Ekonomi China Membaik

Kompas.com - 10/11/2012, 04:18 WIB

BEIJING, Jumat - Data perekonomian China yang diumumkan Jumat (9/12) menunjukkan perbaikan pada bulan ini. Produksi manufaktur meningkat, penjualan ritel dan nilai investasi naik, serta laju inflasi menurun. Pemulihan ini membantu mulusnya transisi kepemimpinan di China.

Pertumbuhan produksi pabrik pada Oktober naik 9,6 persen dibandingkan satu tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi pada September sebesar 9,2 persen. Adapun penjualan ritel naik menjadi 14,5 persen dari penjualan September lalu yang sebesar 14,2 persen.

”Pemulihan ekonomi, walaupun sedikit, sedang terjadi,” kata ekonom dari UBS, Wang Tao, di Beijing.

Laju inflasi Oktober tercatat 1,7 persen, turun dari bulan sebelumnya yang sebesar 1,9 persen. Penurunan inflasi tersebut disebabkan penurunan kenaikan harga pangan yang hanya 1,8 persen pada Oktober, dibandingkan dengan kenaikan sebesar 2,5 persen pada September lalu.

Kenaikan harga pangan sangat sensitif di China. Keluarga miskin menghabiskan separuh dari pendapatan mereka hanya untuk membeli makanan.

Dengan penurunan tekanan inflasi ini, pemerintah memiliki ruang untuk memangkas tingkat suku bunga yang akan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi. Penurunan tingkat suku bunga acuan akan membuat tingkat suku bunga kredit juga menurun sehingga perekonomian dapat bergerak lebih cepat lagi.

Di sisi lain, investasi aset tetap juga meningkat 20,72 persen pada 10 bulan pertama tahun 2012 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Investasi aset tetap ukuran seberapa besar belanja pemerintah dalam sektor infrastruktur.

Data yang melegakan itu membuat para petinggi Partai Komunis yang sedang bersidang di Beijing lega. Perekonomian China menurun pada tahun lalu seiring dengan melemahnya permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa. Pemulihan ekonomi ini menguntungkan calon pemimpin baru karena persepsi masyarakat kepada mereka membaik.

Para pemimpin China sedang bersidang untuk menyerahkan kepemimpinan partai kepada Wakil Presiden Xi Jinping. Xi akan menggantikan Hu Jintao sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis dan Presiden China selanjutnya.

Kepemimpinan China yang baru menghadapi tantangan utama, yakni penurunan pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia dan para analis memperkirakan China memerlukan perubahan drastis dalam strategi perekonomiannya. Mereka kompak menyatakan, Beijing harus mengurangi dominasi perusahaan milik negara dalam beberapa sektor industri, mulai dari sektor keuangan hingga energi. Beijing harus mulai mengembangkan persaingan pasar bebas agar pendapatan tetap terus naik.

Tak perlu stimulus besar

Pertumbuhan ekonomi China sempat melemah dalam titik terendah dalam 3,5 tahun terakhir. Pada kuartal III-2012, perekonomian China hanya bertumbuh 7,4 persen. Bulan lalu, pemerintah menyatakan, perekonomian bertumbuh dengan stabil dan tidak memerlukan stimulus dalam jumlah besar.

Para ekonom memperkirakan pertumbuhan China akan kembali menguat pada kuartal IV-2012 atau pada awal tahun 2013. Mereka menyatakan, kalaupun ada perbaikan, akan terjadi secara bertahap dan terlalu lemah untuk mengerakkan pertumbuhan global tanpa ada perbaikan ekonomi di AS dan Eropa.

Beijing meluncurkan stimulus mini, memangkas tingkat suku bunga dua kali pada Juni dan Juli serta menaikkan investasi di perusahaan milik negara. Pemerintah juga meningkatkan belanja dengan membangun bandar udara dan proyek publik lain. Beijing tak mengeluarkan stimulus dalam jumlah besar seperti saat mengatasi krisis tahun 2008. Ketika itu, stimulus besar diikuti peningkatan laju inflasi dan pembangunan infrastruktur berlebihan. (AP/AFP/Reuters/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau