Parade Gandrung Sewu Memang Kolosal...

Kompas.com - 19/11/2012, 17:35 WIB

KOMPAS.com - Sore baru menjelang ketika rakyat Banyuwangi berbondong-bondong menuju Pantai Boom di timur pusat kota Banyuwangi. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, remaja, juga kakek-nenek nampak bergegas seakan tak mau ketinggalan menyaksikan gelaran yang baru pertama kali diadakan di kota ini, yaitu Parade Gandrung Sewu.

Parade yang digelar dalam rangka Banyuwangi Festival ini adalah sebuah gelaran kolosal Tari Gandrung oleh 1.000 orang penari. Tari Gandrung merupakan ikon pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Areal yang digunakan sebagai arena parade berupa  ruang terbuka di pinggir Pantai Boom. Dari pantai ini pengunjung dapat memandang Pulau Bali dari kejauhan dibatasi oleh Selat Bali yang beriak tenang. Tak seperti biasanya, sore hari ini Pantai Boom sudah dipadati  ribuan warga Banyuwangi yang ingin melihat gelaran parade Gandrung Sewu.

Begitu Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas tiba, acara segera dimulai dengan pertunjukan tari barong. Beberapa penari berbusana Barong secara dinamis menunjukkan ketangkasannya. Tarian Barong memiliki ciri khas tersendiri bila dibandingkan dengan Barong yang ada di Bali.

Pengunjung disuguhi pertunjukan macan wuto yang menampilkan beberapa penari berpakaian seperti macan raksasa bergerak kesana kemari mencari mangsa untuk  melahap anak kecil. Ditafsirkan dari pertunjukan ini adalah memperlihatkan penguasa yang telah buta hatinya sehingga tak segan-segan mengambil dan mengabaikan hak-hak rakyat kecil. Melalui pertunjukan ini, rakyat Banyuwangi mengirim pesan kepada penguasa agar berlaku adil.

Dalam kata sambutannya, Abdullah Azwar Anas mengucapkan terima kasih atas semangat dan antusiasme rakyat Banyuwangi menyambut dan menyukseskan acara Banyuwangi Festival yang akan digelar 22 Desember 2012. Kegiatan ini dimeriahkan berbagai acara menarik hingga seperti Banyuwangi Jazz Festival, Festival Kuwung, dan lainnya.

Abdullah Azwar Anas pun berterima kasih kepada seluruh pendukung acara parade Gandrung Sewu yang terdiri dari 1400-an orang. Mereka adalah siswa-siswi dari berbagai daerah di Kabupaten Banyuwangi, seniman, serta penari senior maupun junior.

Setelah sambutan dari ketua panitia dan bupati Banyuwangi usai disampaikan, alat-alat musik tradisional  Banyuwangi mulai ditabuh untuk membuka pagelaran diiringi  pembacaan kisah sejarah Kabupaten Banyuwangi. Beberapa penari pria sekonyong-konyong masuk ke arena sambil berlari membawa umbul-umbul berbagai warna sambil melakukan gerakan tarian yang mengalir dinamis.

Kemudian masuklah iringan membawa seseorang di atas pandu. Suasana sakral dan mistis sangat terasa pada iring-iringan tersebut yang ternyata membawa seorang penari Seblang. Ritual Seblang merupakan salah satu ritual masyarakat Osing dengan tujuan untuk bersih desa dan menolak bala agar tetap dalam keadaan aman dan tenteram.

Pagelaran dilanjutkan pembacaan kisah sejarah Kabupaten banyuwangi yang diawali ketika penjajah (Belanda) datang. Dikisahkan saat itu rakyat begitu sengsara oleh penindasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan penjajah. Perlakuan kasar dan perampasan kekayaan hasil bumi rakyat Banyuwangi membuat mereka menderita. Penjajah juga membawa serta perilaku dan budaya yang sama sekali berbeda dengan budaya lokal, terutama budaya bersenang-senang dan mabuk-mabukan.

Begitu banyak rakyat Banyuwangi yang terbunuh dan terusir dari kampung halamannya sehingga hanya sedikit yang tersisa dan tinggal terpisah di hutan-hutan belantara. Saat inilah tari gandrung tercipta dengan tujuan untuk menyemangati para lelaki usai membuka hutan untuk ditempati. Lambat laun tari Gandrung ini dibawa berkeliling untuk mencari dan membantu rakyat yang masih tinggal di hutan-hutan sehingga akhirnya rakyat kembali berkumpul dan bersatu untuk membuka daerah baru bernama Banyuwangi.

Nama Banyuwangi diambil dari nama hutan Tirta Arum yang dibuka untuk membangun kota baru bagi rakyat. Karena sedemikian lekat tari Gandrung dengan rakyat Banyuwangi maka tak heran bila Kabupaten Banyuwangi juga disebut sebagai Kota Gandrung dan menjadi ikon pariwisata Banyuwangi. Tak berlebihan rasanya bila dalam rangka Banyuwangi Festival kali ini, rakyat Banyuwangi menyuguhkan Parade Gandrung Sewu dengan menampilkan 1.000 penari untuk menari Gandrung.

Banyuwangi Jazz Festival

Malam harinya, serangkaian acara Banyuwangi Festival digelar bertempat di Gesibu Blambangan. Pada gelaran jazz ini, pengunjung yang terdiri dari berbagai kalangan ini begitu antusias menikmati musik jazz secara khusus dipilih untuk mewakili wajah Banyuwangi di tingkat nasional dan internasional.

Acara jazz ini menyuguhkan kolaborasi antara maestro piano jazz Riza Arshad dan musik tradisional khas Banyuwangi yang dijuluki Banyuwangi Ethno Jazz Music. Tampil di dalamnya bintang-bintang jazz nasional, yaitu ESQI:EF: Syaharani dan Queenfireworks, Monita Tahalea and friends, dan Rieka Roslan – Reza (The Groove).

Banyuwangi Jazz Festival diharapkan memberi angin segar untuk musik jazz di Indonesia dan menjadi jembatan bagi pencinta musik di Indonesia untuk melihat Banyuwangi sebagai jujugan baru untuk tontonan berkelas dan juga tujuan pariwisata dan diharapkan menjadi agenda yang berkelanjutan dari tahun ke tahun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau