Setiap kali menjelang hari besar keagamaan dan Tahun Baru, harga daging sapi melonjak. Kali ini menembus Rp 90.000 per kilogram di wilayah Jabodetabek. Sayangnya, harga ini tidak dinikmati para peternak sapi.
Sejumlah hambatan distribusi/transportasi sapi terjadi dari sentra produsen ke konsumen, baik menyangkut transportasi kapal antarpulau maupun transportasi darat.
Setidaknya itu yang menjadi salah satu alasan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan) Syukur Iwantoro mengapa terjadi fluktuasi harga daging sapi saat ini, selain alasan pemberlakuan bea masuk impor sapi bakalan 5 persen yang efektif Januari 2012.
Di luar kedua masalah itu, pasar dan tata niaga sapi memang tak pernah dibenahi sungguh-sungguh. Perdagangan sapi lokal dibiarkan tumbuh dengan sendirinya tanpa ada penataan. Begitu pula dengan pola pikir masyarakat dalam memelihara sapi.
Tahun ini kebutuhan daging sapi nasional 484.060 ton, terdiri dari 399.320 ton daging lokal dan 84.740 ton (17,5 persen) daging impor. Permintaan daging sapi terus naik seiring pertambahan jumlah penduduk, peningkatan daya beli, dan faktor musiman menyambut hari besar keagamaan nasional.
Pasokan daging sapi lokal itu setara pemotongan 2,4 juta sapi. Perhitungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, produksi 2,4 juta sapi tahun ini bisa dipenuhi karena total sapi potong per Juni 2011 ada 14,82 juta ekor.
Dari data Sapi Perah dan Kerbau (PSPK) 2011 oleh Badan Pusat Statistik, ada kenaikan signifikan pada populasi sapi potong, yaitu 1,7 juta ekor.
Data populasi sapi awal tahun 2010 sesuai cetak biru Kementan sebanyak 12,81 juta ekor dan naik menjadi 13,21 juta ekor. Mengacu PSPK BPS 2011, populasi sapi potong sudah di atas cetak biru. Swasembada daging sapi mestinya sudah bisa dicapai.
Masalahnya sekarang usaha ternak sapi masih sebagai sambilan. Sapi sekadar usaha tambahan, belum menjadi bisnis utama masyarakat. Peternak masih menjadikan sapi sebagai tabungan (
Saatnya pemerintah harus menjadikan petani/peternak sebagai pebisnis sapi. Pemeliharaan sapi dijadikan bisnis utama.
Di luar persoalan itu, tata niaga sapi juga buruk. Para belantik acap kali bersepakat di daerah mempermainkan harga sapi peternak dengan cara menekan harga serendah-rendahnya. Peternak tidak punya pasar alternatif karena jaringan para belantik sangat luas dan kompak.
Pemerintah juga tak berselera membenahi pasar hewan untuk memberikan peluang pasar alternatif bagi peternak. Hanya sedikit warga yang tertarik berbisnis budidaya sapi. Selain itu, ada kesulitan pakan hijauan.
Di luar persoalan itu, pemangkasan impor daging sapi dan sapi bakalan hingga 50 persen juga mengguncang periuk nasi para importir daging dan pengusaha penggemukan sapi. Mereka pula yang selama ini bisa menjadi katup pasokan daging dan sapi impor ataupun lokal ke pasaran.
Bagaimanapun, pencapaian swasembada daging sapi tetap jadi prioritas sambil terus membangkitkan minat bisnis budidaya sapi dan pasar hewan alternatif.