Abe: Tak Ada Ruang Negosiasi

Kompas.com - 18/12/2012, 05:02 WIB

TOKYO, SENIN - Calon perdana menteri baru Jepang, Shinzo Abe, menegaskan, tak ada ruang negosiasi dengan China terkait kepulauan yang disengketakan di Laut China Timur karena kepulauan itu bagian inheren dari Jepang.

”Kepulauan Senkaku adalah wilayah inheren dari Jepang. Jepang memiliki dan mengontrol kepulauan itu berdasarkan hukum internasional. Tak ada ruang negosiasi dalam hal ini,” kata Abe dalam jumpa pers di Tokyo, Senin (17/12). Itu adalah jumpa pers pertama Abe setelah partai yang ia pimpin, Partai Liberal Demokrat (LDP), menang telak dalam pemilihan umum sehari sebelumnya.

Meski demikian, Abe berjanji akan melanjutkan dialog dengan China untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Ia juga berharap masalah politik jangan sampai memengaruhi sektor ekonomi.

Abe, yang pernah menjabat PM Jepang selama satu tahun pada 2006-2007, selalu berjanji akan menunjukkan sikap yang lebih tegas terhadap China dalam setiap kampanyenya. Abe diduga kuat akan dipilih lagi sebagai PM Jepang dalam sesi sidang pertama parlemen baru, 26 Desember mendatang.

Tahun ini, hubungan bilateral Jepang-China diwarnai ketegangan terkait sengketa teritorial di Laut China Timur. Gugus kepulauan, yang oleh Jepang disebut Senkaku itu, diklaim oleh China sebagai bagian wilayahnya dengan nama Kepulauan Diaoyu.

Hubungan memanas setelah awal September lalu, pemerintah pusat Jepang memutuskan membeli tiga dari lima pulau di gugus kepulauan itu dari seorang pemilik pribadi di Jepang. Hal itu memicu aksi protes anti-Jepang besar-besaran di China, yang sempat mengganggu hubungan dagang kedua negara.

Pemerintah China sendiri langsung menyatakan ”sangat khawatir” akan arah yang akan diambil pemerintahan baru Jepang di bawah Abe.

”Kami sangat khawatir akan arah yang akan diambil Jepang,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying di Beijing, Senin. Hua menambahkan, Jepang perlu menunjukkan kesungguhan dan melakukan langkah-langkah praktis untuk memperbaiki hubungan dengan China.

Media di China bersikap lebih keras. Tabloid Global Times, yang berada pada satu kelompok media dengan koran corong Partai Komunis China, Harian Rakyat, menegaskan, China perlu mengambil langkah-langkah nyata untuk ”meluruskan” Abe begitu dia menjadi PM Jepang. ”Jika dia mengambil langkah yang terlalu keras terhadap China, kita harus melawan balik dengan tegas,” kata tabloid tersebut.

Dunia blog dan media sosial di China juga penuh kecaman atas kemenangan LDP dan kemungkinan Abe jadi PM Jepang. Para blogger dan aktivis media sosial China menuduh Abe akan membawa Jepang terlalu ke kanan.

Tidak mudah

Hasil penghitungan suara pemilu Jepang menunjukkan, LDP menang mutlak dengan meraih 294 kursi dari total 480 kursi majelis rendah parlemen Jepang. Pasangan koalisi LDP, Partai Komeito Baru, mendapat 31 kursi, yang membuat koalisi mereka menguasai dua pertiga majelis rendah.

Sementara Partai Demokrat Jepang (DPJ) hanya meraih 57 kursi. PM Yoshihiko Noda langsung mengumumkan pengunduran diri sebagai Ketua DPJ, Minggu malam.

Abe mengakui, langkahnya ke depan tak akan mudah. Ia mengatakan, Jepang menghadapi sejumlah krisis, mulai dari lemahnya ekonomi sampai pemulihan pascabencana yang belum tuntas. (AP/AFP/Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau