Sejarah jakarta

Melongok Rumah Mat Sani, Pahlawan Asal Betawi

Kompas.com - 17/11/2012, 03:17 WIB

Ada banyak cara menghormati pahlawan. Komunitas Historia Indonesia memilih mengunjungi rumah Mohammad Hoesni Thamrin, di Jalan Kenari II Nomor 15, Jakarta Pusat.

Berangkat dari tempat berkumpul di Bioskop Metropole, Minggu (11/11), sekitar 15 peserta berjalan menyusuri Pasar Cikini Ampiun, menyeberangi jembatan bekas kereta, dan permukiman warga. Sekitar 15 menit, tibalah di rumah Thamrin yang kini dijadikan museum itu.

Museum itu tidak besar, lebih menyerupai sebuah rumah tinggal biasa dengan halaman yang luas. Di dalamnya terdapat sejumlah foto, benda-benda peninggalan Thamrin, replika, serta kisah hidup Thamrin.

”Rumah ini adalah rumah kecil Mat Sani. Sebenarnya, bangunan awal tidak begini. Tapi, setelah direnovasi untuk museum, hampir seluruh bangunan berubah menjadi bangunan model baru dengan lantai marmer,” kata Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia yang juga memimpin perjalanan kali ini.

Mat Sani adalah panggilan kecil Mohammad Hoesni Thamrin. Oleh kawan-kawan sepermainannya, anak Betawi yang lahir 16 Februari 1894 itu akrab disapa Mat Sani.

Thamrin adalah anak pasangan Tabri Thamrin dan Nurhana. Ayahnya adalah seorang wedana atau jabatan tertinggi kedua yang bisa dilaksanakan oleh warga pribumi pada masa itu. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, Thamrin tetap saja bergaul dengan teman-teman yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Saat beranjak dewasa, Thamrin juga aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Rumah yang dijadikan museum ini sempat masyhur dengan nama Gedung Permufakatan lantaran pernah dimanfaatkan sebagai Sekretariat Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Tahun 1935, Kongres Rakyat Indonesia dilakukan di rumah ini.

Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Gemeenteraad) dan dilanjutkan sebagai Dewan Rakyat (Volksraad).

Sebagai anggota Dewan, Thamrin kerap turun ke lapangan dan melihat kondisi di masyarakat. Tidak hanya itu, Thamrin juga berani membuat terobosan untuk memperbaiki lingkungan tempat tinggal masyarakat. Di parlemen, Thamrin dengan lantang membuka fakta lapangan yang ditemukannya. Ini yang membuat Thamrin dicap sebagai anggota Dewan yang vokal.

Di masyarakat, Thamrin muncul sebagai sosok yang melahirkan ide cemerlang. ”Irigasi, perbaikan saluran air, serta sanitasi di lingkungan merupakan beberapa pemikiran Thamrin. Saluran air menjadi cikal bakal saluran PDAM,” kata Asep.

Perbaikan lingkungan ini yang membuat nama Thamrin dikenang sebagai salah satu pelopor perbaikan lingkungan di Jakarta. Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, program yang dimulai oleh Thamrin kembali dilanjutkan di Jakarta.

Meninggal pada 11 Januari 1941, Thamrin adalah sosok yang membaktikan hidup untuk Jakarta dan Indonesia. Dia adalah contoh pemimpin yang menggunakan jabatannya untuk kepentingan rakyat banyak.

Ini salah satu kutipan Thamrin yang tetap relevan hingga kini: ”Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak memedulikan kemauan rakyat tidak akan bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat”.

(Agnes Rita Sulistyawaty)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau