Transportasi massal

"Ngintip" di Tengah Antrean Penumpang

Kompas.com - 05/12/2012, 03:16 WIB

Kepadatan penumpang di Halte Transjakarta Harmoni pada pagi hari tidak hanya menjengkelkan bagi sebagian penumpang. Rupanya ada juga yang memanfaatkan situasi untuk melakukan tindakan asusila.

Perbuatan tidak terpuji itu dilakukan Supriyanto (38), Selasa (4/12). Pagi itu, jam menunjukkan pukul 07.00. Penumpang bus transjakarta tujuan Blok M sudah antre. Supriyanto juga ikut mengantre. Pria ini mengenakan kemeja merah, celana panjang kain warna coklat, dan tas selempang. Sekilas, tidak ada yang aneh dari Supriyanto. Apalagi, antrean penumpang pada pagi hari itu didominasi pekerja kantoran yang rata-rata berdandan rapi.

Di tengah desak-desakan penumpang, dia memanfaatkan kamera ponsel dan senter di pena untuk melaksanakan niat jahatnya. Dengan alat yang diletakkan di tas, dia merekam bagian vital perempuan dari bawah rok korban. Korban berinisial ATG itu berdiri di depan pelaku.

Niat ini tidak diketahui korban, hingga penumpang di belakang pelaku menegur pelaku dengan suara kencang. Pelaku sempat ketakutan lantaran ketahuan. Tidak lama, penjaga halte langsung menggiring pelaku keluar barisan penumpang.

”Kami langsung menginterogasi pelaku. Setelah itu, kami bawa dia ke pos polisi di Harmoni. Dari situ, kami bawa pelaku ke Polres Jakarta Pusat,” kata Adof dan Ardi, petugas keamanan Halte Harmoni.

Supriyanto menjalani pemeriksaan. Dia juga lantas mendekam di sel penjara Polres Jakarta Pusat.

Kejadian ini bukanlah pertama kali. Beberapa kali muncul laporan perbuatan asusila, termasuk pelecehan seksual, yang terjadi di transportasi publik.

Saat ditanya wartawan, Supriyanto mengaku memiliki perilaku seksual yang berlebihan. Pengguna transportasi publik ini mengaku kerap mengintip rok perempuan yang duduk di seberang saat menumpang angkutan kota seperti Mikrolet.

”Biasanya, hanya saya lihat. Baru dua kali ini saya merekam. Hasil rekaman ya untuk ditonton sendiri saja,” katanya.

Kebiasaan ini, menurut Supriyanto, berlanjut meskipun dia sudah menikah sebulan lalu.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Rahmat mengatakan, pihaknya masih mendalami kasus ini. ”Sementara kami mintai keterangan dulu dari pihak korban, pelaku, dan saksi-saksi,” ucapnya.

Di ruang publik

Supriyanto mengaku lebih sering melaksanakan niat jahatnya di ruang publik seperti angkutan umum dan halte. ”Ya, karena lebih mudah saja mencari korban dan menutupi perbuatan saya,” katanya.

Jam sibuk seperti pagi dan sore hari, menurut Supriyanto, juga lebih mudah menyamarkan tindakan jahatnya.

Sementara itu, transportasi publik seperti bus dan kereta masih menjadi pilihan bagi sebagian orang di Jakarta.

Andi, ayah korban, mengatakan, putrinya memang sudah lama menjadi pengguna transjakarta. ”Dia selalu naik bus saat berangkat kerja karena rumah kami dan tempat kerjanya dilalui transjakarta,” ucap Andi.

Setiap hari, putrinya berangkat dari rumah di Kalideres sekitar pukul 06.30. Dia menumpang transjakarta dari Kalideres menuju ke kantor di kawasan Sudirman. Untuk itu, ATG harus berganti bus di Harmoni.

”Kalau jam segitu, penuhnya minta ampun. Mana sering lama juga nunggu bus. Barangkali, ini juga yang membuat ada pelaku kejahatan yang masih beraksi di halte atau bus,” tutur Andi saat menunggu putrinya memberikan keterangan kepada polisi.

Keamanan dan kenyamanan mengakses transportasi publik, termasuk halte bus, merupakan harapan pengguna transportasi publik. Karena itu, seluruh pihak perlu ikut serta membenahi transportasi publik. ”Saya harap, sih, kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” kata Andi. (ART)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau