Obama: Tak Ada Kebocoran Rahasia

Kompas.com - 16/11/2012, 10:09 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Presiden AS Barack Obama menyatakan, hingga saat ini, belum ada bukti-bukti bahwa skandal perselingkuhan yang melibatkan mantan Direktur CIA David Petraeus telah menyebabkan kebocoran rahasia negara yang bisa mengancam keamanan nasional AS.

"Saya tidak punya bukti sampai sejauh ini bahwa ada informasi rahasia yang bocor dan bisa berdampak negatif terhadap keamanan nasional kita,” ungkap Obama dalam jumpa pers di Gedung Putih, Washington DC, Rabu (14/11/2012) waktu setempat. Ini adalah jumpa pers pertama Obama setelah terpilih kembali dalam pemilu pekan lalu dan komentar publiknya yang pertama terkait kasus tersebut.

Obama menolak berkomentar lebih jauh soal skandal tersebut dengan alasan penyelidikan belum selesai. "Saya belum akan memberi penilaian terhadap bagaimana seluruh proses di sekitar Jenderal Petraeus ini terjadi. Kami belum mendapatkan semua informasi,” ujarnya.

Terkait proses penyelidikan oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan mengapa mereka tak memberi tahu dia lebih awal soal skandal itu, Obama juga terkesan menahan diri.

"Harapan saya adalah mereka telah menempuh protokol yang telah mereka tetapkan sendiri. Salah satu tantangan kami di sini adalah kami tidak boleh ikut campur dalam penyelidikan tindak pidana,” papar Obama.

Menurut para petugas penegak hukum federal di AS, FBI memang tidak memberi tahu Gedung Putih dan Kongres sejak awal karena ada aturan yang ditetapkan setelah skandal Watergate terjadi tahun 1972. Aturan baru itu dibuat dengan tujuan agar tidak ada intervensi apa pun dalam penyelidikan kriminal.

Skandal ini bermula saat penulis buku biografi dan pasangan selingkuh Petraeus, Paula Broadwell (40), mengirim surat elektronik (surel) bernada ancaman kepada Jill Kelley (37), warga Tampa, Florida, yang kenal dekat dengan Petraeus.

Fakta terbaru menunjukkan, Broadwell juga ternyata mengirim surel bernada peringatan kepada Jenderal John Allen, panglima pasukan AS di Afganistan. Broadwell, yang menggunakan nama samaran Kelleypatrol, memperingatkan Allen untuk menjauh dari Kelley.

Allen sendiri diketahui menjalin komunikasi intens dengan Kelley—seorang sosialita di Tampa yang menjadi semacam petugas humas tidak resmi dari Pangkalan Udara MacDill. Baik Petraeus maupun Allen pernah bertugas di pangkalan itu.

Allen dan Kelley saling mengirim tak kurang dari 20.000 halaman surel dalam dua tahun terakhir. Beberapa orang yang telah membaca surel-surel itu menyebutkan ada unsur "rayuan" dalam kalimat-kalimatnya, seperti menggunakan nama panggilan "sayang".

Meski demikian, jenderal bintang empat dari Korps Marinir AS tersebut berkeras tidak ada hubungan yang bersifat seksual dengan Kelley—seorang ibu tiga anak. Pengacara militer Korps Marinir AS, Kolonel John Baker, mengatakan bahwa Allen siap bekerja sama dengan para penyelidik dari inspektorat jenderal Departemen Pertahanan AS yang menyelidiki komunikasinya dengan Kelley.

Awal pekan ini, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta memerintahkan inspektorat jenderal Pentagon untuk menyelidiki kasus tersebut.

Dalam jumpa pers di Bangkok, Thailand, Kamis (15/11/2012), Panetta mengatakan, hingga saat ini, tak ada perwira tinggi militer AS lainnya yang tersangkut skandal seks tersebut.

Masih percaya

Baik Panetta maupun Obama masih menyatakan kepercayaan mereka terhadap Allen meski saat ini proses penunjukan Allen sebagai Panglima Tertinggi Pasukan NATO di Eropa ditunda gara-gara kasus tersebut.

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS Jenderal Martin Dempsey juga menyatakan, Allen tetap akan menjalankan tugasnya memimpin pasukan AS di Afganistan.

Panetta mengakui, skandal seks di luar nikah itu bisa digunakan kelompok Taliban di Afganistan untuk meningkatkan propaganda anti-AS.

Sementara itu, Pentagon mencabut akses khusus yang dimiliki Kelley untuk memasuki Pangkalan Udara MacDill di Tampa. Sebelum ini, dia bebas keluar masuk pangkalan militer itu dengan menggunakan tanda masuk seperti yang dimiliki keluarga tentara atau para purnawirawan tentara di pangkalan itu.

Pentagon juga mencabut sementara izin keamanan Broadwell. Sebelumnya, ibu dua anak tersebut adalah seorang perwira intelijen Angkatan Darat AS yang memiliki izin keamanan tingkat tinggi.

Para penyelidik FBI juga masih terus menyelidiki sejumlah dokumen rahasia yang ditemukan di komputer Broadwell.

Kongres juga menggelar sejumlah pertemuan dengan FBI dan CIA pekan ini untuk mengetahui lebih detail tentang kejelasan kasus tersebut. (AP/AFP/Reuters/DHF)

Berita terkait lainnya baca di : Skandal Direktur CIA

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau