Ada banyak cara menghormati pahlawan. Komunitas Historia Indonesia memilih mengunjungi rumah Mohammad Hoesni Thamrin,
Berangkat dari tempat berkumpul di Bioskop Metropole, Minggu (11/11), sekitar 15 peserta berjalan menyusuri Pasar Cikini Ampiun, menyeberangi jembatan bekas kereta, dan permukiman warga. Sekitar 15 menit, tibalah di rumah Thamrin yang kini dijadikan museum itu.
Museum itu tidak besar, lebih menyerupai sebuah rumah tinggal biasa dengan halaman yang luas. Di dalamnya terdapat sejumlah foto, benda-benda peninggalan Thamrin, replika, serta kisah hidup Thamrin.
”Rumah ini adalah rumah kecil Mat Sani. Sebenarnya, bangunan awal tidak begini. Tapi, setelah direnovasi untuk museum, hampir seluruh bangunan berubah menjadi bangunan model baru dengan lantai marmer,” kata Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia yang juga memimpin perjalanan kali ini.
Mat Sani adalah panggilan kecil Mohammad Hoesni Thamrin. Oleh kawan-kawan sepermainannya, anak Betawi yang lahir 16 Februari 1894 itu akrab disapa Mat Sani.
Thamrin adalah anak pasangan Tabri Thamrin dan Nurhana. Ayahnya adalah seorang wedana atau jabatan tertinggi kedua yang bisa dilaksanakan oleh warga pribumi pada masa itu. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, Thamrin tetap saja bergaul dengan teman-teman yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Saat beranjak dewasa, Thamrin juga aktif dalam pergerakan kemerdekaan. Rumah yang dijadikan museum ini sempat masyhur dengan nama Gedung Permufakatan lantaran pernah dimanfaatkan sebagai Sekretariat Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Tahun 1935, Kongres Rakyat Indonesia dilakukan di rumah ini.
Dia juga menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Gemeenteraad) dan dilanjutkan sebagai Dewan Rakyat (Volksraad).
Sebagai anggota Dewan, Thamrin kerap turun ke lapangan dan melihat kondisi di masyarakat. Tidak hanya itu, Thamrin juga berani membuat terobosan untuk memperbaiki lingkungan tempat tinggal masyarakat. Di parlemen, Thamrin dengan lantang membuka fakta lapangan yang ditemukannya. Ini yang membuat Thamrin dicap sebagai anggota Dewan yang vokal.
Di masyarakat, Thamrin muncul sebagai sosok yang melahirkan ide cemerlang. ”Irigasi, perbaikan saluran air, serta sanitasi di lingkungan merupakan beberapa pemikiran Thamrin. Saluran air menjadi cikal bakal saluran PDAM,” kata Asep.
Perbaikan lingkungan ini yang membuat nama Thamrin dikenang sebagai salah satu pelopor perbaikan lingkungan di Jakarta. Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, program yang dimulai oleh Thamrin kembali dilanjutkan di Jakarta.
Meninggal pada 11 Januari 1941, Thamrin adalah sosok yang membaktikan hidup untuk Jakarta dan Indonesia. Dia adalah contoh pemimpin yang menggunakan jabatannya untuk kepentingan rakyat banyak.
Ini salah satu kutipan Thamrin yang tetap relevan hingga kini: ”Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat. Inilah sepatutnya dan harus menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak memedulikan kemauan rakyat tidak akan bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat”.