Kompetisi pelajar

Bahasa Inggris Itu Keharusan

Kompas.com - 30/11/2012, 12:13 WIB

KOMPAS.com - Sejak dini, keterampilan dan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, wajib dipelajari kaum muda. Penguasaan bahasa Inggris itu bukan untuk kita bergaya, atau sok pinter-pinteran, tetapi demi menggapai ilmu dan wawasan yang lebih luas.

Apalagi kemahiran berbahasa asing saja sebenarnya belum cukup, kita sebaiknya juga mempunyai kemampuan di berbagai bidang lain. Dalam acara Youth Speak Fun Day atau YSFD yang digelar di Balikpapan Sport and Convention Center, Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Oktober lalu, kaum muda unjuk kebolehan masing-masing.

Ada sekitar 3.000-an pelajar SMA, SMK, dan MA ikut memeriahkan acara yang diisi berbagai kompetisi dan permainan berbasis bahasa Inggris.

YSFD diisi serangkaian kegiatan kompetitif yang menguji keterampilan berbahasa Inggris, seperti Student Debate, Spelling Bee, Speech Contest, Writing Competition, News Reading, Song Lyric Competition, dan Photography Contest.

Dalam perhelatan tersebut juga ada permainan jenaka seperti Poster Production, Newspaper-based Fashion, Drama, dan olah kata Scrabble. Biar lebih seru, acara tersebut dimeriahkan pula dengan grup vokal, band, tarian tradisional dan modern, serta bazar makanan-minuman.

Acara yang melibatkan ribuan kaum muda itu diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan The Jakarta Post Foundation, dan Chevron Indonesia.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim yang membuka acara tersebut mengatakan, pendidikan yang baik akan mendorong manusia Indonesia menggapai ilmu, wawasan, dan teknologi. Di sinilah bahasa Inggris yang dikuasai sejak kita masih remaja, penting untuk pencapaian tujuan tersebut.

”Bangsa kita dikaruniai sumber alam tak terhingga, baik mineral maupun kelautan, yang belum dieksplorasi dengan baik. Jika dikelola baik oleh para tenaga andal, maka (semua kekayaan alam itu) akan mempunyai nilai tambah. Namun semua itu hanya bisa dicapai dengan pendidikan, dengan penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dengan begitu, Indonesia akan bisa berkompetisi dengan negara lain,” kata dia.

Pentingnya kompetisi

Musliar juga mengingatkan, dalam 10-20 tahun ke depan, populasi tenaga produktif Indonesia akan lebih banyak. Kita-lah, kaum muda atau pelajar sekarang ini, yang nantinya bakal mengisi lapangan kerja di Tanah Air.

Nah, kalau kita tak punya kemampuan yang memadai, lalu bagaimana Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain di dunia? Jelas, kita enggak mau, kan, melihat Indonesia terpuruk!

Penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris secara personal, menurut Lexi Zaggy, siswa kelas XI SMAN 4 Balikpapan, memang penting. Di sisi lain, kompetisi untuk mengasah keterampilan berbahasa Inggris tersebut juga sama pentingnya. Lewat kompetisi, kita setidaknya bisa mengukur seberapa jauh kemampuan kita berbahasa Inggris.

”Idealnya, keterampilan kita berbahasa Inggris semestinya juga diimbangi dengan penguasaan bahasa dan budaya daerah. Jangan sampai bahasa Inggris kita kuasai, tetapi bahasa daerah sendiri malah tidak bisa,” ujar Lexi.

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi berharap YSFD bisa diselenggarakan rutin setidaknya setiap tahun. Alasan dia, kegiatan ini bermanfaat bagi pelajar. Acara seperti YSFD bisa menumbuhkan iklim pendidikan dan kompetisi yang sehat.

Sebelumnya, YSFD diselenggarakan di Denpasar, Bali, 22 September 2012. Setelah Balikpapan, kota berikut yang menggelar acara tersebut adalah Pekanbaru, Riau, pada 17 November. Acara serupa rencananya juga digelar di Jakarta, tanggal 1 Desember mendatang.

Selain berkompetisi, dalam acara tersebut para pelajar juga unjuk kemampuan dalam bidang yang lain. Para pelajar SMA Kartika Balikpapan misalnya, memanfaatkan koran menjadi busana yang menarik. Sementara pelajar putri SMA 1 Balikpapan memamerkan kemampuan mereka menari tarian tradisional Dayak.

Adapun para pelajar SMA 8 Balikpapan menunjukkan kemahiran mereka membuat camilan dengan bahan baku dari mangrove (bakau). Hasilnya antara lain kue nastar, ciput, dan cake. Mereka juga membuat suvenir berbahan baku mangrove, antara lain berupa gantungan kunci dan produk magnet yang biasa ditempelkan di pintu kulkas.

Keterampilan kita berbahasa Inggris, idealnya juga seiring dengan keterampilan dalam bidang lain. Para pelajar di Balikpapan bisa membuktikan hal itu. Mereka mampu menampilkan sesuatu yang menarik, mengasyikkan, sekaligus bermanfaat. Jika kita bisa melakukan banyak hal yang positif, tidak ada alasan untuk tawuran kan? (PRA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau