Chelsea Tantang Rival Lama

Kompas.com - 19/12/2012, 06:07 WIB

LEEDS, SELASA - Lupakan kegagalan di Piala Dunia Antarklub, kini fokus ke trofi lain. Itu pesan Rafael Benitez melecut spirit Chelsea menjelang laga tandang ke Leeds United pada perempat final Piala Liga di Elland Road, Rabu (19/12). Gengsi, rivalitas klasik, dan dendam antarpelatih membungkus duel.

Piala Liga awalnya bukan prioritas Chelsea, sebagaimana klub- klub besar lainnya. Namun, dengan terlucutinya satu demi satu peluang juara mereka—mulai tersingkirnya dari Liga Champions, gagal juara di Piala Dunia Antarklub, dan terpaut jauhnya selisih nilai dengan penguasa klasemen Manchester United di Liga Inggris—trofi ajang itu menjadi penting bagi ”The Blues”.

”Saya pernah mengatakan sebelumnya, ada lima trofi yang bisa direbut, tetapi kini tinggal empat,” ujar Rafael Benitez, Pelatih Chelsea, Selasa (18/12), merujuk ke Liga Europa, Piala FA, Liga Inggris, dan Piala Liga.

”Kami pulang, melawan Leeds di Piala Liga dan kemudian Aston Villa pada akhir pekan sehingga kami harus kuat mental. Kami harus siap menghadapi tantangan berikutnya,” kata Benitez.

Dari segi kasta kompetisi, Leeds tampil di Championship, satu level di bawah Liga Primer tempat Chelsea berlaga. Namun, mendengar Leeds, adrenalin pemain senior Chelsea meningkat.

Hal itu terkait rivalitas klasik yang mengiringi persaingan kedua klub itu di panggung sepak bola Inggris. Rivalitas sengit antara Chelsea dan Leeds sudah meledak tahun 1970-an.

Rivalitas dan dendam

Duel terkenal dan masih terus terkenang di antara mereka adalah pada 1970 saat Chelsea juara Piala FA lewat kemenangan brutal pada laga final ulangan di Old Trafford. Saat itu, keduanya seri 2-2 di final pertama di Wembley. Di final ulangan, Chelsea tertinggal 0-1, lalu menyamakan 1-1 pada menit ke-78, dan menang 2-1 pada perpanjangan waktu.

Momentum itu dianggap pemisah budaya antara Inggris utara dan Inggris selatan. ”Ada rivalitas, kami sadar itu, dan kami harus tampil di lapangan dengan gairah dan meladeni permainan fisik mereka,” kata Frank Lampard, gelandang Chelsea.

Terakhir, kedua tim bertemu pada laga terakhir Liga Inggris musim 2003-2004. Saat itu Chelsea menang 1-0 di Stamford Bridge. Leeds terdegradasi hingga masuk administrasi akibat terlilit masalah keuangan. Semifinalis Liga Champions 2001 itu memulai dari awal, tampil di level ketiga liga sepak bola Inggris sebelum tampil di Championship pada 2007.

Di luar rivalitas Chelsea-Leeds, juga ada dendam pribadi Neil Warnock (Pelatih Leeds) dan Benitez. Ini terkait terdegradasinya Sheffield United saat dilatih Warnock dari Liga Primer 2007 setelah pada laga terakhir Liverpool-nya Benitez turun dengan tim kedua dan secara mengejutkan dipukul Fulham. Fulham selamat, Sheffield degradasi.

Warnock tak akan pernah melupakan peristiwa itu. Kedua pelatih itu sudah saling kontak lagi, tetapi kata Warnock, jalinan kontak itu berupa e-mail pengacara Benitez yang mengancam menuntut jika Warnock terus mengungkit kasus musim 2007 itu.

Chelsea hanya punya waktu 48 jam sebelum melawat ke Elland Road, sehabis terbang berkeliling hampir separuh bumi, pulang dari tampil di Piala Dunia Antarklub, Jepang. Benitez harus melakukan beberapa perubahan dengan absennya John Obi Mikel, Ramires, dan Gary Cahill (skors). Hal itu kesempatan Paulo Ferreira, Ryan Bertrand, Marko Marin, dan Daniel Sturridge tampil.

Mereka harus waspada. Elland Road telah memakan korban tim-tim Liga Primer, seperti Everton dan Southampton. Pemenang duel Leeds versus Chelsea bakal menyusul tiga semifinalis, yaitu Swansea City, Aston Villa, dan Bradford (klub League Two). (AFP/REUTERS/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau