DKI Perkuat Transportasi Bus

Kompas.com - 05/12/2012, 06:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengintegrasikan bus ukuran sedang dengan transjakarta per Januari 2013. Integrasi mulai berjalan di trayek Ragunan-Kuningan dan Ragunan-Grogol. Penataan itu dilakukan agar volume penumpang angkutan publik meningkat.

”Penataan angkutan umum mendesak dilakukan. Kami sedang menyiapkan terobosan untuk merevitalisasi angkutan agar lebih nyaman, aman, dan beroperasi dalam manajemen yang baik. Januari 2013, bus ukuran sedang bisa masuk ke lajur bus transjakarta dengan sejumlah syarat,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono, Selasa (4/12), di Jakarta.

Syarat yang dimaksud adalah penyesuaian fisik bus yang memiliki dek setinggi 110 sentimeter sesuai dengan halte bus transjakarta. Penyesuaian berikutnya penerapan tarif tiket yang bisa dipakai untuk dua moda angkutan sekaligus.

”Nanti, penumpang cukup bayar Rp 5.000 per orang bisa dipakai naik bus ukuran sedang dan transjakarta,” katanya.

Saat ini, belum banyak armada dan perusahaan yang siap. Sambil menunggu waktu peluncuran, Pemprov DKI meminta pengelola bus ukuran sedang menyiapkan penyesuaian fisik dan manajemen yang baik.

”Bus yang dapat berintegrasi adalah bus yang dikelola dengan manajemen sehat. Indikatornya perusahaan pengelola bus umum memiliki sarana perbengkelan, garasi, dan seragam sopir,” katanya.

Pristono mengharapkan integrasi itu mampu meningkatkan kesejahteraan sopir yang selama ini kerja dengan sistem setoran. Dengan demikian, sopir bus ukuran sedang nantinya dapat bekerja dengan sistem gaji seperti sopir bus transjakarta.

”Waktu peresmian integrasi bus ukuran sedang itu kami gelar bersamaan dengan peluncuran transjakarta Koridor XII (Pluit-Tanjung Priok),” katanya menjelaskan.

Standar operasional

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta M Akbar sedang menyiapkan prosedur standar operasional dan mekanisme pengawasan integrasi bus umum. Menurut Akbar, pelayanan dan pengawasan bus ukuran sedang yang terintegrasi dengan jalur transjakarta harus sama. Hal ini untuk menjaga kenyamanan pengguna angkutan publik itu.

”Penggunaan angkutan ini harus memakai tiket seperti bus transjakarta. Integrasi bus umum akan bersinggungan dengan jaringan bus transjakarta Koridor I (Blok M-Kota) dan koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas),” katanya.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta, kata Akbar, saat ini memperbesar kapasitas halte transjakarta. Paling tidak menjadi dua kali lipat dari ukuran saat ini.

”Saat ini saja, kondisi halte sering dipadati penumpang, apalagi nanti jika ada integrasi bus umum,” kata Akbar.

Dia berharap jaringan transportasi publik di Jakarta semakin lancar. Sebab, konsentrasi angkutan umum lebih banyak di lajur bus transjakarta.

Memperbaiki manajemen

Nanang Basuki, Ketua Umum Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja), siap memperbaiki manajemen dan menyesuaikan fisik bus. Saat ini sudah ada 20 bus dek tinggi yang bisa masuk lajur transjakarta. Jumlah bus akan ditingkatkan setelah ada kepastian regulasi dari Pemprov DKI.

”Masuknya bus sedang ke lajur bus transjakarta saya yakin jumlah penumpang bisa meningkat sebab waktu pemberangkatan semakin rapat. Menurut saya, perlu uji coba dahulu sebelum resmi dioperasikan sehingga masyarakat tahu. Selanjutnya perlu disiapkan sistem tiket dan hal-hal lain yang melengkapi,” katanya.

Tanggal 13 November, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengusulkan integrasi bus ukuran sedang masuk ke lajur transjakarta. Integrasi tersebut, sesuai kajian DTKJ, bisa menyelesaikan sebagian masalah angkutan umum di Jakarta. Ketika itu, Ketua DTKJ Azas Tigor Nainggolan mengatakan, rencana revitalisasi bus ukuran sedang perlu didukung dengan pengadaan bus yang mempunyai kualitas sama dengan transjakarta.

Integrasi bus umum tersebut bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta meningkatkan pelayanan transjakarta. Akhir Desember ini, Pemprov DKI menambah 102 bus baru. Tahun 2013, Pemprov DKI kembali menambah 450 bus transjakarta, 150 unit di antaranya merupakan bus gandeng. Pemprov DKI juga akan mempercepat jadwal keberangkatan bus yang saat ini 5-10 menit.

Seiring dengan rencana itu, Dinas Perhubungan DKI mengusulkan penambahan petugas pemantau sterilisasi lajur bus transjakarta. Paling tidak, tahun 2013 ada penambahan 1.000 petugas pemantau sterilisasi yang diangkat dari Satpol PP. Terkait dengan rencana itu, Pemprov DKI juga meninggikan separator lajur bus menjadi 50 sentimeter.

Separator tinggi itu rencananya dipasang di Koridor II (Pulogadung-Harmoni-Kwitang), Koridor III (Kalideres-Pasar Baru), Koridor V (Ancol-Kampung Melayu), dan Koridor VIII (Lebak Bulus-Harmoni). Sementara itu, peninggian separator sudah dilakukan di Koridor VI (Ragunan-Dukuh Atas 2). (NDY)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau