Hamas: Indonesia Jauh di Mata, Dekat di Hati

Kompas.com - 30/11/2012, 03:49 WIB

GAZA, KOMPAS.com — Perdana Menteri Hamas yang menguasai Jalur Gaza, Ismail Haniya, mengatakan, Indonesia cukup terkenal bagi rakyat Palestina.

"Indonesia secara geografis memang jauh, tetapi dekat di hati bangsa Palestina," kata PM Haniya saat menerima rombongan DPR-RI disertai sejumlah wartawan dan pegiat bantuan kemanusiaan Indonesia untuk Gaza, Kamis (29/11/2012) petang waktu setempat.

Rombongan Indonesia yang dipimpin Ketua Komisi I DPR, Mahfudz Siddiq, itu beranggotakan 49 orang terdiri atas 7 anggota Komisi I DPR, 10 wartawan, selebihnya pegiat kemanusiaan, di samping beberapa staf KBRI Kairo dan KBRI Amman, Jordania.

Dalam kesempatan itu, Haniya menjelaskan agresi militer baru-baru ini yang digambarkannya sebagai yang paling menyakitkan.

"Kendati agresi itu sangat menyakitkan, kami merasa tidak sendiri karena Palestina didukung oleh dunia internasional, termasuk Indonesia," tuturnya.
"Kami menonton televisi dan kami menyaksikan banyak orang Indonesia turun ke jalan berunjuk rasa mendukung Palestina dan mengutuk musuh kami," lanjut Haniya.

"Palestina menghargai pendukung yang turun ke jalan dan kami juga berterima kasih kepada mereka yang tetap di rumah, tetapi mendoakan keberhasilan perjuangan kami menuntut kemerdekaan," ungkapnya.

Seusai pertemuan dengan PM Haniya, sebuah puisi dari korban tsunami Aceh dibacakan untuk rasa solidaritas bagi warga Gaza dan disambut tepuk tangan oleh PM Haniya dan hadirin.

Sementara itu, Mahfudz menjelaskan, pihaknya sengaja membawa rombongan cukup besar itu untuk menunjukkan bahwa Indonesia bersimpati kepada rakyat Palestina.

"Misi utama kami hadir di Gaza ini, selain untuk menyampaikan dukungan politik, juga menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa obat-obatan dan uang tunai berkisar satu juta dollar AS," kata Mahfudz.

Masalah Palestina, katanya, bukan Palestina sendiri, melainkan juga merupakan masalah Arab dan dunia Islam dengan keberadaan Masjidil Aqsa. "Kami memelihara warisan Islam, yakni Masjid Aqsa, warisan milik dunia Islam," katanya.

Sebelumnya, rombongan diterima Wakil Ketua Parlemen Palestina Ahmad Bahar dan jajarannya di gedung parlemen dan jamuan makan siang. Bahar menegaskan rakyat Palestina senantiasa tetap tegar kendati sering digempur Israel.

"Kami selalu tegar dan kemenangan tetap berada di tangan Palestina," katanya.

Bahar mengisahkan bahwa gedung parlemen itu awalnya empat lantai, tetapi kini hanya tinggal satu lantai akibat dihantam bom Israel. Jamuan makan siang untuk rombongan Indonesia diadakan di tenda emperan depan gedung parlemen.

Di sisi lain, Ketua Umum Komite Nasional untuk Rakyat Palestina, Suripto, dalam pertemuan di parlemen tersebut menjelaskan, pihaknya berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat sebesar satu juta dollar AS atau sekitar Rp 9,5 miliar. Suripto menjelaskan, para penyumbang itu kebanyakan warga pas-pasan.

"Ada seorang ibu menjual perhiasan pribadinya untuk menyumbangkan kepada Gaza," tutur Suripto.

Masyarakat Gaza menyambut hangat rombongan Indonesia dengan melambaikan tangan dan mengacungkan dua jari bentuk victoria kepada bus rombongan yang melewati mereka di sepanjang jalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau