Dinamika di demokrat

SBY Butuh Anas Urbaningrum

Kompas.com - 19/12/2012, 15:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Semakin dekatnya Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dinilai untuk kepentingan Pemilu 2014. Yudhoyono dinilai membutuhkan Anas untuk menghadapi pemilu.

"Setelah Andi Mallarangeng menjadi tersangka, Pak SBY butuh Anas sekarang. Kita tahu Andi lebih dekat dengan Pak SBY," kata peneliti senior Pusat Penelitian Politik LIPI Syamsudin Noor, di Jakarta, Rabu ( 19/12/2012 ).

Menurut Syamsudin, kedekatan itu terlihat dari kehadiran Yudhoyono dalam acara Forum Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Sentul, Bogor, pekan lalu. Bahkan, Yudhoyono mendapat Lifetime Achievement Award dari Demokrat yang diserahkan Anas.

Dalam pidatonya, Yudhoyono tak menyinggung masalah korupsi yang dilakukan kadernya. Yudhoyono hanya meminta maaf kepada rakyat atas tindakan tidak baik para kadernya. Tak disebut siapa kader yang dimaksud dan apa tindakan tak baik itu.

Sikap Yudhoyono itu berbeda ketika menghadiri acara Forum Silaturahmi Pendiri dan Deklarator pada Juni 2012. Saat itu, Yudhoyono meminta para kader Demokrat yang tidak menjalani politik yang santun, cerdas, dan bersih, agar segera meninggalkan partai.

"Politik seperti ini yang harus dijalankan para kader Partai Demokrat. Bagi kader partai yang tidak bersedia berbuat begitu, daripada memalukan kita di kemudian hari, lebih baik mundur sekarang juga. Tinggalkan partai ini!" kata Yudhoyono.

Syamsudin mengatakan, SBY membutuhkan Anas untuk konsolidasi internal menghadapi pemilu 2014 . Pasalnya, Anas terus membangun basis kekuatan partai dengan rajin keliling daerah.

"SBY dilema, tidak punya pilihan yang banyak. Mekanisme internal partai enggak ada (untuk mengganti Ketua Umum). Kongres luar biasa hanya bisa berlangsung atas usul daerah. Kecuali Anas sukarela nonaktif. Walaupun itu kemungkiannnya kecil," kata Syamsudin.

Meski demikian, Syamsudin melihat apapun yang dilakukan internal Demokrat sangat sulit untuk kembali memenangkan pemilu 2014 . Paling bagus, kata dia, Demokrat berada di posisi ketiga akibat image negatif setelah para kader Demokrat terjerat kasus korupsi.

Seperti diberitakan, hubungan Yudhoyono dengan Anas disebut-sebut rengang setelah Anas dikaitkan dengan kasus dugaan korupsi pembangunan Hambalang, Bogor. Jajaran Dewan Pembina, pendiri, dan deklarator Partai Demokrat khawatir elektabilitas Demokrat bakal terus melorot akibat tersanderanya status hukum Anas. Mereka meminta Anas mengundurkan diri.

Berita terkait dapat diikuti dalam topik:
Dinamika di Partai Demokrat

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau