Basuki: Bapak Hati-hati, Saya Ini Auditor...

Kompas.com - 14/11/2012, 14:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama kembali membuat bawahannya ketar-ketir. Bagaimana tidak, ia mengancam akan menyelidiki dugaan penyimpangan yang terjadi di SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, Jalan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

"Bapak hati-hati, saya ini auditor. Kalau sebelumnya bisa lolos, sama saya tidak bisa. Bukannya sombong, Bapak mengelak terus dan saya bisa membaca otak Bapak," kata Basuki, Rabu (14/11/2012).

Pernyataan sinis itu dilontarkan Basuki lantaran dia geram dengan penjelasan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta dan pihak sekolah terkait kontrak kerja sama dengan Surya Institute tentang bantuan tenaga pengajar.

Di satu sisi, pihak sekolah dan komite menuding kesalahan ada di Dinas Pendidikan karena tak mengurus perpanjangan kontrak kerja sama, sementara Kadisdik melemparkan kekeliruan pada pihak sekolah lantaran tak membuat konsep kerja sama yang jelas, baik tentang pemberian honor, program, maupun lain sebagainya.

Basuki mencium terjadi praktik penipuan dalam kontrak kerja sama antara SMAN Unggulan MH Thamrin dengan Surya Institute. Hal itu terendus setelah ada laporan masuk dari seorang anggota komite sekolah yang menyampaikan bahwa kontrak kerja sama telah berakhir sejak Agustus 2012, tetapi anggarannya masih tercantum dalam Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah (RKAS) tahun ajaran 2012-2013.

"Kontrak ini terancam sanksi pidana. Ini nipu Pemda dan DPRD. Kenapa kontrak putus tetapi masih dianggarkan? Dan apakah guru-guru itu sudah keluar dari Surya Institute?" ungkapnya.

Kontrak kerja sama dengan Surya Institute telah berlangsung sejak 2009. Kerja sama ini dirajut sesuai dengan visi dan misi SMAN Unggulan MH Thamrin sebagai sekolah berwawasan sains dan mencetak juara-juara olimpiade sains di kancah internasional.

Setiap tahunnya, SMAN Unggulan MH Thamrin harus menggelontorkan uang sekitar Rp 2 miliar untuk menggaji 11 guru yang berlabel Surya Institute. Masalah datang ketika kontrak kerja sama berakhir, tetapi program masih berlanjut dengan anggaran yang berasal dari APBD.

Saat ditemui di sekolahnya, Kepala SMAN Unggulan MH Thamrin Djumadi mengaku semua kesalahan berada di pihak Dinas Pendidikan Jakarta. Pasalnya, ia telah beberapa kali telah mengingatkan Dinas Pendidikan terkait masa kontrak yang akan berakhir dan harus segera diurus perpanjangannya. Akan tetapi, hal itu tak pernah digubris sampai jatuh masa akhir pada Agustus lalu.

"Kita beberapa kali sudah mengingatkan Dinas Pendidikan untuk mengurus surat perpanjangannya, tetapi enggak pernah direspons," kata Djumadi.

Lain halnya dengan Kadisdik DKI Jakarta Taufik Yudi Mulyanto yang justru malah menyalahkan pihak sekolah terkait permasalahan ini. Ia menganggap permasalahan ini di luar kelalaiannya karena pihak sekolah tidak aktif menjelaskan program kerja sama yang diinginkan.

"Kita kan cuma memberikan payung hukum. Saya hanya menandatangani, sisanya itu menjadi tugas sekolah bersama komite," tandasnya.

Berita terkait dapat diikuti di topik:

100 HARI JOKOWI-BASUKI

Baca Juga:
Kronologi Pergeseran Pengelolaan Sumber Daya Migas Indonesia

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau