Impor Daging Sapi Naik

Kompas.com - 08/12/2012, 02:45 WIB

Jakarta, Kompas - Kementerian Perdagangan usul kuota impor daging sapi tahun 2013 ditambah. Kuota yang sebelumnya ditetapkan Kementerian Pertanian sebesar 80.000 ton diusulkan naik menjadi 100.000 ton. Pertimbangannya adalah pasokan di dalam negeri masih belum mencukupi.

”Itu baru analisis dan kajian kami. Nanti akan dikonsolidasikan ke Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinator Perekonomian,” kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan kepada Kompas, Jumat (7/12).

Kementerian Perdagangan menilai kenaikan harga daging sapi di pasaran dalam dua bulan terakhir menjadi indikasi kurangnya pasokan daging di dalam negeri. Dari usul tersebut, belum dirinci berapa banyak yang diimpor dalam bentuk daging beku dan sapi bakalan.

Menurut rencana, pekan depan Gita menggelar pertemuan dengan Menteri Pertanian dan Menteri Koordinator Perekonomian untuk mendapatkan gambaran serta informasi secara lengkap. Sebelumnya Kementerian Pertanian mengusulkan kuota impor daging tahun 2013 sebanyak 80.000 ton. Jumlah tersebut turun dibandingkan dengan kuota tahun ini, sebanyak 85.000 ton. Pengurangan kuota tersebut sejalan dengan program swasembada daging.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, kuota impor daging itu adalah 12 persen dari total kebutuhan daging tahun 2013. Dari pola setiap tahun, sebanyak 60 persen kuota diimpor dalam bentuk sapi bakalan dan 40 persen dalam bentuk daging beku. Berdasarkan pantauan harga Kementerian Perdagangan, harga rata-rata daging sapi nasional per 6 Desember Rp 85.038 per kilogram.

Sementara itu Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, Jumat, di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), menegaskan bahwa kuota impor daging sapi tahun 2013 jangan ditambah. ”Kita agar tetap teguh pada target swasembada daging di tahun 2014 dan melakukan segala upaya mewujudkannya,” ujarnya.

”Memang banyak tekanan dari berbagai pihak, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dari negara-negara yang selama ini menyuplai daging sapi ke Indonesia. Tetapi kita harus tetap tegar, jangan goyang. Jangan dulu kuota ditambah,” ujar Rusman seusai membuka pertemuan pembinaan dan bimbingan teknis sarjana membangun desa.

Pemerintah harus kuat

Rusman mengatakan, dalam setiap kebijakan, selalu ada pihak yang dirugikan. Namun, pemerintah harus kuat. Apalagi, stok daging sapi untuk kebutuhan konsumsi lokal mencukupi. Pada awal tahun juga tidak terjadi masalah apa pun. Masalah berupa tingginya harga daging sapi lokal hanya terjadi pada akhir tahun.

Saat ini, porsi daging impor sekitar 18,5 persen kebutuhan daging sapi nasional yang mencapai 500.000 ton per tahun. Tahun 2013, porsi daging sapi impor untuk konsumsi nasional harus ditekan hingga 14,5 persen.

”Kami tetap konsisten. Beri kesempatan kepada kami, bangsa Indonesia, untuk mencapai swasembada daging sapi di tahun 2014. Berbagai langkah harus dilakukan,” kata Rusman.

Langkah-langkah itu di antaranya revitalisasi rumah pemotongan hewan (RPH) dan membuatnya menjadi lebih modern. Ke depan, penjualan sapi hidup harus beralih menjadi penjualan daging sapi beku. Tentunya hal itu harus didukung infrastruktur yang memadai, termasuk cold storage (ruang pendingin) dan mobil berpendingin. Tahun 2013, ada 58 RPH yang direvitalisasi.

Gubernur Jateng Bibit Waluyo berharap RPH modern dapat segera diwujudkan. Sebab, jika peternak dari Jateng menjual daging sapi, akan ada banyak lapangan kerja tercipta. Semua bagian dari sapi yang dipotong dapat dimanfaatkan, mulai daging, tulang, kulit, hingga kotorannya.

Jateng memiliki empat RPH yang masih konservatif. Populasi sapi potong di Jateng mencapai 2,25 juta ekor dan meningkat rata-rata 7 persen per tahun. Diharapkan pada tahun 2014 populasi sapi potong mencapai 2,5 juta ekor. Untuk itu, program inseminasi terus digencarkan.

Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Fadli Zon meminta dilakukan pembatalan rencana ekspor sampel darah ribuan sapi bali. Saat ini uji sampel darah ribuan sapi bali dilakukan di Balai Veteriner Denpasar, yang disinyalir untuk tujuan ekspor ke Malaysia.

”Kita sedang berupaya keras untuk swasembada daging sapi, kok sempat-sempatnya ada pikiran mengekspor sapi bali ke Malaysia,” tutur Fadli Zon.

(ENY/UTI/NMP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau