Kiamat 2012 (1)

Bermula dari Kalender Maya

Kompas.com - 12/12/2012, 03:23 WIB

M Zaid Wahyudi

Bagi mereka yang selama beberapa tahun terakhir percaya isu kiamat 2012, Jumat, 21 Desember, nanti adalah pembuktiannya. Hari itu akhir zaman diperkirakan datang. Prediksi itu didasarkan atas berakhirnya kalender Perhitungan Panjang (Long Count) bangsa Maya di Amerika Tengah.

Kalender Maya memang unik. Ia berbeda dengan sistem penanggalan yang dikenal saat ini, seperti kalender Masehi yang merupakan penanggalan Matahari, kalender Hijriah sebagai penanggalan Bulan, atau kalender Yahudi yang menggabungkan penanggalan Matahari dan Bulan.

Helmer Aslaksen dalam Mayan Calendar, 2003, menyebut, penanggalan Maya merupakan gabungan tiga jenis kalender, yaitu Haab yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, Tzolkin untuk kepentingan keagamaan, dan Perhitungan Panjang. Namun, hanya Perhitungan Panjang yang terkait isu kiamat.

Jika representasi kalender Masehi terdiri atas hari, bulan, dan tahun, penulisan kalender Perhitungan Panjang diwakili lima angka yang membentuk deret, yaitu 0.0.0.0.0 Representasi ini menunjukkan jumlah hari sejak kalender digunakan.

Secara berurutan dari depan, kelima unit disebut baktun, katun, tun, uinal, dan kin. Masing-masing unit menandakan periode waktu tertentu. Kin atau unit kelima menunjukkan hari. Unit-unit di depannya merupa- kan perkalian 20 dari unit di belakangnya, seperti satu uinal yang terdiri atas 20 kin. Pengecualian hanya untuk tun yang terdiri atas 18 uinal.

Tiap unit hanya bisa diisi angka tertentu. Unit kin, tun, dan katun diisi angka dari 0 sampai 19. Tun hanya dari 0-17 dan baktun dari 1-13.

Dosen sistem kalender Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, Kamis (6/12), mengatakan, dasar perkalian 18 atau 20 dalam unit kalender Maya atau alasan penggunaan angka tertentu dalam setiap unit Perhitungan Panjang belum diketahui. ”Informasi tentang kalender Maya masih sangat terbatas,” katanya.

Di atas baktun ada unit yang lebih panjang, yakni pictun, calabtun, kinchiltun, dan alautun. Namun, unit-unit ini tak digunakan dalam penulisan karena periode waktunya terlalu panjang.

Hari pertama Perhitungan Panjang adalah 13.0.0.0.0. Angka 13 digunakan untuk unit baktun karena unit ini tidak mengenal angka nol. Ada tiga pendapat berbeda soal padanan hari pertama Perhitungan Panjang dengan kalender Masehi, yaitu 11 Agustus 3114 sebelum Masehi (SM), 13 Agustus 3114 SM, dan 15 Oktober 3374 SM.

Bambang Hidayat dalam Kosmophobia 2012: Satu Tilikan Astronomi Menyatakan bahwa Apokaliptika Tidak Akan Terjadi pada Tahun 2012 di jurnal Sosiohumanika Volume 3 Nomor 1 Tahun 2010 menulis, momentum apa yang membuat bangsa Maya menjadikan 11 Agustus 3114 SM sebagai titik awal kalender Perhitungan Panjang masih jadi pertanyaan besar. Awal kalender dianggap penting, seperti sistem kalender lain, karena dari titik itu rencana terhadap suatu kalender diketahui.

Saat awal Perhitungan Panjang dimulai, bangsa Maya diyakini belum ada. Maya baru berkembang, termasuk sistem kalendernya, pada tahun 200- 300 Masehi (M) di dataran tinggi yang terentang dari Meksiko selatan hingga Guatemala kini.

Berulang

Karena titik awal Perhitungan Panjang berbeda, titik ulangannya pun berbeda. Tanggal 13.0.0.0.0 dalam Perhitungan Panjang diyakini akan terulang pada 21 Desember 2012 M atau 23 Desember 2012 M. Ini berarti tanggal 13.0.0.0.0 terjadi lagi setelah melewati 1.872.000 hari atau sekitar 5.126 tahun.

Ahli epigrafi Maya yang juga Direktur Pusat Mesoamerika Universitas Texas di Austin, Amerika Serikat, David Stuart, dalam The Truth about 2012 di situs internet pusat riset Amerika Tengah, 20 April 2012, menyatakan, info tentang 13.0.0.0.0 di tahun 2012 hanya dari Monumen 6 prasasti Tortuguero di Meksiko selatan. Namun, prasasti itu tak menjelaskan makna 2012. ”Yang pasti, tak ada klaim dunia akan berakhir,” tulisnya.

Bagi sebagian orang yang sangat terobsesi dengan kiamat, habisnya periode 13 baktun itu atau dari 13.0.0.0.0 ke 13.0.0.0.0 berikutnya dianggap sebagai hari akhir. Padahal, selesainya 13 baktun berarti dimulainya periode baru baktun.

Ini artinya sama dengan tanggal 31 Desember dalam kalender Masehi setiap tahun yang akan diikuti dengan tanggal 1 Januari pada tahun yang baru.

Antropolog Universitas Florida Selatan, AS, Christian Wells, dalam situs universitas itu, 20 Maret 2012, menyatakan, arkeolog belum memahami mengapa Perhitungan Panjang dimulai pada 3114 SM dan berakhir 2012 M. Namun, sulit meyakini bahwa bangsa Maya berpikir dunia berakhir pada 21 Desember nanti karena mereka punya siklus kalender sangat panjang hingga ribuan tahun ke depan.

Bagi bangsa di belahan Bumi utara, 21 Desember adalah waktu yang menandai winter solstice (titik musim dingin). Matahari berada di titik terjauh di bagian Bumi selatan. Setelah itu gerak semu Matahari akan menuju utara sehingga berakhirlah malam-malam panjang awal musim dingin dan bertambah waktu siang di sisa musim dingin.

Tetua bangsa Maya berkewarganegaraan Guatemala, Apolinario Chile Pixtun, juga membantah isu ini. Menurut dia, isu kiamat 2012 bukan prediksi bangsa Maya, tetapi gagasan masyarakat Barat. (Kompas, 14 Oktober 2009)

Bambang menambahkan, umumnya kalender dibuat untuk mencatat peristiwa-peristiwa yang telah terlampaui. Sistem kalender tidak disusun untuk alat ramalan, apalagi menentukan akhir peradaban.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau