Hamas Minta Israel Hentikan Serangan

Kompas.com - 19/11/2012, 14:36 WIB

GAZA, KOMPAS.com — Kelompok Hamas meminta diakhirinya blokade Israel atas Gaza dan serangan bertubi-tubi atas wilayah tersebut, seorang pejabat tinggi Palestina mengatakan, seperti dikutip CNN, Minggu (19/11/2012).

Hamas, kelompok militan di Palestina yang menguasai Gaza sejak 2007, mengatakan, sebuah serangan udara Israel menewaskan satu keluarga yang terdiri dari 10 orang pada Minggu (18/11/2012).

Di lain pihak, Israel mengatakan, Hamas sudah menembakkan hampir 150 roket ke wilayah Israel dalam sehari. Israel berdalih, serangan yang menewaskan keluarga itu sebenarnya ditujukan kepada salah satu pemimpin korps penembak roket Hamas, tetapi Israel tidak yakin apakah orang yang ditarget itu termasuk korban tewas.

Ini merupakan kekerasan terakhir yang menjadi mimpi buruk bagi jutaan warga di kawasan itu.

Seorang utusan khusus Israel tengah berada di Mesir untuk membicarakan gencatan senjata pada Minggu malam, kata Pemerintah Mesir. Sementara itu, para diplomat Liga Arab, PBB, dan Eropa bergantian datang dan pergi dari kawasan itu untuk merundingkan hal yang sama.

Nabil Sha'ath, seorang negosiator senior Palestina, mengatakan, Hamas menuntut diakhirinya kekerasan dan pengepungan keras terhadap Gaza yang menghalangi warganya untuk keluar dan masuk. Dengan demikian, warga Gaza bisa menjalani kehidupan secara normal.

Wilayah itu mengalami embargo ekonomi sejak Hamas mengambil alih kendali dari Otoritas Palestina yang dikuasai kelompok Fatah. Fatah sendiri kini menguasai Tepi Barat.

Namun, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, dia terus "melakukan kontak" dengan pemimpin Hamas yang kini berada di pengasingan, Khaled Meshaal. Abbas juga meminta agar warga Palestina bersatu selama serangan Israel.

Sa'ath yang juga pemimpin Fatah mengatakan, Hamas menginginkan Israel berhenti menyasar para pemimpin faksi-faksi Palestina serta meminta agar wilayah pencarian ikan nelayan Palestina diperluas dari 3 mil menjadi 30 mil lepas pantai.

Sa'ath mengatakan, tujuan Palestina bukan hanya diakhirinya pertempuran terakhir ini, melainkan juga gencatan senjata jangka panjang antara Hamas dan Israel.

"Upayanya adalah untuk mencapai situasi nyata yang stabil. Karena itulah, mereka meminta komitmen dari pihak Israel yang sering melakukan agresi, serangan, dan penembakan terhadap para nelayan di laut," ujar Sa'ath.

Namun, roket-roket terus berjatuhan di Israel pada hari Minggu dan serangan udara terus dilancarkan atas Gaza. Suara sirene tanda serangan roket terdengar di Tel Aviv sepanjang Minggu.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan berhasil menghadang setidaknya dua roket yang menuju Tel Aviv menggunakan sistem pertahanan antirudal "Iron Dome".

Dilaporkan, sebuah roket mengenai satu mobil di kota Ofakim, sementara satu roket lainnya jatuh di garasi sebuah rumah di Ashkelon.

Di Gaza, televisi Hamas al-Aqsa menayangkan gambar-gambar jenazah anak-anak yang dikeluarkan dari puing-puing sebuah rumah yang terkena serangan udara Israel. Menurut petugas ambulans Palestina, yang tewas adalah 10 orang dalam satu keluarga.

Berita-berita terkait bisa diikuti di topik pilihan: Gaza Membara

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau