DKI Prioritaskan Atasi Kemacetan

Kompas.com - 02/11/2012, 03:07 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun jalan layang dan terowongan di perlintasan sebidang. Percepatan ini dilakukan untuk mengatasi kemacetan yang terjadi akibat adanya perlintasan kereta sebidang di beberapa wilayah di Jakarta.

Dalam kuliah umum di Universitas Trisakti , Jakarta, Kamis (1/11), Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menegaskan Pemprov DKI akan membangun 12 proyek infrastruktur berupa jalan layang dan terowongan di perlintasan sebidang.

Realisasi pembangunan proyek itu akan dilakukan secara bertahap. Hal ini dimaksudkan agar tidak memperparah kemacetan yang selama ini serta berdasarkan skala prioritas.

Basuki memperkirakan pembangunan proyek ini akan membutuhkan waktu selama dua tahun. Pihaknya berjanji akan memperhatikan rencana kerja pembangunan jalan layang dan terowongan ini agar tidak memperparah kemacetan lalu lintas.

”Pembangunannya akan diserahkan kepada mereka yang benar-benar memiliki kompetensi seperti para tenaga teknik sipil,” tuturnya.

Basuki berharap pembangunan jalan layang dan terowongan ini bisa meningkatkan jumlah pemberangkatan kereta listrik. Dengan demikian, akan lebih banyak warga yang tertarik naik kereta karena bisa melintas setiap tiga menit sekali.

”Kalau itu bisa terjadi, luar biasa. Kemacetan lalu lintas di Jakarta bisa berkurang karena jumlah kendaraan yang berlalu lintas berkurang,” katanya.

Belum sehat

DPRD DKI Jakarta meminta Pemprov DKI Jakarta memperjelas mekanisme pemberian hibah 1.000 unit bus sedang. Sebagian anggota DPRD menilai dua perusahaan yang disebut-sebut sebagai calon penerima hibah dalam kondisi belum sehat.

Seusai rapat Badan Anggaran yang membahas bidang perhubungan, Kamis, anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Aliman Aat, mengatakan harus ada kajian mendalam terhadap kondisi perusahaan penerima hibah, yaitu PT Ratax dan Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD).

”Kami menilai dua perusahaan itu belum sehat untuk menerima hibah. Harus dilakukan kajian dulu terhadap keduanya karena anggaran itu harus dipertanggungjawabkan,” katanya.

Sebagai informasi, Dinas Perhubungan DKI Jakarta berencana mengadakan 1.000 bus sedang sebagai pengganti kopaja, kopami, dan metromini. Apabila tidak dimungkinkan pemberian hibah melalui perusahaan swasta, Pemprov DKI Jakarta berencana menyalurkannya melalui badan usaha milik daerah (BUMD).

Menurut Aliman, harus ada kajian mengenai dampak pemberian hibah kepada pengelola angkutan umum lainnya. Dia menekankan perlunya sosialisasi kepada pengelola angkutan umum supaya di lapangan tidak terjadi gesekan yang kontraproduktif.

Jika hendak membentuk BUMD, lanjut Aliman, sarana pendukung pun harus disiapkan. ”Pembentukannya pun memakan waktu, bisa lebih kurang dua bulan. Kami perlu penjelasan yang lebih teknis dan terinci soal ini,” katanya.

Selain membahas mekanisme hibah 1.000 bus sedang, Badan Anggaran dan dinas perhubungan juga membahas dua program unggulan untuk mengatasi kemacetan. Program pertama adalah penambahan 450 armada bus transjakarta, program lainnya adalah pembangunan jalur bus transjakarta layang koridor XIII (Ciledug-Blok M).

Menurut Aliman, masih banyak kajian yang perlu dilakukan agar kedua program itu tidak memunculkan problem transportasi baru. ”Pembangunan koridor layang itu apakah tidak akan memperparah kemacetan di ruas Ciledug-Blok M?” ujarnya.

Dengan penambahan armada juga belum ada jaminan warga akan tertarik untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke bus transjakarta. ”Kami perlu penjelasan lebih konkret,” ujar Aliman.

Sudah dikaji

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan, kajian dan jalan keluar dari persoalan yang dikemukakan DPRD sudah ada.

”Kami sedang mempertimbangkan untung rugi dari dua perusahaan yang akan ditunjuk untuk menerima hibah. Kami memakai BUMD yang sudah ada dulu. Jadi tidak membuat badan yang baru, tinggal menambah penyertaan modal,” katanya.

Terkait armada bus transjakarta, penambahan diperlukan karena jumlah bus yang ada saat ini sudah tidak memadai lagi. Pristono mengatakan, pengadaan bus akan dipercepat sebanyak 450 bus agar bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Mengenai pembangunan Koridor XIII, menurut Pristono, kuartal 1 dan 2 tahun 2013 digunakan sepenuhnya untuk membuat detail engineering design (DED) dan analisis mengenai dampak lingkungan.

”Kajian sudah ada. Mudah-mudahan bisa disetujui oleh dewan,” ujar Pristono.(FRO/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau