Skandal proyek hambalang

Hayono: Andi Bebani Demokrat dan SBY

Kompas.com - 01/11/2012, 11:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman berharap Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng bisa menyelesaikan dengan baik permasalahan yang tengah dihadapinya. Menurut Hayono, Andi harus segera menyelesaikan agar tidak terus membebani Partai Demokrat dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Harapan kita, Pak Andi dapat atasi sehingga tidak menjadi beban Partai Demokrat dan Presiden," kata Hayono, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (1/11/2012).

Hal itu dikatakan Hayono ketika dimintai tanggapan hasil audit investigasi tahap I Badan Pemeriksa Keuangan terkait proyek pembangunan sarana olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Hasil audit menyebutkan, Menpora melakukan pembiaran sehingga terjadi penyimpangan dalam proyek Hambalang. Andi juga diduga tidak mengendalikan dan mengawasi pengelolaan dan penggunaan keuangan negara.

Hayono mengatakan, pihaknya menunggu proses hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memastikan ada atau tidaknya keterlibatan Andi dalam dugaan korupsi proyek Hambalang. Kepastian dari KPK diperlukan dalam mengambil sikap di internal partai. Di Demokrat, Andi menjabat Sekretaris Dewan Pembina.

Hanya saja, Hayono mengingatkan publik bahwa temuan BPK baru indikasi dan belum tentu terbukti.

"Tapi, saya salut ke Pak Andi yang mengatakan secara moral ikut bertanggung jawab. Itu berimplikasi politik," ujar Hayono.

Seperti diberitakan, Andi membantah hasil audit BPK itu. Dia mengklaim tidak melakukan pembiaran. "Saya sebagai menteri telah menjalankan tugas sebaik-baiknya, termasuk pengawasan. Kalau ada penyimpangan, siapa pun itu harus kita proses secara hukum," kata Andi.

Menurut BPK, Andi diduga membiarkan Sekretaris Menpora ketika itu, Wafid Muharram, melaksanakan wewenang Menpora. Wafid menandatangani surat permohonan persetujuan kontrak tahun jamak tanpa memperoleh pendelegasian dari Andi. Tindakan Wafid itu diduga melanggar PMK 65/PMK.02/2012.

Selain itu, Andi juga diduga membiarkan Wafid menetapkan pemenang lelang konstruksi dengan nilai kontrak di atas Rp 50 miliar tanpa ada pendelegasian dari Andi.

Baca juga:
Andi Mallarangeng: Saya Tak Lakukan Pembiaran
Ada Nama Andi Mallarangeng dalam Audit Hambalang

Berita terkait dapat dikuti dalam topik:
Skandal Proyek Hambalang
Audit Investigasi Hambalang Diintervensi?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau