Keluarga Perawat Kate Middleton Muncul di Depan Publik

Kompas.com - 11/12/2012, 16:04 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Keluarga perawat Jacintha Saldanha (46) untuk pertama kalinya muncul ke publik di Gedung Parlemen Inggris, Senin (10/12/2012).

Suaminya Benedict Barboza dan dua anak remajanya terlihat menangis dan memberikan pernyataan melalui kuasa hukumnya Keith Vaz.

"Mereka ingin saya mengatakan bahwa mereka sangat berterimakasih atas perhatian publik Inggris dan seluruh dunia yang mengirimkan pesan duka dan dukungan menyusul kematian Jacintha, seorang ibu dan istri yang dicintai,'' kata Vaz.

"Keluarga ini sangat dekat. Mereka terpukul atas apa yang terjadi. Mereka akan merindukan setiap waktu bersamanya,'' tambah Vaz, yang berdiri di samping Barboza dan anak perempuannya yang berusia 14 tahun Lisha.

"Mereka akan membuat pernyataan sendiri di lain waktu agar warga bisa terus mendapatkan perkembangan informasi.''

Keluarga ini kemudian mengunjungi rumah sakit King Edward VII di London, tempat dimana Jacintha bekerja selama empat tahun terakhir.

"Seorang anggota senior rumah sakit menyambut keluarga dan menawarkan bantuan dan akan terus melakukan hal itu selama dibutuhkan,'' demikian kata John Lofthouse, kepala eksekutif RS King Edward VII.

"Kami memahami bahwa keluarga merasa putus asa dan butuh waktu untuk mengungkapkan bantuan yang mereka butuhkan,'' tambahnya.

''RS King Edward VII akan tetap bersama mereka kapanpun, dimanapun dan apapun yang mereka butuhkan.''

Manajemen rumah sakit menyatakan akan mengumpulkan dana duka cita untuk mendukung keluarga dan akan menggelar kebaktian untuk mengenang mendiang akhir pekan ini.  

Otopsi

Keith Vaz menyatakan pihak keluarga juga telah bertemu dengan kepolisian, Senin (10/12).  Jenazah Jacintha Saldanha akan diotopsi hari ini Selasa di Rumah Duka Westminster, London.

Jacintha Saldanha diduga bunuh diri setelah menerima telepon tipuan dari penyiar radio Sydney 2Day FM pada tanggal 4 Desember lalu.

Dua penyiar asal Australia itu berpura-pura menjadi Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles, menelepon rumah sakit sekitar pukul 05:30 pagi waktu London dengan tujuan mendapat informasi tentang kondisi kehamilan Kate.

Saat ditelepon tidak ada resepsionis yang bertugas dan Jacintha Saldanha yang pertama menerima telepon dan menyerahkan ke rekannya yang secara detil memberi informasi kesehatan ke penyiar.

Radio ini menyatakan telah berupaya untuk menghubungi rumah sakit sebanyak lima kali untuk membicarakan telepon tipuan ini sebelum diudarakan. Tetapi kabar itu dibantah pihak rumah sakit.

"Menyusul telepon tipuan, stasiun radio tidak berbicara ke siapapun di rumah sakit, senior manajemen atau siapapun yang bertugas untuk menjawab pertanyaan media,'' demikian kata seorang juru bicara rumah sakit.

Dua penyiar 2Day FM Mel Greig dan Michael Christian dalam sebuah wawancara terlihat terguncang akibat kematian Jacintha.

Keduanya sempat disembunyikan dan menjalani konseling ini mengaku sangat terpukul.

Perdana Menteri Inggris David Cameron menggambarkan kematian Jacintha sebagai sebuah ''tragedi''.

"Saya rasa ini sepenuhnya mengejutkan, berita yang saya dengar tentang perawat yang bunuh diri, yang bekerja keras dan tentu saja penuh dedikasi,'' katanya kepada wartawan.

"Saya sepenuhnya turut berduka untuknya dan keluarganya. Ini adalah sebuah tragedi. Dan saya yakin semua orang akan merefleksikan bagaimana ini bisa terjadi ''

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau