JAKARTA, KOMPAS.com - Semakin dekatnya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dinilai untuk kepentingan Pemilu 2014. Yudhoyono dinilai membutuhkan Anas untuk menghadapi pemilu.
"Setelah Andi Mallarangeng menjadi tersangka, Pak SBY butuh Anas sekarang. Kita tahu Andi lebih dekat dengan Pak SBY," kata peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI Syamsudin Noor, di Jakarta, Rabu ( 19/12/2012 ).
Menurut Syamsudin, kedekatan itu terlihat dari kehadiran Yudhoyono dalam acara Forum Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Sentul, Bogor, pekan lalu. Bahkan, Yudhoyono mendapat Lifetime Achievement Award dari Demokrat yang diserahkan Anas.
Dalam pidatonya, Yudhoyono tak menyinggung masalah korupsi yang dilakukan kadernya. Yudhoyono hanya meminta maaf kepada rakyat atas tindakan tidak baik para kadernya. Tak disebut siapa kader yang dimaksud dan apa tindakan tak baik itu.
Sikap Yudhoyono itu berbeda ketika menghadiri acara Forum Silaturahmi Pendiri dan Deklarator pada Juni 2012. Saat itu, Yudhoyono meminta para kader Demokrat yang tidak menjalani politik yang santun, cerdas, dan bersih, agar segera meninggalkan partai.
"Politik seperti ini yang harus dijalankan para kader Partai Demokrat. Bagi kader partai yang tidak bersedia berbuat begitu, daripada memalukan kita di kemudian hari, lebih baik mundur sekarang juga. Tinggalkan partai ini!" kata Yudhoyono.
Syamsudin mengatakan, SBY membutuhkan Anas untuk konsolidasi internal menghadapi pemilu 2014 . Pasalnya, Anas terus membangun basis kekuatan partai dengan rajin keliling daerah.
"SBY dilema, tidak punya pilihan yang banyak. Mekanisme internal partai enggak ada (untuk mengganti Ketua Umum). Kongres luar biasa hanya bisa berlangsung atas usul daerah. Kecuali Anas sukarela nonaktif. Walaupun itu kemungkiannnya kecil," kata Syamsudin.
Meski demikian, Syamsudin melihat apapun yang dilakukan internal Demokrat sangat sulit untuk kembali memenangkan pemilu 2014 . Paling bagus, kata dia, Demokrat berada di posisi ketiga akibat image negatif setelah para kader Demokrat terjerat kasus korupsi.
Seperti diberitakan, hubungan Yudhoyono dengan Anas disebut-sebut rengang setelah Anas dikaitkan dengan kasus dugaan korupsi pembangunan Hambalang, Bogor. Jajaran Dewan Pembina, pendiri, dan deklarator Partai Demokrat khawatir elektabilitas Demokrat bakal terus melorot akibat tersanderanya status hukum Anas. Mereka meminta Anas mengundurkan diri.
Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Dinamika di Partai Demokrat