Mayat Dalam Rumah Baru Diketahui Tujuh Bulan Kemudian

Kompas.com - 20/11/2012, 03:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Informasi kematian ABP Simanjuntak sungguh membuat miris. Betapa tidak, ia baru diketahui meninggal dunia setelah jasadnya sekitar tujuh bulan terbaring di rumahnya di Jalan Siaga 2C No 25A, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Kematiannya baru diketahui sekitar pukul 14.30 WIB tadi oleh tiga saksi," ungkap Komisaris Adri Desas Furiyanto, Kepala Polsektro Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (19/11/2012) malam. Ketiga saksi dimaksud adalah RS (54), perempuan yang tak lain adalah saudara ipar korban; S (50), pengemudi mobil RS; dan H (48), petugas keamanan kompleks yang juga tetangga korban.

Adri menjelaskan, RS ditemani S hendak berkunjung untuk melihat kondisi korban pada sore tadi. Karena kondisi rumah yang tak terawat, mereka meminta bantuan H untuk menemani keduanya memasuki rumah. "Saat mereka masuk pintu pagar, rumah korban sudah terbuka. Kemudian mereka masuk ke halaman depan rumah korban, dan melihat jendela sudah terbuka. Sementara itu, pintu rolling door dalam keadaan tertutup rapat," urai Adri.

Karena pintu depan rumah tersebut dalam keadaan terkunci, ketiganya lantas memasuki rumah melalui jendela yang terbuka. Mereka selanjutnya memasuki kamar tidur yang biasa digunakan korban. Saat itulah mereka menyaksikan pemandangan yang mengejutkan. "Korban di kamar sudah tidak bernyawa dalam posisi tidur terlentang di kasur, tinggal tulang belulang," kata Adri. Saat itu bau busuk masih tercium.

Melihat kondisi korban, mereka pun memutuskan untuk menghubungi Polres Metro Jaksel dan Polsektro Pasar Minggu. Petugas yang datang pada sore hari langsung mengamankan sejumlah barang yang bisa dijadikan petunjuk. Di antaranya terdapat dompet yang berisi identitas korban, obat-obatan dan rekomendasi medis, ponsel Nokia yang sudah tidak aktif, serta uang senilai Rp 276.000.

Korban diketahui beralamat di Jalan Mayor Oking Jaya Atmaja, Cibinong, Bogor. Menurut tetangganya, korban sudah lama terlihat sendirian menempati rumah tersebut. Kondisi korban yang sakit-sakitan mengakibatkan rumah tersebut tampak tak terawat. Dengan situasi tanpa penghuni, rumah dengan pagar besi berwarna hijau dan dikelilingi pagar tembok itu tampak dipenuhi tumbuhan dan pepohonan yang tumbuh liar.

"Info dari saksi 3 (H) bahwa korban memang sudah tidak pernah kelihatan semenjak 3-7 bulan lalu," ujar Adri. Tim identifikasi dari Polres Metro Jaksel kemudian melakukan olah TKP. Proses ini selesai pada pukul 19.00 WIB. Sejam kemudian, jasad korban dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk menjalani proses visum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau