjauan itu.

"Oleh sebab itu, saya sudah perintahkan ini segera semuanya diperbaiki, kemudian masyarakat yang berpenghasilan rendah dapat segera masuk sini," kata Jokowi.

Masyarakat yang dapat menempati rusunawa pun, dikatakan oleh Jokowi, sebaiknya diberikan subsidi penuh.

"Segera masyarakat nempatin di sini, kalau perlu diberikan subsidi penuh sehingga semuanya berbondong-bondong ke sini. Entah digratisin dulu tiga tahun atau lima tahun enggak apa-apa, yang penting penuh dulu daripada itu coba uang negara, uang rakyat, tapi pintunya enggak ada, catnya mengelupas semua, udah lima tahun enggak dipakai," papar Jokowi.

Sementara itu, saat ditanyakan terkait anggaran yang akan dipergunakan untuk pembiayaan perbaikan Rusunawa Marunda, Jokowi mengatakan, perbaikan itu hanya membutuhkan dana yang tidak besar.

"Kalau hanya untuk mengecat ya murah, hanya perbaikan yang bocor-bocor itu murah. Memang yang diperlukan adalah hanya controlling," ujar Jokowi.

Berita terkait dapat diikuti di topik: 100 HARI JOKOWI-BASUKI

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau