Kepala Desa Samba Bakumpai Abdul Halim mengatakan, ia belum menerima kabar mengenai penyaluran bantuan dari pemerintah daerah atau pusat. Padahal, warga yang terendam air bah amat membutuhkan bantuan, terutama pakaian, makanan, dan obat-obatan.
Air di Samba Bakumpai mulai naik pada Jumat siang, pekan lalu. Air dengan ketinggian 1 meter merendam lebih dari 200 rumah. Angka ini hampir setengah dari semua rumah di desa itu yang berjumlah 433 unit. Banjir juga merendam masjid, pondok bersalin, pasar, dan gedung sekolah.
Kepala Dinas Sosial Kalteng Hardy Rampay mengakui, Pemerintah Provinsi Kalteng belum menyalurkan bantuan kepada korban banjir di Katingan meski Pemerintah Kabupaten Katingan sudah melaporkan terjadinya banjir.
Sementara ini belum ada korban jiwa akibat musibah itu. Pemkab Katingan belum menganggap perlu tindakan luar biasa. ”Kondisi itu tak dinilai darurat dan bantuan Pemerintah Provinsi Kalteng belum dibutuhkan. Pemkab Katingan bisa mengatasi. Kira-kira empat atau lima jam air surut lagi,” ujar Hardy.
Menurut Hardy, laporan banjir dari Pemkab Katingan sudah diterima melalui pesan singkat, tetapi secara tertulis belum dilaporkan. Ia meminta Dinas Sosial Pemkab Katingan turun ke lapangan untuk memantau kondisi warganya. Hardy menuturkan, bantuan di setiap kabupaten, termasuk Katingan, sudah tersedia.
Banjir juga melanda tujuh desa di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, dengan ketinggian air 50-75 sentimeter, Rabu malam. Tidak ada korban jiwa akibat banjir yang turut merendam sekitar 100 hektar sawah itu. Hujan deras selama dua hari berturut-turut diduga menjadi penyebab banjir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo mencatat, wilayah yang dilanda banjir di Kabupaten Pohuwato ada di Kecamatan Taluditi, yaitu Desa Malango, Tirto Asri, Mekarti Jaya, dan Kalimas; Desa Manunggal Karya di Kecamatan Randangan; serta Desa Iloheluma dan Dulomo di Kecamatan Patilanggio. Jumlah keluarga yang menjadi korban banjir sebanyak 367 keluarga atau 1.403 jiwa.
”Hujan deras sejak Selasa menyebabkan air Sungai Malango meluap dan menggenangi wilayah di sekitar aliran sungai. Beruntung tidak ada korban jiwa. Saat ini, genangan air mulai surut,” ujar Kepala Seksi Logistik pada BPBD Provinsi Gorontalo Tahir Laendeng.
Menurut prakirawan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Provinsi Gorontalo, Fatuhri Syabani, bulan ini adalah puncak musim hujan di Gorontalo. Untuk pekan ini, diperkirakan Gorontalo masih akan diguyur hujan dengan intensitas ringan sampai lebat. Adapun kecepatan angin 10-20 kilometer per jam.
Di wilayah Gorontalo, banjir di Pohuwato adalah yang kedua kalinya pada November ini. Sebelumnya, Jumat (2/11), Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, dilanda banjir setinggi hampir 1 meter. Hujan deras menyebabkan air Sungai Alopohu meluap dan menggenangi permukiman warga di sekitar aliran sungai.
Pemerhati lingkungan di Gorontalo, Muhammad Djufryhard, mengatakan, setiap musim hujan Gorontalo selalu banjir. ”Alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit dan jagung di Gorontalo telah menyebabkan berkurangnya daerah tangkapan air. Saat hujan deras, air hujan meluncur begitu saja dan terjadilah banjir,” kata Djufryhard.
Sementara itu, banjir di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, perlahan menyusut. Ketinggian air kini tinggal setengah meter dari sebelumnya 2 meter.
Jumlah pengungsi pun menurun. Kini tinggal sekitar 3.000 dari sebelumnya 5.310 orang.