Ibadah haji

Jemaah Keluhkan Layanan Hotel Transit Rotana Jeddah

Kompas.com - 12/11/2012, 14:39 WIB

JEDDAH, KOMPAS.com - Sejumlah jemaah haji kelompok terbang MES-12 Medan, Sumatera Utara, mengeluhkan daya tampung hotel transit Rotana yang terlalu kecil, sehingga mereka berdempetan dalam satu kamar.

M Yunus, mewakili jemaah MES-12 Medan, ketika ditemui di Hotel Rotana di Jeddah, Senin (12/11/2012) dini hari, mengatakan, dalam satu kamar ada yang diisi hingga 17 orang.

Dia lalu mengeluarkan catatan kamar-kamar yang sesak dengan jemaah asal embarkasi Medan itu yakni kamar 807 diisi delapan orang, kamar 808 diisi 17 orang, kamar 809 diisi enam orang, dan kamar 8012  diisi 12 orang.

Jemaah asal Kabupaten Serdang Bedagai yang masuk ke Rotana pada Minggu dini hari, menilai layanan seperti itu tidak layak bagi mereka. Meski hanya transit satu malam di Jeddah, hendaknya kamar yang disediakan layak untuk istirahat dan tidak diisi dipan sebanyak-banyaknya.

Setelah dilakukan pengecekan di kamar bersama, Koordinator Petugas Hotel Rotana, Sumarno, dan Sekretaris Daker Jeddah, Nur Alya Fitra, yang dimaksud kamar diisi 17 tersebut adalah apartemen dua kamar yang diisi masing-masing 11 dan enam orang.

Apartemen dengan kamar tersebut, kata Fitra, dalam bahasa Arab disebut syuga. Sumarno lalu menunjukkan, daftar kamar dan jumlah jemaah yang mengisinya, terdapat enam syuga yang diisi 17 orang.

Meskipun cuma diisi dengan 11 atau delapan orang dalam satu kamar, bisa dikatakan terlalu banyak karena dipan ditata rapat, sehingga hampir seluruh kamar terisi dipan besi dengan kasur busa. Akibatnya, lalu-lalang sulit dilakukan.

Sumarno mengatakan, selayaknya Rotana hanya bisa menerima satu kelompok terbang kecil. Kondisi sesak akan terasa, jika kelompok terbang beranggota besar yang masuk seperti MES-12 Medan yang beranggotakan 455 orang.

Rotana menerima delapan kelompok terbang besar (beranggotakan 450-455 orang). Sisanya beranggotakan 325-350 orang, yang disebut petugas pelayanan haji sebagai kelompok terbang kecil.

Sumarno mengatakan, tidak tau Rotana menerima kelompok terbang besar sehingga jemaah harus bersesakan.

"Kami hanya menerima tugas dan melayani berapapun jemaah yang datang, karena penunjukkan Rotana dan pengaturan kelompok terbang, ada pada bagian lain yang mensurvei sebelum musim haji," kata Sumarno.

Sementara jemaah kelompok terbang BLP-6 Balikpapan yang menempati hotel transit Majlis Al Khalid, jeddah, menyatakan cukup puas dengan pembagian kamar yang diisi 6-7 orang.

M Aksa asal Samarinda, Kalimantan Timur, mengatakan masalah kecil ada pada kebersihan kamar sebelum jemaah masuk. "Perugas sepertinya tidak sempat mengganti seprei, dan membersihkan sampah yang ditinggalkan jamaah sebelumnya," kata Aksa.

Sementara rekan Aksa, bernama Sumarni, mengatakan, dia harus mengepel lantai terlebih dahulu agar terlihat bersih dan nyaman dihuni.

Di hotel transit lain, Madinah Palace, jemaah yang ditemui merasa puas dengan komposisi dan kebersihan kamar.

Ahmadin, anggota kelompok terbang JKS-16, mengatakan, kamarnya diisi enam orang, dan sprei diganti sebelum dia dan jemaah lain datang, AC pun dalam kondisi menyala.

Sekretaris Koordinator Madinah Palace, Agus Widagdo, menambahkan, dia bersama petugas pelayanan haji selalu berusaha mengatur waktu, agar petugas hotel cukup waktu membersih kamar dan mengganti sprei.

Jika ada jemaah yang datang lebih dini, petugas akan meminta mereka tetap di bus atau tidak masuk dalam kamar sebelum dibersihkan. "Kami mengulur waktu, agar jemaah tetap mendapat kamar dan sprei yang bersih," kata Agus.

Di Madinah Palace yang berdaya tampung 1.200 orang, mampu menampung dua kloter besar dan satu kloter kecil.

Sekretaris Daker Jeddah Nur Alya Fitra mengatakan, untuk kasus Rotana dia mempersilakan untuk menanyakan pada tim survei hotel transit.

Namun untuk keluhan jemaah yang datang lebih awal sehingga petugas hotel tidak sempat membersihkan kamar, dia sudah mengimbau dan mengirim nota ke Daker Mekkah agar memberangkatkan jemaah tepat waktu. Itu perlu dilakukan, agar tidak terjadi penumpukan di hotel transit dan memberi waktu pada petugas hotel untuk membersihkan kamar.

"Daker Jeddah sudah mengirim surat dan juga meminta secara lisan, agar jemaah didorong ke Jeddah sesuai jadwal," kata Fitra.

Namun dia juga bisa memahami kondisi psikologis jemaah, ketika melihat bus sudah tiba lebih dini maka keinginan ke Jeddah semakin besar, karena berarti akan semakin dekat untuk pulang ke Tanah Air.

Sementara maktab (pemilik penginapan) di Mekkah juga ingin agar hotelnya segera kosong, karena punya waktu lebih dini untuk membersihkan dan lebih cepat juga mendapatkan sisa pembayaran.

Fitra berharap, jadwal bisa ditepati agar jemaah bisa menginap dan beristirahat lebih nyaman di hotel transit.


Sumber: Antara

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau