Sebuah rekaman video yang diunggah di internet menyatakan, serangan itu dilakukan oleh sedikitnya delapan batalyon pasukan oposisi terhadap pangkalan udara Taftanaz di Provinsi Idlib.
Dalam serangan yang terjadi menjelang fajar itu, pasukan oposisi menggunakan berbagai senjata berat, seperti peluncur roket multilaras dan mortir. Rekaman video itu menunjukkan pasukan oposisi memasang sistem peluncur rudal di bak belakang sebuah mobil pikap.
Melihat skala serangan tersebut, pasukan oposisi diduga kuat tidak sekadar ingin mengganggu pangkalan udara tersebut, tetapi juga mendudukinya.
Jaringan aktivis oposisi Komisi Umum Revolusi Suriah menyatakan, pertempuran untuk ”membebaskan” pangkalan udara Taftanaz sudah dimulai. Pertempuran berlanjut hingga menjelang sore hari waktu setempat.
Pangkalan udara Taftanaz dikenal sebagai basis operasi sejumlah helikopter tempur pasukan pemerintah, yang dalam beberapa pekan terakhir terus meningkatkan serangan terhadap oposisi. Pangkalan itu terletak di dekat jalan raya utama yang menghubungkan ibu kota Damaskus dengan kota terbesar Suriah, Aleppo.
Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) membenarkan terjadi pertempuran besar di dekat pangkalan militer tersebut. Beberapa saat sebelumnya, pasukan oposisi juga dilaporkan menyerang sebuah pusat pertahanan serangan udara pasukan pemerintah.
Seorang perwira pasukan pemerintah dan delapan prajurit oposisi tewas dalam serangan Sabtu dini hari tersebut.
SOHR menyebutkan, kelompok milisi radikal Jabhat al-Nusra juga terlibat dalam serbuan ke Taftanaz. Al-Nusra adalah sebuah kelompok yang terinspirasi organisasi militan Al Qaeda dan beranggotakan para milisi dari luar Suriah.
Kelompok tersebut dikenal paling berpengalaman dan disiplin di antara kelompok-kelompok pasukan oposisi. Al-Nusra-lah yang dalam beberapa bulan terakhir memimpin sejumlah serangan ke pangkalan-pangkalan udara pasukan pemerintah.
Serangan besar-besaran terhadap pangkalan udara Taftanaz ini terjadi hanya sehari sebelum pertemuan sejumlah kelompok oposisi politik Suriah dengan perwakilan beberapa negara di Doha, Qatar. Pertemuan ini bertujuan menyatukan kelompok pembangkang di Suriah yang terpecah belah dan mencari strategi baru untuk menuntaskan perang saudara berkepanjangan di negara itu.
Dalam konferensi internasional tersebut, Amerika Serikat diduga akan mendesak pembentukan organisasi payung gerakan oposisi baru untuk menggantikan Dewan Nasional Suriah (SNC) yang dipandang tak efektif dan tidak mewakili perjuangan pasukan oposisi di lapangan.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, Rabu lalu, menyatakan rasa frustrasinya terhadap SNC, yang ia anggap tak lagi pantas menjadi pemimpin gerakan oposisi melawan rezim Presiden Bashar al-Assad di Damaskus.
Menurut kabar yang beredar, tokoh pembangkang Suriah, Riad Seif, berpotensi kuat ditunjuk sebagai pemimpin pemerintahan tandingan Suriah di pengasingan, yang akan dinamakan Inisiatif Nasional Suriah (SNI).
Seif bersama 24 tokoh pembangkang lainnya mengeluarkan pernyataan bersama di Amman, Jordania, Jumat, untuk menepis tuduhan sebagian pihak bahwa konferensi di Doha bertujuan membuka perundingan dengan Assad.
”Lengsernya Assad dan rombongannya adalah prasyarat yang tak bisa ditawar untuk mengawali setiap dialog yang bertujuan mencari solusi nonmiliter kalau itu masih memungkinkan,” kata Seif.
SNC keberatan dengan desakan AS, yang mereka pandang sebagai usaha intervensi untuk menanam ”bibit perpecahan” di kalangan oposisi. Washington menolak tuduhan itu.
Menurut SOHR, perang saudara di Suriah telah menewaskan lebih dari 36.000 orang sejak pecah 19 bulan lalu. Unjuk rasa damai menuntut reformasi di negara itu telah berubah menjadi perang brutal.