Satelit China Kejar si Asteroid "Kentang"

Kompas.com - 10/12/2012, 08:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Asteroid Toutatis yang berbentuk kentang akan mencapai titik terdekat dengan Bumi pada Rabu (12/12/2012). Sementara ilmuwan dari banyak negara hanya mengobservasi, China dengan satelitnya mengejar asteroid ini.

Pengejaran itu bukan sesuatu yang direncana memang. Sementara asteroid mendekat pada 12 Desember 2012, satelit China yang bernama Chang'E 2 akan berada pada titik terdekat pada 13 Desember 2012. Satelit itu nantinya hanya akan berjarak beberapa ratus kilometer dari Toutatis.

Dengan kedekatan posisi satelitnya, China berpeluang memotret Toutatis lebih baik. Pemotretan Toutatis kini sudah dimulai oleh teleskop radio Goldstone. Gambar dengan resolusi 7,5 meter per piksel sudah dihasilkan. Nantinya diharapkan dapat dihasilkan gambar 3,75 meter per piksel.

Emily Lakdalawa, editor senior The Planetary Society dalam tulisannya di situs web planetary.org, Kamis (6/12/2012) menyatakan bahwa Chang'E 2 sebenarnya sudah berhasil memotret Bulan. Namun, untuk memotret Toutastis, tampaknya satelit ini akan menghadapi beberapa kendala.

Chang'E 2 akan melintas di dekat Toutatis dengan kecepatan relatif tinggi, 11 km per detik. Dengan kata lain, jarak untuk memotret asteroid ini akan berubah sangat cepat. Perlu usaha keras agar Chang'E 2 dapat mengambil gambar asteroid berbentuk kentang itu.

"Kalaupun berhasil, Chang'E mungkin hanya akan mendapat dua gambar, saat mendekat dan mulai menjauhi," kata Lakdalawa. Kualitas gambar takkan lebih baik dari citra radar, namun Toutatis tetap dapat diidentifikasi dari bentuknya.

China menghadapi tantangan berat untuk mencitrakan asteroid ini. Salah satu faktornya karena negara itu baru saja memulai misi antariksanya. Namun, harapan tetap ada. Orbit Toutatis telah diketahui.

Bentuk Kentang

Asteroid Toutatis unik karena bentuknya. Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, asteroid ini mengejutkan ilmuwan saat pertama dicitrakan oleh teleskop radio Goldstone pada tahun 1992. Asteroid ini seperti dua batu besar yang direkatkan tak sempurna.

"Bentuk ini tentu amat mengejutkan mengingat dalam imajinasi sebelumnya, Toutatis, dan juga asteroid pada umumnya, dianggap berbentuk mirip dengan bola dengan wajah penuh bopeng," urainya.

Dalam observasi yang terus dilakukan ilmuwan, ternyata Toutatis bukan satu-satunya. ada asteroid lain dengan bentuk mirip, misalnya asteroid Kleopatra dan Itokawa serta inti komet Borrely dan Hartley 2.

Ma'rufin menguraikan, Toutatis memiliki bentuk seperti kentang karena diduga berasal dari gabungan 2 asteroid. Dua asteroid memiliki orbit berbeda namun berpotongan. Kurang lebih 100 juta tahun lalu, keduanya bertemu dan membentuk Toutatis.

Penggabungan sendiri bisa terjadi sebab kecepatan gerak keduanya relatif kecil. Jika keduanya bergerak dengan kecepatan tinggi, maka bukan penggabungan yang terjadi, tetapi kehancuran. Benar tidaknya teori itu bisa diuji dengan pengamatan asteroid dua hari mendatang.

Asteroid Toutatis mendekati Bumi setiap 4 tahun sekali. Saat titik terdekat nanti, asteroid ini hanya berjarak 6,95 juta km dari Bumi. Satelit ini tak berpotensi menumbuk Bumi. Jadi, kedekatan jarak tak akan menimbulkan dampak apapun.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau