Penegasan itu disampaikan Geun-hye, Kamis (20/12), seusai menghadiri upacara penghormatan di Taman Pemakaman Nasional Seoul, tempat para presiden Korea Selatan (Korsel), termasuk mendiang ayahnya, dimakamkan.
Dalam pernyataan resmi seusai terpilih, Geun-hye mengingatkan betapa seriusnya ancaman yang timbul akibat peluncuran roket jarak jauh Korut pekan lalu terhadap keamanan Korsel.
”Peluncuran itu secara simbolis menunjukkan betapa mengerikan situasi keamanan yang tengah kita hadapi sekarang,” katanya.
Putra mendiang diktator Korsel, Park Chung-hee, itu juga menegaskan akan menepati janji kampanyenya untuk membuka era baru di Semenanjung Korea.
Hal itu akan dilakukan dengan tetap didasari jaminan keamanan kuat dan upaya diplomasi berbasis kepercayaan.
Selama masa kampanye, Geun-hye berusaha menjaga jarak dengan pendahulunya, Presiden Lee Myung-bak, terkait kebijakan soal Korut. Sejak awal memerintah tahun 2008, Lee— yang berasal dari partai yang sama dengan Geun-hye—menghentikan seluruh bantuan kemanusiaan kepada Korut.
Hal itu berbeda 180 derajat dengan kebijakan ”Cahaya Mentari” (Sunshine Policy) yang diterapkan sejak era Presiden Kim Dae-jung.
Korsel saat ini menjadi salah satu negara yang mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Korut setelah peluncuran roketnya pekan lalu.
Sejumlah pakar menilai Geun- hye tak akan menjadi penggerak awal upaya perbaikan hubungan dengan Korut pasca-peluncuran roket tersebut.
”Namun, dia tak akan keberatan jika pemerintahan Presiden Barack Obama di AS mendekati dan mengajak Korut berdialog,” ujar Hong Hyun-Ik dari lembaga pemikir Sejong Institute.
Geun-hye juga berjanji akan membangun rasa saling percaya di kawasan Asia Timur. Namun, dalam pernyataan yang jelas-jelas ditujukan kepada Jepang, ia menegaskan, stabilitas hanya bisa dibangun di atas ”persepsi sejarah yang benar”.
Seoul dan Tokyo bersitegang terkait klaim tumpang tindih wilayah di Kepulauan Dokdo, atau Takeshima, menurut Jepang, di Laut Jepang. Korsel juga menuntut Jepang membayar ganti rugi atas kejahatan perang yang terjadi pada Perang Dunia II.
Dalam konteks ekonomi, Geun-hye berjanji akan langsung bekerja demi memastikan seluruh masyarakat Korsel dapat merasakan keuntungan pertumbuhan ekonomi negeri itu.
Ia bertekad tak satu pun rakyat Korsel akan merasa terpinggirkan secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Korsel melambat akhir-akhir ini setelah selama beberapa dekade mencatat pertumbuhan rata-rata 5,5 persen.
”Saya akan berusaha membagi buah pertumbuhan ekonomi untuk bisa dinikmati tanpa ada yang merasa perlu terpinggirkan,” ujar Geun-hye.