Krisis Bahan Bakar Meluas

Kompas.com - 24/11/2012, 02:47 WIB

Batam, Kompas - Krisis bahan bakar minyak, terutama premium dan solar, tidak hanya terjadi di Pulau Flores, tetapi kini juga meluas hingga ke sejumlah kota, antara lain Batam, Balikpapan, dan Kupang. Selain penyelewengan, kelangkaan itu juga disebabkan pengurangan pasokan oleh Pertamina.

Pada Jumat (23/11), 20 dari 30 SPBU di Batam mengumumkan kehabisan solar. Pengumuman serupa kerap muncul sejak tiga pekan lalu. Akibatnya, muncul antrean kendaraan lebih dari 200 meter di SPBU.

Untuk premium, keterbatasan pasokan mulai terasa sejak Rabu lalu. Jumat pagi, sejumlah SPBU resmi membatasi pembelian premium. Setiap mobil hanya boleh membeli 22 liter dan sepeda motor 2 liter. Bahkan, ada SPBU hanya mengizinkan pembelian 11 liter untuk setiap mobil.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, antrean panjang kendaraan, terutama solar, juga tampak di beberapa SPBU, seperti di Manggar (Balikpapan Timur) dan di SPBU Stalkuda (Balikpapan Selatan). ”Biasanya antrean sudah menghilang setelah jam 9, tetapi kini antrean hingga siang, bahkan meluber ke jalan,” ujar Rachmat, warga Balikpapan Timur.

Di Kupang, NTT, sudah sekitar empat hari hingga Jumat (23/11) sore, kelangkaan solar masih terjadi. Akibatnya, sekitar 12 SPBU di kota itu disesaki antrean panjang kendaraan pengguna solar.

Manajer SPBU Naikoten, Kota Kupang, Leksi Radja mengaku, sebelumnya setiap hari Pertamina mengirim delapan tangki BBM, yakni bensin empat tangki, pertamax dua tangki, dan solar dua tangki, masing-masing 5.000 liter. Namun, sejak 15 November hanya dikirim tiga tangki, masing-masing jenis satu tangki.

”Dua hari terakhir BBM di sini kosong. Kendaraan tidak antre karena kami langsung memasang tanda ’kosong’ di depan pintu masuk. Antrean terjadi di SPBU yang masih menyisakan bahan bakar. Di Kota Kupang ada 12 SPBU. Hari ini ada delapan SPBU kosong sama sekali sehingga kendaraan semua tumpuk di lima SPBU yang masih ada BBM,” kata Leksi.

Ada pengendalian

Manajer Pemasaran Pertamina Wilayah Kepulauan Riau Ketut Permadi mengatakan, ada pengendalian pasokan ke SPBU di Batam. Sebab, penyaluran terus membengkak dan tahun 2012 belum selesai. ”Pasokan dikurangi, tapi titik distribusinya lebih banyak. Kalau dulu satu SPBU dapat 24 kiloliter setiap pengiriman, kini 8 kiloliter. Sisanya dibagi ke SPBU lain,” ujarnya.

Setiap hari Pertamina memasok 550 kiloliter premium dan 242 kiloliter solar. Pola pasokan diubah dari beberapa hari sekali menjadi setiap hari. ”Pengendalian lebih ketat untuk mencegah penyaluran melewati kuota. Sebenarnya kelebihan kuota sudah terjadi seperti di awal tahun, penyaluran di Batam 150 persen dari kuota.,” ujarnya.

Pertamina menyediakan alternatif berupa BBM nonsubsidi. Sampai akhir 2012, pertamax tersedia di 29 SPBU dan solar nonsubsidi di 13 SPBU.

”Dengan pengitiran, penyaluran harian premium subsidi ke SPBU dikurangi 10-15 persen dari sebelumnya, sedangkan penyaluran harian solar subsidi berkurang 70 persen,” ujar Pjs Asisten Manager Hubungan Eksternal Pertamina Unit Pemasaran VI Rudi Biantoro.

Pengitiran dilakukan karena kuota BBM subsidi 2012 nyaris habis. Per 18 November, untuk wilayah Kaltim sudah disalurkan premium subsidi 539.842 kl, padahal kuota hanya 591.971 kl. Jika Pertamina menyalurkan seperti biasa, yakni 1.692 kl per hari, maka sebelum akhir Desember tidak ada sisa lagi.

Kelangkaan diduga akibat penyelewengan. Hampir setiap pekan polisi di Kepulauan Riau menangkap mobil penyeleweng solar. Mobil itu dilengkapi tangki berkapasitas ratusan liter atau berkali lipat dari kapasitas tangki asli. (RAZ/KOR/ANS/SEM/PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau