Berdasarkan Data Dasar Gunung Api Indonesia (2011), sebelum tahun 1800, selang waktu erupsi Gunung Lokon sangat lama, mencapai 400 tahun. ”Lokon sudah berubah, tidak bisa diperlakukan seperti dulu,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono.
Tak hanya Lokon, sejumlah gunung api di Indonesia telah berubah dan menuntut perubahan antisipasi. Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang tidur 400 tahun tiba-tiba terbangun dan meletus pada 29 Agustus 2010. Sinabung sebelumnya dikelompokkan Tipe B, artinya tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600-an.
Sebaliknya, Gunung Kelud sebelum tahun 2007 berkarakter letusan eksplosif dengan letusan freatik yang menyemburkan lahar letusan, menyapu area sekitarnya seperti kelud (sapu lidi). Nama Kelud diambil dari karakter letusan seperti tercatat dalam Negara Kertagama dan Kakawin Pararaton. Selama 1.000 tahun antisipasi Kelud lebih terfokus untuk mengantisipasi ancaman lahar letusan ini.
Namun, setelah erupsi 2007, gunung ini membentuk kubah lava. Bagaimana antisipasi Kelud ke depan jadi pekerjaan rumah yang belum terjawab. ”Saya belum tahu bagaimana letusan Kelud ke depan,” kata Surono.
Gunung Merapi di Yogyakarta juga turut berubah karakternya. Pada 20 Agustus 2012, Merapi mengembuskan asap putih kecoklatan berketinggian hingga 70 meter. Sebelumnya, 15 Juli 2012, Merapi menyemburkan asap hingga ketinggian lebih dari 1.000 meter dari puncak. Padahal, letusan Merapi biasanya sangat eksplosif dengan periode lima tahunan. Sebelum periode letusan, karakter Merapi cenderung tenang.
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Badan Geologi Subandriyo mengatakan, sebelum 2010 letusan Merapi biasanya diawali dengan pembongkaran kubah lava dan diakhiri penyumbatan. Setelah erupsi 2010, kubah lava yang terbentuk kecil sehingga kerap terlihat embusan asap. ”Dulu Merapi banyak melakukan guguran lava pijar, sekarang embusan asap,” katanya.
Perubahan karakter Merapi ini bagi Bandriyo tidak terlalu mengkhawatirkan karena karakteristik magmanya tidak berubah. Kandungan silikanya masih 54-56 persen. Walaupun berubah, perubahan itu memang tak seekstrem Kelud.
Ada apa dengan gunung-gunung api di negeri ini?
Surono mengatakan, perubahan karakter gunung-gunung api di Indonesia berkaitan dengan gempa berkekuatan 9,3 skala Richter yang mengguncang Aceh pada 2004. Gempa berskala regional pasti memiliki dampak terhadap pergerakan dan tekanan lempeng bumi, dan pada gilirannya akan memengaruhi aktivitas gunung api.
Dalam rekaman sejarah, gempa Aceh 2004 memang salah satu yang terkuat dalam sejarah. Edward Bryan (Tsunami: The Underrated Hazard, 2008) menyebutkan, gempa Aceh mengeluarkan daya lebih besar dibandingkan dengan total energi yang dilepas oleh seluruh gempa bumi di dunia dalam 10 tahun sebelumnya. Gempa itu juga mengakibatkan seluruh muka bumi bergerak vertikal sedikitnya 1 cm dan melambatkan rotasi bumi 2,7 mikrodetik.
Akan tetapi, kaitan langsung antara gempa bumi dan aktivitas gunung api sebenarnya masih diperdebatkan. Apalagi, tidak semua gunung api di Indonesia berubah karakternya setelah gempa Aceh 2004.
Peneliti gempa dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, menjelaskan, tidak semua gunung api memiliki respons tinggi terhadap gempa tektonik, bergantung pada lokasi dan orientasi sumber gempa terhadap gunung api. Selain itu sangat dipengaruhi kondisi gunung api itu sendiri.
Gunung api yang dapur magmanya dalam dan tingkat aktivitasnya rendah mungkin tidak terpengaruh. Sebaliknya, gunung api yang dapur magmanya dekat permukaan akan terpengaruh dengan guncangan gempa. ”Gunung api mengikuti hukum alam yang selalu berubah. Kita harus siap mengikuti dinamika perubahannya,” kata Surono.
Walaupun masih ada kontroversi, menurut Surono, kenyataan bahwa gunung api selalu berubah tidak bisa lagi dimungkiri. Gunung api memiliki siklus hidup sebagaimana binatang dan planet. Dia lahir, tumbuh, tidur, dan mati dengan skala usia tahunan, ribuan bahkan jutaan tahun. Kita mengenal Gunung Anak Ranakah di Pulau Flores yang baru muncul dari dasar jurang pada 1987.
Kisah Anak Ranakah mengingatkan pada kemunculan Gunung Paricutin di Meksiko. Pada suatu pagi 20 Febuari 1943, seorang petani Meksiko bernama Dionisio Pulido dikejutkan dengan munculnya gunung api di ladang jagungnya, sekitar 320 km barat kota Meksiko.
Pagi berikutnya, Pulido menemukan gundukan tanah itu tumbuh hingga setinggi 10 meter. Dan dalam seminggu, gunung api yang kemudian dinamakan Paricutin telah mencapai ketinggian 170 meter, dan setahun kemudian mencapai 370 meter. Dalam kurun sembilan tahun, Paricutin telah mengeluarkan lava panas yang merusak sejumlah kota dan tumbuh hingga mencapai 2.272 meter. Lalu, gunung api itu kembali tidur.
Dengan melihat evolusi gunung api, Surono mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan ilmu titen dalam memitigasi gunung api. Akan tetapi, kita harus membuka diri untuk juga berubah.