Kisah SMKN 2 Surakarta Mengembangkan Mobil Esemka

Kompas.com - 27/10/2012, 09:36 WIB

Oleh Ester Lince Napitupulu dan Sri Rejeki

KOMPAS.com - Mulai dengan perakitan mobil program Direktorat SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, SMKN 2 Surakarta yang memiliki program keahlian otomotif terpilih untuk mengembangkan mobil Esemka pada 2008. Sekolah yang berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional itu kini digandeng PT Solo Manufaktur Kreasi untuk mengembangkan prototipe mobil Esemka yang siap diproduksi massal.

Mobil jenis sport utility vehicle (SUV) Esemka 1.500 cc karya siswa SMKN 2 sudah dijadikan mobil dinas di masa Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi). Rakitan mobil Esemka generasi pertama dikerjakan siswa SMKN 2, SMKN 5, dan SMK Warga Surakarta di bawah bimbingan Sukiyat, pemilik Bengkel Kiat Motor, yang menjadi mentor siswa SMK.

Keinginan mewujudkan mobil Esemka menjadi produk massal yang bisa bersaing di pasar dalam negeri mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Solo. Hal itu ditandai dengan pembentukan PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) oleh sejumlah pengusaha dan gabungan koperasi SMK di Solo dan sekitarnya.

”Dari merakit, kita bisa belajar membuat beberapa komponen. Ini peluang buat siswa SMK mengembangkan usaha,” kata Dwi Budhi Martono, guru otomotif SMKN 2 Surakarta.

Menurut Martono, pembuatan mobil Esemka juga bermitra dengan produsen dari China. Namun, komponen lokal diperbanyak. Mobil Esemka yang siap dipasarkan, kandungan lokal mencapai 60 persen.

Joko Sutrisno, mantan Direktur SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mendukung hadirnya PT SMK. ”PT SMK sebagai industri. Adapun SMK-SMK melalui koperasi digandeng sebagai mitra. Demikian juga sejumlah usaha kecil menengah,” kata Joko.

Produksi massal mobil Esemka untuk mobil jenis SUV dan pick-up (minitruk) yang dikembangkan di banyak SMK, menurut Joko, siap dilaksanakan PT SMK. Proses perizinan masih diurus dari kepolisian, Kementerian Perhubungan, hingga Kementerian Perindustrian.

Martono mengatakan, di SMKN 2 tengah dikembangkan prototipe mobil Esemka SUV dan pick-up yang lebih baik dari yang pernah dirakit. Bersama Universitas Muhammadiyah Surakarta, sasis mobil Esemka didesain monocoque (kerangka dan bodi menjadi satu), lebih ringan, tetapi tetap kuat.

Minitruk yang hendak diproduksi massal berkapasitas 1.100 cc dan mampu mengangkat beban seberat 1 ton.

Martono menuturkan, sekolah ini bisa bermitra dengan sejumlah UKM di daerah lain sekitar Solo untuk membuat komponen-komponen mobil yang sudah bisa dilokalkan. Dalam bidang ini, selain siswa otomotif, bisa dilibatkan siswa mesin dan elektronika.

Program keahlian otomotif sampai saat ini tinggi peminatnya. Masyarakat melihat peluang kerja yang terbuka lebar, termasuk peluang wirausaha dalam jasa perawatan. ”Sekarang kami coba mengarahkan dalam proses produksi,” kata Martono.

Lulusan program keahlian otomotif SMKN 2 Surakarta saat ini diburu berbagai perusahaan otomotif. Mereka tersebar di Solo dan sekitarnya, di perusahaan besar otomotif, hingga di perusahaan pembuat berbagai komponen mobil.

Perakitan komputer

Tak hanya dikenal dengan program otomotif yang mencuatkan mobil Esemka ke tingkat nasional, SMKN 2 Surakarta juga dilibatkan dalam perakitan laptop, netbook, personal computer, dan proyektor LCD. Dalam waktu dekat, sekolah ini akan dilibatkan dalam perakitan komputer tablet.

Wakid Rusyanto, Kepala Kompetensi Teknik Komputer Jaringan (TKJ), mengatakan, produk netbook, personal computer, hingga proyektor LCD rakitan siswa SMKN 2 Surakarta sudah dikenal luas melalui pameran-pameran. Kini, SMKN 2 juga dikenal sebagai pusat pelatihan perakitan komputer.

Guru dan siswa dari sekolah lain, termasuk SMK teknologi informasi, biasanya tidak membeli yang sudah dirakit siswa. SMKN 2 merekomendasikan peserta untuk membeli komponen siap rakit dari vendor yang dikenal sekolah. Lalu, siswa dan guru dari sekolah lain ini belajar merakit sendiri di bawah bimbingan SMKN 2.

”Semakin banyak SMK lain yang bisa merakit komputer, kami senang. Kita tidak saling bersaing, tetapi saling berbagi supaya sama-sama maju,” kata Wakid.

Dalam program perakitan, siswa kelas X TKJ bertugas merakit. Adapun siswa kelas XI bertanggung jawab pada pengawasan kualitas, yakni saat instalasi dan pengecekan, sedangkan kelas XII pada pemeliharaan.

Komponen lokal

Sekolah ini juga mengajarkan perakitan CNC milling kepada siswa. Sekolah memulai dari perakitan, kemudian mengembangkannya dengan memasukkan komponen lokal.

Misalnya, dalam pembuatan mesin CNC bermerek Focus Esemka, komponen lokal bisa mencapai 60 persen. Mesin yang harga di pasaran Rp 600 juta bisa dibuat lebih murah sekitar Rp 200 juta (30 persen) dari harga jual di pasaran.

Menurut Martono, perakitan dengan memasukkan komponen-komponen yang bisa diproduksi lokal terus dikembangkan SMKN 2 Surakarta dalam bagian pendidikan berbasis produksi. Cara ini diyakini bisa menginspirasi siswa berinovasi dan mengembangkan industri komponen yang bisa dikerjakan di tingkat SMK dan UKM.

Selain teknik otomotif, permesinan, dan teknik komputer dan informatika yang mampu berkembang dalam skala industri, sekolah ini menguatkan pendidikan dalam program keahlian lain seperti teknik konstruksi kayu, teknik konstruksi batu dan beton, teknik gambar bangunan, teknik instalasi tenaga listrik, dan teknik audio video.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau