Tak Semua Warga Israel Doyan Perang

Kompas.com - 20/11/2012, 09:33 WIB

TEL AVIV, KOMPAS.com Wakil Perdana Menteri Israel dan Menteri Urusan Strategis, Moshe Yaalon, sangat tegas. "Rakyat Israel di seluruh negeri mendukung aksi (militer) ini," katanya dalam sebuah konferensi pers pada minggu ini tentang krisis di Gaza.

Kebanyakan tentu saja! Namun, sebagian kecil rakyat Israel masih meneriakkan suara yang berbeda.

Di Tel Aviv, Jumat lalu, sekitar 1.000 orang berkumpul untuk memprotes pengeboman di Gaza. "Kami datang ke sini untuk mengatakan bahwa satu lagi pertumpahan darah merupakan sebuah masalah. Itu bukan solusi," kata anggota Knesset (DPR Israel) dan dikenal juga sebagai aktivis perdamaian, Dov Kenin, kepada massa yang berkumpul.

"Rakyat menuntut gencatan senjata," teriak massa itu menimpali.

Sejumlah video di YouTube tentang acara itu menunjukkan bahwa di sisi lain jalan, sebuah kelompok demonstran yang lebih kecil tetapi bersuara lebih lantang yang pro-perang menghadang mereka. "Pergi sana ke Gaza," kata mereka. "Biar militer Israel tendang pantat (kalian)!"

Ada lagi protes lain, protes kecil, di Jerusalem, Jumat lalu. Sekitar 50 orang Israel berdiri, diam, berpakaian hitam-hitam, tidak jauh dari kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mereka memegang plakat yang berbunyi "Hentikan Pendudukan".

Peristiwa itu tak seberapa dibanding aksi 100.000 orang yang berbaris di jalan-jalan Tel Aviv saat menuntut perdamaian pada 1978, ketika Menachem Begin pergi untuk menghadiri pembicaraan yang mengarah ke perjanjian Camp David antara Israel dan Mesir.

"Ya, ada sekelompok kecil orang yang secara aktif mempromosikan perdamaian di Israel," kata Lior Amihai, anggota dari Peace Now, sebuah LSM yang mendukung solusi dua negara bagi konflik Palestina, yang akan mencakup penarikan Israel dari sebagian besar wilayah permukiman di Tepi Barat, kepada wartawan Sydney Morning Herald, Judith Whelan, yang sedang melakukan study tour ke Israel atas sponsor dari NSW Jewish Board of Deputies.

"Sejak tahun 2000 kelompok ini telah terpinggirkan." Alasannya kompleks, kata Amihai. Kegagalan pembicaraan perdamaian dalam dekade lalu telah membawa pesimisme tentang sebuah solusi akhir. "Dan ada kampanye bahwa tidak ada mitra perdamaian di sisi Palestina" setelah Ehud Barak, saat ini Menteri Pertahanan "pergi ke Camp David dan pulang dengan mengatakan tidak mungkin untuk bernegosiasi."

Segera setelah itu, intifada jilid kedua pecah.

"Jika Anda berbicara tentang masyarakat Israel, apa yang benar-benar menjauhkan mereka dari perdamaian adalah bom bunuh diri dan operasi militer di Tepi Barat," kata Amihai kepada Whelan.

Faktor kedua adalah "hampir semua warga Israel menjadi tentara". Semua orang menjalankan dinas militer, "dan ayah, saudara, Anda sendiri, bahkan ibu Anda menjadi anggota tentara cadangan—semua orang terlibat dalam pertahanan."

Faktor ketiga adalah situasi di Gaza sendiri, kata Amihai. Pasukan Israel ditarik mundur pada September 2005, dan "apa yang kami terima adalah roket dari Jalur Gaza. Jadi, ketika Anda berbicara dengan rakyat (Israel) tentang apa yang Anda inginkan dari orang Palestina, mereka mengatakan, 'Kita mundur dan lihat apa yang kita terima'."

"Pada sisi lain, semua orang takut," tutur Ronny Israel, guru seni grafis di Tel Aviv yang membuat halaman Facebook bernama Israel-Loves-Iran delapan bulan yang lalu, ketika warga Israel berpikir bahwa pemerintah mereka akan segera menempuh tindakan militer terkait pengayaan nuklir Iran.

Halaman itu, yang sederhana tetapi kuat secara grafis, memberi pesan "Please Stop War", masih ada dan telah menjadi message board bagi kegiatan perdamaian. Pada minggu ini, kata Israel, setengah juta orang berkunjung ke halaman itu, dan pada akhir minggu, ia berharap lebih dari satu juta akan mengunjunginya.

"Namun, itu orang-orang dari seluruh dunia," katanya kepada Whelan. "Tidak ada keterlibatan yang cukup (memadai) dari warga Israel dan Palestina dalam masalah itu."

Gerakan perdamaian di Israel kecil, katanya, karena "sangat rumit untuk menuntut perdamaian". Ada terlalu banyak kompleksitas dalam hubungan antara dua kelompok itu.

"Karena kekerasan, setiap orang berada dalam posisinya sendiri dan tidak bersedia untuk bergerak ke sisi lain. Tapi bagi saya, ini langkah awal dalam setiap proses perdamaian. Anda harus memahami bahwa pihak lain juga seperti Anda. Ya, beberapa dari mereka gila, (itu ada) di kedua sisi ... tapi kebanyakan adalah orang-orang biasa."

Sebagian besar warga Israel dan Palestina siap untuk hidup berdamai, katanya, tetapi kaum ekstremis memiliki suara yang lebih lantang dalam debat publik.

Di Israel, hanya ada satu partai di Knesset yang secara terbuka berbicara tentang solusi dua-negara, yaitu Partai Meretz yang merupakan aliansi sayap kiri dengan basis dukungan yang relatif kecil.

Pemerintahan Netanyahu sendiri mempertahankan dukungan bagi permukiman Yahudi dan doyan dengan aksi militer untuk melawan kekerasan. Minggu ini, Menteri Dalam Negeri, Eli Yishai, mengatakan, "Tujuan dari operasi militer adalah untuk mengirim Gaza kembali ke Abad Pertengahan. Hanya dengan begitu Isreal bisa tenang selama 40 tahun."

"Tentu saja sulit untuk mempertahankan optimisme," kata Amihai. "Mereka (rakyat Israel) percaya pada pemerintah dan apa yang dikatakannya."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau