Penanaman modal

Investasi Perikanan Masih Minim

Kompas.com - 03/12/2012, 03:01 WIB

Jakarta, Kompas - Investasi untuk sektor kelautan dan perikanan di Indonesia hingga kini masih rendah. Momentum kestabilan perekonomian Indonesia seharusnya dimanfaatkan untuk mendorong investasi sektor kelautan dan perikanan yang menghasilkan nilai tambah.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, di Jakarta, Minggu (2/12), mengemukakan, investasi di sektor kelautan dan perikanan hingga kini masih tertinggal. Kondisi ini kontras jika dikaitkan dengan riset McKinsey bahwa perikanan merupakan salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi pada tahun 2030.

Pada triwulan II (April-Juni) tahun 2012, realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor perikanan sebesar Rp 14 miliar atau hanya 0,1 persen dari total PMDN, dan 0,4 persen dari total investasi dalam negeri sektor primer.

Adapun investasi sektor perikanan berupa penanaman modal asing (PMA) sebesar 19 juta dollar AS atau 0,3 persen dari total PMA atau sebesar 1,2 persen dari total PMA di sektor primer.

”Kegiatan investasi sektor perikanan belum menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang penting,” ujar Yugi.

Sejumlah kendala yang menghambat investasi sektor kelautan dan perikanan antara lain perbankan masih alergi dalam mengucurkan permodalan, usaha perikanan masih dianggap berisiko tinggi. Kendala lain adalah infrastruktur perikanan yang minim, seperti kekurangan air, gudang pendingin ikan, dan sambungan listrik.

Selain itu, pencurian ikan yang masih dibiarkan marak telah menurunkan gairah investasi. Pencurian ikan telah menimbulkan kerugian besar terhadap negara dan menurunkan daya dukung sumber daya ikan.

”Pemerintah perlu mendorong iklim investasi yang kondusif berupa kemudahan perizinan, ketersediaan infrastruktur, dan jaminan keamanan,” ujarnya.

Hari Senin ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan menggelar Pameran Investasi Perikanan Tangkap dan Budidaya 2012 di Jakarta. Pameran itu ditargetkan mendorong investasi baru di sektor usaha kelautan dan perikanan skala menengah, yakni dengan nilai investasi di bawah Rp 10 miliar.

Menurut Yugi, Indonesia merupakan negara yang menarik bagi investasi dibandingkan dengan sembilan negara anggota ASEAN lainnya. Hal ini ditunjang oleh inflasi yang relatif terkendali, dan nilai rupiah yang relatif stabil.

Daya pikat investasi itu perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan penanaman modal di bidang perikanan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menargetkan investasi sebesar Rp 23,67 triliun pada tahun 2012 yang tersebar pada usaha perikanan budidaya senilai Rp 21,67 triliun, dan usaha pengolahan serta pemasaran hasil perikanan senilai Rp 2 triliun.

Sampai dengan triwulan III tahun 2012, realisasi investasi usaha perikanan budidaya senilai Rp 15,82 triliun, sedangkan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan Rp 1,4 triliun.

Target investasi akan ditingkatkan menjadi sebesar Rp 24,29 triliun pada tahun 2013, meliputi usaha perikanan budidaya Rp 21,79 triliun dan usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan Rp 2,5 triliun.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan, saat ini pemerintah terus membuka diri kepada para investor dari domestik dan luar negeri agar lebih memfokuskan dananya pada usaha di bidang kelautan dan perikanan. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau