Ribuan Ikan Mati, Petani Rugi Ratusan Juta

Kompas.com - 22/10/2012, 14:46 WIB

BOYOLALI, KOMPAS.com - Ribuan ikan mati di Waduk Cengklik, Ngemplak, Boyolali (22/10/2012). Hal ini membuat petani ikan keramba rugi hingga ratusan juta rupiah.

Para petani ikan menduga perubahan cuaca dan banyaknya limbah di air waduk, membuat ikan mati. Salah satunya yang diungkapkan Sukiman, warga Desa Sobokerto. Ia mengatakan, hampir semua ikan di karamba mati. Dan diperkirakan jumlah ikan milik petani mati hingga 1 ton ikan. Tragisnya, ikan-ikan tersebut sudah siap panen.

"Mungkin karena perubahan cuaca dan kualitas air yang jelek. Rata-rata satu ton ikan milik petani mati," kata Sukiman.

Menurutnya, cuaca panas yang ekstrem dan tiba-tiba mendung serta tidak menentunya curah hujan membuat kandungan oksigen dalam air berkurang dan menyebabkan ikan mati.

Dia menambahkan, matinya ikan di wilayahnya sudah berlangsung sejak tiga hari yang lalu. Ribuan ikan yang mati tersebut juga menimbulkan bau yang tidak sedap. Para petani berencana akan membakar ikan tersebut apabila sudah mengering agar tidak menimbulkan bau tidak busuk.

Akibat banyaknya ikan yang mati, petani merugi hingga ratusan juta. Mirisnya, banyak dari mereka menanggung hutang pakan ikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau