Infrastruktur

Warga Galang Penolakan Jalan Tol

Kompas.com - 07/11/2012, 05:46 WIB

Jakarta, Kompas - Sejumlah kalangan menilai, pembangunan jalan tol bukan solusi menyelesaikan kemacetan. Pemerintah sebaiknya fokus memperbaiki transportasi publik sehingga aman, nyaman, dan tepat waktu.

Warga lewat situs Change.org, membuat petisi agar pemerintah membatalkan rencana pembangunan jalan tol. Hingga Selasa (6/11) sekitar pukul 18.00, lebih dari 280 orang menandatangani petisi ini.

Peneliti Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan, Gubernur DKI Jakarta harus tegas menolak jalan tol.

”Kami akan mendukung Gubernur untuk menolak ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, pembangunan jalan tol hanya akan menimbulkan kemacetan baru, terlebih di pintu masuk dan keluar tol. Jalan tol dinilai justru akan menambah beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) akibat penggunaan kendaraan pribadi yang kian masif.

”Biaya pembangunan enam ruas jalan tol di Jakarta juga membutuhkan dana besar sampai Rp 43 triliun. Hal ini bertolak belakang dengan anggaran pemerintah untuk pembenahan angkutan umum massal yang minim,” kata Elisa.

Sebagai perbandingan, biaya pengoptimalan bus transjakarta dan perbaikan kopaja-metromini memerlukan dana Rp 3 triliun selama dua tahun.

Penambahan jalan tol layang, menurut Elisa, juga akan memperburuk wajah kota. Di banyak kota di dunia, jalan layang sudah mulai dihancurkan. Tidak hanya itu, semakin maraknya penggunaan kendaraan pribadi hanya akan memperburuk kesehatan warga.

Secara terpisah, Kepala Laboratorium Transportasi UI Ellen SW Tangkudung meminta Pemprov DKI membuat skala prioritas dan fokus ke angkutan umum massal.

”Revitalisasi armada dan rute angkutan reguler dalam rangka mendukung angkutan umum massal. Kalau ingin membuat jalan layang, hanya jalur untuk bus rapid transit (BRT)/bus transjakarta,” katanya.

Direktur Institut Studi Transportasi Darmaningtyas menambahkan, jika enam ruas jalan tol dibangun di tengah kota, yang akan terjadi bukan hilangnya kemacetan, justru melahirkan minimal 12 titik kemacetan baru, yaitu di titik masuk dan keluar jalan tol.

Darmaningtyas pun memastikan, penambahan jalan tol hanya menambah penggunaan kendaraan pribadi. Hal ini dikarenakan masyarakat seolah cuma diberi satu pilihan, yaitu bermobilitas dengan memanfaatkan fasilitas jalan karena angkutan massal tak juga bertambah baik.

”Tentunya, kondisi ini memicu meningkatnya polusi dan pemborosan bahan bakar minyak. Artinya janji Jokowi untuk mengurangi dampak emisi gas buang 30 persen cuma omong kosong saja,” kata Darmaningtyas. (NEL/FRO/ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau