Idul adha 2012

Masukan Kecil Penghuni Gubuk di Bantaran Kali Ciliwung...

Kompas.com - 26/10/2012, 15:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Antrean panjang menunggu pembagian jatah daging kurban adalah pemandangan biasa di hari raya Idul Adha dan beberapa hari berikutnya. Yang berpunya membagikan sedekah, yang papa menanti dengan penuh harapan. Namun, tidak semua kaum papa tertarik bergabung dalam antrean. Ada juga mereka yang benar-benar tergolong kaum papa enggan terlibat dalam kebiasaan tersebut.

"Pernah sekali ikut teman ke pembagian di Kebon Jeruk. Semuanya berdesak-desakan enggak mau ngalah. Yah, saya mending pulang aja, masuk kali dan ngangkut karung barang bekas," kata Buyung (33), penghuni gubuk bantaran Kali Ciliwung di dekat Pintu Air Manggarai, Jakarta, saat ditemui Kompas.com, Jumat (26/10/2012).

Bersama lima kepala keluarga lain yang hidup di balik tembok pembatas Kali Ciliwung, Buyung dan istrinya, Neneng (52); serta anak mereka, Nurlela (6); sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Gubuk-gubuk kecil berukuran 1 meter x 3 meter yang menempel di tembok pembatas jalan menjadi tempat hunian mereka. Kali yang terletak tepat di bawah deretan gubuk berbahan sederhana itu menjadi tempat mereka mengais rezeki.

Dari sampah yang dibuang warga ke Kali Ciliwung, mereka mendapatkan penghidupan dan nafkah untuk mengongkosi kehidupan keluarga. "Saya yang pertama tinggal di sini. Dulu masih banyak pohon bambu dan ceri di sini, makanya orang masih takut ke sini," kata Roni (53), perantau asal Lampung.

Jumlah keluarga yang menghuni bantaran tersebut bertambah seiring pembangunan tembok pembatas sepanjang Jalan Sultan Agung. Yang terbaru adalah keluarga muda asal Muara Enim, Sumatera Selatan, yang menempati lokasi di samping bak penampungan air PAM.

"Di sini memang terhitung baru. Yang lebih banyak di sekitar Jembatan Pasar Rumput sana," ungkap Roni.

Mereka adalah warga yang benar-benar terhitung tak berpunya. Lahan, rumah, dan harta benda lain tak mereka miliki. Meski demikian, mereka enggan berpangku tangan menunggu rezeki yang diberikan orang lain, apalagi sampai berebutan sedekah.

"Kami yang di sini nggak pernah ikut ngantri kayak gitu. Malas ikut berdesak-desakan untuk sekantong daging. Mendingan kerja, dapat duit buat beli daging," ujar Uti (30), penghuni bantaran lainnya.

Buyung dan Roni juga memiliki pandangan sendiri tentang pembagian hewan kurban kepada kaum miskin. Buyung mengisahkan, ia tertarik dengan cara yang dilakukan warga mampu yang tinggal di Jalan Swadaya, Tebet.

"Dia keliling dengan mobilnya ke jalan-jalan gede. Begitu ketemu orang yang kelihatan miskin di pinggir jalan, dia langsung bagi-bagi daging kurban, terus jalan lagi ke tempat lain. Saya udah dua kali kebagian," tutur pria asal Minang itu.

Pandangan senada diungkapkan Roni. Menurut ayah lima anak dan kakek tiga cucu itu, orang-orang tak mampu gampang ditemui di jalan atau di lokasi-lokasi pemukiman kumuh. Jika ingin bersedekah, maka mereka yang tergolong mampu bisa saja berkeliling ke jalan-jalan atau permukiman kumuh dan membagikan secara langsung.

"Yang sekarang sih, orang kaya lebih suka dipandang sama tetangganya. Kalau bisa membagi dan lebih banyak orang yang ngantri di depan rumah, terus disorot kamera TV," ujar Roni.

Ia mengaku, sejak menjalani profesi sebagai pemulung di bantaran kali tersebut pada 1987, ia belum sekali pun mengikuti antrean pembagian daging kurban. Meski demikian, mereka pernah mendapat jatah yang disediakan Masjid Sunda Kelapa, Menteng.

"Dulu sih ada yang nganterin pakai motor kemari. Tapi beberapa tahun terakhir udah nggak ada lagi," pungkas Roni.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau