Krisis euro

Kas Negara Kosong, Yunani Tunggu Persetujuan Parlemen

Kompas.com - 06/11/2012, 06:18 WIB

Athena, Senin - Yunani kini sedang berdebar-debar karena mengalami kekosongan kas negara. Bantuan berupa kucuran dana talangan dari troika merupakan satu-satunya cara mengatasi keadaan. Namun, dana itu hanya diberikan jika Yunani memenuhi sejumlah persyaratan ketat dari troika.

Yunani, yang sedang bangkrut karena timbunan utang selama bertahun-tahun, kini hanya bisa bergantung pada uluran tangan troika, yakni Uni Eropa (UE), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Dana Moneter Internasional (IMF). Para investor di pasar sudah menghentikan kucuran pinjaman ke Yunani lewat pembelian obligasi pemerintah karena posisi utang negara itu sudah menggunung.

Selama bertahun-tahun, Yunani hidup dari tumpukan utang. Kini pasar enggan memasok utang baru karena berpotensi gagal bayar. Itu sebabnya troika masuk untuk menyelamatkan.

Namun, troika menuntut persyaratan berat, yakni Yunani harus menghemat pengeluaran negara, mengurangi paket sosial untuk warga, dan mereformasi ekonomi. Dalam paket reformasi itu termasuk semacam keharusan untuk melakukan swastanisasi terhadap sejumlah perusahaan negara yang tak efisien.

Troika sudah beberapa kali mengucurkan dana talangan yang dilakukan secara bertahap. Akan tetapi, kucuran tahap berikutnya dihentikan karena troika tak yakin Yunani bersedia memenuhi persyaratan ketat itu.

Pengurangan terakhir

Pemerintah Yunani di bawah Perdana Menteri Antonis Samaras mengajukan paket penghematan pengeluaran negara kepada parlemen, Senin (5/11). Pemerintah berusaha mendapat legalitas dari parlemen untuk pengurangan gaji pegawai dan penghematan lainnya.

”Ini adalah pengurangan terakhir untuk gaji pegawai dan manfaat pensiun,” kata PM Samaras berjanji di hadapan Partai Demokrasi Baru. ”Kami berjanji menghindarkan Yunani terlepas dari zona mata uang tunggal euro dan untuk itulah kita harus melakukan penghematan,” kata Samaras.

Paket itu, antara lain, meminta pengurangan anggaran sebesar 13 miliar dollar AS ditambah rencana kenaikan pajak. Di dalam paket juga dicantumkan soal kebebasan untuk merekrut dan memecat pegawai sesuai situasi.

Paket tersebut diperkirakan lolos di parlemen. Jika berhasil, Yunani akan menerima dana 31,5 miliar euro dari troika, yang seharusnya sudah diberikan pada Mei 2012.

Akan tetapi, rakyat dan oposisi mengancam mogok jika paket itu dijalankan. Warga mengancam, walaupun parlemen menyetujui paket itu, aksi mogok akan tetap dilangsungkan jika penghematan itu dijalankan pemerintah.

Para pemimpin serikat buruh mengatakan, paket itu hanya akan memperdalam resesi. ”Aksi protes yang kami lakukan bertujuan menghindarkan negara semakin terpuruk menuju resesi lebih dalam dan menghancurkan fabrikasi sosial,” kata Yannis Panagopoulos, Ketua GSEE, serikat pekerja pegawai swasta.

Kemarahan warga juga mengemuka. ”Saya ingin pemerintahan ini terjatuh. Mereka harus masuk ke neraka,” kata Vassiliki Trimopoulou (60), perempuan yang baru saja memasuki usia pensiun.

Dari sudut pandang para ekonom, perekonomian yang sedang lesu seharusnya menerima suntikan dana besar dari pemerintah agar kembali bangkit. Namun, pihak troika, terutama Jerman di bawah Kanselir Angela Merkel, mengatakan, jika Yunani tidak menelan pil pahit penghematan, akar masalah ekonomi Yunani tak akan pernah terselesaikan.

(AP/AFP/REUTERS/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau