Hedi rusdian gunawan

Semangat Cadas Sang Raja Kepala Sabuk

Kompas.com - 01/12/2012, 03:33 WIB

OLEH DIDIT PUTRA ERLANGGA RAHARDJO

Usianya baru 20 tahun, tetapi Hedi Rusdian Gunawan sudah paham makna dari kesungguhan, kreativitas, dan keindahan pada detail. Dalam usianya yang tergolong belia, dia sudah menjadi presiden dan CEO dari produsen ”buckle” atau kepala ikat pinggang Fourspeed Metalwerks. Usaha itu mampu mempekerjakan 40 orang di dua negara, yakni Indonesia dan Amerika Serikat.

Awal November lalu, Hedi baru menandatangani naskah kerja sama pembuatan kepala ikat pinggang dan cincin dalam jumlah sangat terbatas. Rekan kerja samanya tersebut adalah band trash metal yang sudah mendunia, Sepultura.

”Perjanjian itu ditandatangani seusai mereka tampil di Senayan (Jakarta), Sabtu (10/11) lalu,” ujar Hedi ketika ditemui di Bandung pada pertengahan November 2012.

Dalam perjanjian tersebut, Hedi membuat masing-masing 250 buah kepala ikat pinggang dan cincin dengan desain Sepultura untuk dipasarkan di Amerika Serikat. Barang yang diproduksi dalam jumlah terbatas itu harga satu buahnya bisa mencapai sekitar Rp 2 juta.

Pihak Sepultura tidak mematok sampai kapan kerja sama ini akan berlangsung. Ini berarti ada kemungkinan Hedi masih bisa memproduksi barang tersebut untuk mereka dalam masa mendatang.

Kerja sama tersebut juga dikabarkan sang vokalis, Derrick Green, melalui akun Twitter-nya. Bahkan, dalam akun Facebook Sepultura, pujian juga diberikan pada karya Hedi. Kata mereka, ”Fourspeed (Metalwerks) adalah karya yang terbaik dari Indonesia.”

Sebenarnya Sepultura bukanlah band rock pertama yang bekerja sama dengan Fourspeed Metalwerks. Sebelumnya Hedi sudah pernah membuat kepala ikat pinggang untuk beberapa band lain, seperti House of Pain, Pantera, Slayer, dan Motorhead. Pengakuan mereka kepada Hedi tidak datang tiba-tiba, melainkan terjadi karena kombinasi antara keberuntungan dan kesungguhannya dalam berkarya.

Salah satu keunggulan yang dimiliki kepala ikat pinggang buatan Hedi sehingga bisa bersaing dengan produk sejenis di Amerika Serikat adalah detailnya. Bahan yang dipakai Hedi adalah campuran timah bebas timbal (pewter) yang dituang ke dalam cetakan yang sudah dibuat secara mendetail oleh para artisan atau dia sendiri.

Hedi lalu menunjukkan cincin bermotifkan tengkorak yang kaya detail, mulai dari lekuk hingga bentuk gigi, maupun hiasan di atasnya.

Kota kreatif

Fourspeed Metalwerks memiliki bengkel di daerah Margahayu Raya, Kota Bandung. Di sinilah tempat seluruh kepala ikat pinggang itu diproduksi. Produk yang sudah jadi kemudian dikirimkannya ke sebuah gudang di Seattle, Amerika Serikat.

Dari Seattle, produk dari Bandung itu kemudian dipasarkan di berbagai tempat di benua tersebut. Hedi menjalankan usaha Fourspeed Metalwerks bersama sang kakak, Abe Aditya (23).

Meskipun dipasarkan di luar negeri, Hedi tidak pernah menutupi asal muasal produknya. Dia bahkan membubuhkan tanda pengenal berupa ”Made with pride in Bandung, Indonesia” atau dibuat dengan penuh rasa bangga di Bandung, Indonesia. Alasannya sederhana, dia ingin konsumen di luar negeri bisa mengakui kualitas barang buatan Indonesia.

”Ini juga termasuk bagian dari promosi kebudayaan maupun identitas Kota Bandung sebagai kota kreatif,” kata Hedi menambahkan.

Reputasi mendunia dari produk Fourspeed Metalwerks kerap membuat salah paham dari masyarakat Indonesia. Hedi menceritakan pengalamannya memajang produk mereka di halaman jejaring sosial semisal Facebook ataupun Instagram.

Pengguna dari Indonesia menyangka kepala ikat pinggang buatannya adalah produk luar negeri. Mereka baru sadar bahwa itu produk Indonesia sewaktu Hedi sesekali mengunggah foto makan siangnya yang bermenu jengkol.

Dia menceritakan, salah satu penyebab Fourspeed Metalwerks menggarap pasar internasional adalah belum siapnya pasar di dalam negeri. Maksud Hedi, masyarakat di Indonesia masih memandang kepala ikat pinggang dari fungsinya, bukan seni di balik desainnya.

Itulah kenapa masih banyak konsumen di Indonesia yang terang-terangan menyatakan keheranan mereka dengan harga yang dianggap terlampau mahal untuk ”sekadar” kepala sabuk.

Namun, ujar Hedi, itu hanyalah penilaian dari sebagian konsumen. Pada sebagian lainnya mulai tumbuh pemahaman tentang nilai seni di balik kepala sabuk. Beberapa musisi dalam negeri juga sudah bekerja sama dengan Fourspeed Metalwerks, seperti Melanie Subono, band Naif, dan Ipang.

”Suatu saat nanti saya akan menggarap pasar dalam negeri secara lebih serius seperti saya menggarap pasar luar negeri,” ucap Hedi.

Kini dia meluncurkan produk untuk pasar dalam negeri yang dibuat dalam jumlah besar, tetapi tidak diedarkan ke luar negeri. Dengan kualitas penggarapan yang sama, Hedi mematok harga Rp 200.000 hingga Rp 500.000 untuk satu buah kepala sabuk.

Ulet

Kiprah Hedi dalam dunia usaha sudah dimulai sejak tahun 2005. Ketika itu dia masih membantu Fourspeed Metalwerks yang dikelola sepupunya, Hilton Kurniawan. Waktu itu produk mereka ditawarkan melalui katalog yang dititipkan ke beberapa distro di Bandung. Begitu Hedi diserahi usaha tersebut, yang terlintas adalah keinginan untuk membawa produknya ke luar negeri.

”Band pertama yang melintas di kepala saya adalah band hip-hop favorit saya, House of Pain,” kata Hedi.

Dia kemudian mengirimkan sampel produknya kepada manajemen band tersebut pada tahun 2010, tetapi ditolak. Barangkali saat itu pihak manajemen band melihat perusahaannya belum mapan.

Namun, Hedi tidak menyerah. Dia lalu mendekati orang-orang di lingkaran pergaulan sosial para personel band tersebut. Usahanya tidak sia-sia, saat karyanya ditemukan sang vokalis, Danny Boy. Bahkan, Danny Boy sendiri yang kemudian menghubungi Hedi untuk mengajak bekerja sama.

Sejak itu Hedi semakin percaya diri menawarkan produknya kepada para musisi metal di Amerika Serikat. Ia terbantu dengan promosi ”getok tular” alias dari mulut ke mulut. Dengan cara ini pula terbuka kesempatan bagi Fourspeed Metalwerks berkolaborasi dengan Sepultura.

Kini dia mengincar grup Metallica untuk diajak bekerja sama. Keinginan Hedi bukan sekadar basa-basi karena dia sudah bekerja sama dengan istri basis grup tersebut, Chloe Trujillo. Tinggal selangkah lagi menjelang cita-citanya itu tercapai.

Dengan pencapaian ini Hedi membuat kejutan dengan mengaku bahwa dia adalah lulusan SMA yang tidak lulus dalam tes penerimaan mahasiswa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).

Meski demikian, dia tidak pernah menyesali jalan hidupnya karena sekarang justru Hedi yang diundang sebagai pembicara oleh mahasiswa FSRD ITB. Bahkan, dia menjadi ”pembimbing” tugas akhir mahasiswa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau