Jembatan Penyeberangan di Margonda Perlu Biaya Rp 3,9 Miliar

Kompas.com - 12/11/2012, 19:19 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Dinas Perhubungan Kota Depok kembali berencana membangun tiga jembatan penyeberangan orang di Margonda, Depok, Jawa Barat, pada tahun depan. Ini merupakan rencana yang tertunda sejak dicetuskan tahun lalu.

Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Dinas Perhubungan Kota Depok Ari Manggala, Senin (12/11/2012) mengatakan, pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) itu sudah dianggarkan dalam APBD Depok pada 2011. Namun, karena terbentur berbagai kendala, rencana ini berjalan di tempat. Padahal, kondisi jalan yang selalu ramai dan ketiadaan trotoar membuat Jalan Margonda rawan bagi pejalan kaki, terlebih bagi mereka yang ingin menyeberang jalan.

"Persoalannya, kita masih menunggu kesepakatan dengan pemilik lahan yang tanahnya akan dijadikan tiang kaki jembatan. Itu kan tanah warga," kata Ari di Depok.

Ari menambahkan, keengganan pemilik lahan itu disebabkan lahan yang akan digunakan adalah tempat bisnis. Pemilik lahan khawatir, ketika JPO dipasang, omzet bisnis mereka turun drastis. "Negosiasi dengan warga terus kita usahakan. Bahkan pemilik lahan sudah kita pertemukan dengan Wali Kota. Beberapa memang sudah ada yang memberikan persetujuan," lanjut Ari.

Kesepakatan yang dimaksud Ari di antaranya adalah kompensasi penggantian lahan sebesar Rp 9 juta/meter persegi. Untuk satu tiang kaki JPO, paling tidak dibutuhkan tanah seluas 32 meter persegi. Selain itu, sebelum dibangun, setiap JPO harus memiliki tiang kaki yang sejajar di sebelah timur dan barat jembatan.

"Masalahnya susah sekali mencapai kesepakatan dua titik tersebut untuk satu jembatan. Satu pemilik lahan setuju, sementara pemilik lahan di seberangnya tidak," ujar Ari.

Jika disetujui, maka pada tahun 2013 Jalan Margonda akan dilengkapi tiga jembatan penyeberangan tambahan, di samping dua jembatan yang sudah ada saat ini. Tiga jembatan tersebut rencananya akan menghubungkan Apartemen Melati dan tanah kosong di sebelah Gang Kober, Apartemen Margonda Residence dan Rumah Makan Mang Kabayan, serta yang menghubungkan D'Mall dan Ace Hardware. Sumber pembiayaan proyek itu berasal dari APBD Kota Depok. Ari mengatakan, anggaran untuk pembangunan JPO ini sama dengan anggaran tahun lalu, yakni sebesar Rp 3,9 miliar untuk tiga JPO tersebut atau Rp 1,3 miliar per JPO.

Adapun dua JPO yang sudah ada saat ini menghubungkan Mal Margo City dan Depok Town Square serta Ramayana Mall dan ITC Depok. Keberadaan dua jembatan ini mengundang kritik dari banyak orang karena dianggap hanya memerhatikan keselamatan sebagian orang.

"Masa Pemda cuma memerhatikan keselamatan orang-orang yang sering ke mal. Yang mau menyeberang jalan menuju kampus seperti kita malah terancam keselamatannya," kata Sonny, mahasiswa Universitas Gunadarma, kepada Kompas.com (29/10/2012).

Keberadaan tiga JPO tambahan itu diharapkan dapat memudahkan pejalan kaki yang ingin menyeberang Jalan Margonda. Selama ini jalan tersebut dianggap tidak ramah terhadap pejalan kaki karena tidak memiliki trotoar dan JPO.

Sebagai solusi sementara, Pemkot Depok sudah menyediakan lampu lalu lintas dan speed hump (polisi tidur) di titik-titik yang banyak dilalui penyeberang jalan. Contohnya di depan Gang Kober dan depan Universitas Gunadarma. Kedua titik tersebut selalu ramai digunakan mahasiswa yang pulang ke indekos atau akan menuju kampusnya.

Sayangnya, lampu lalu lintas tersebut tidak efektif karena tidak dipatuhi, baik penyeberang jalan dan pengguna kendaraan. Ini lebih disebabkan lampu lalu lintas terletak di jalan yang lurus, bukan persimpangan. Keberadaan jembatan penyeberangan akan menciptakan rasa aman yang lebih baik bagi pejalan kaki dan pengguna kendaraan di Margonda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau