Korsel Akan Dekati Korut

Kompas.com - 21/12/2012, 04:10 WIB

SEOUL, KAMIS - Sehari setelah dinyatakan memenangi pemilihan umum, perempuan presiden pertama Korea Selatan, Park Geun-hye, menyatakan bakal menerapkan kebijakan tegas terkait isu keamanan nasional negeri itu. Namun, dia juga menjanjikan akan tetap mendekati Korea Utara.

Penegasan itu disampaikan Geun-hye, Kamis (20/12), seusai menghadiri upacara penghormatan di Taman Pemakaman Nasional Seoul, tempat para presiden Korea Selatan (Korsel), termasuk mendiang ayahnya, dimakamkan.

Dalam pernyataan resmi seusai terpilih, Geun-hye mengingatkan betapa seriusnya ancaman yang timbul akibat peluncuran roket jarak jauh Korut pekan lalu terhadap keamanan Korsel.

”Peluncuran itu secara simbolis menunjukkan betapa mengerikan situasi keamanan yang tengah kita hadapi sekarang,” katanya.

Putra mendiang diktator Korsel, Park Chung-hee, itu juga menegaskan akan menepati janji kampanyenya untuk membuka era baru di Semenanjung Korea.

Hal itu akan dilakukan dengan tetap didasari jaminan keamanan kuat dan upaya diplomasi berbasis kepercayaan.

Selama masa kampanye, Geun-hye berusaha menjaga jarak dengan pendahulunya, Presiden Lee Myung-bak, terkait kebijakan soal Korut. Sejak awal memerintah tahun 2008, Lee— yang berasal dari partai yang sama dengan Geun-hye—menghentikan seluruh bantuan kemanusiaan kepada Korut.

Hal itu berbeda 180 derajat dengan kebijakan ”Cahaya Mentari” (Sunshine Policy) yang diterapkan sejak era Presiden Kim Dae-jung.

Korsel saat ini menjadi salah satu negara yang mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan sanksi lebih keras terhadap Korut setelah peluncuran roketnya pekan lalu.

Sejumlah pakar menilai Geun- hye tak akan menjadi penggerak awal upaya perbaikan hubungan dengan Korut pasca-peluncuran roket tersebut.

”Namun, dia tak akan keberatan jika pemerintahan Presiden Barack Obama di AS mendekati dan mengajak Korut berdialog,” ujar Hong Hyun-Ik dari lembaga pemikir Sejong Institute.

Geun-hye juga berjanji akan membangun rasa saling percaya di kawasan Asia Timur. Namun, dalam pernyataan yang jelas-jelas ditujukan kepada Jepang, ia menegaskan, stabilitas hanya bisa dibangun di atas ”persepsi sejarah yang benar”.

Seoul dan Tokyo bersitegang terkait klaim tumpang tindih wilayah di Kepulauan Dokdo, atau Takeshima, menurut Jepang, di Laut Jepang. Korsel juga menuntut Jepang membayar ganti rugi atas kejahatan perang yang terjadi pada Perang Dunia II.

Bidang ekonomi

Dalam konteks ekonomi, Geun-hye berjanji akan langsung bekerja demi memastikan seluruh masyarakat Korsel dapat merasakan keuntungan pertumbuhan ekonomi negeri itu.

Ia bertekad tak satu pun rakyat Korsel akan merasa terpinggirkan secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Korsel melambat akhir-akhir ini setelah selama beberapa dekade mencatat pertumbuhan rata-rata 5,5 persen.

”Saya akan berusaha membagi buah pertumbuhan ekonomi untuk bisa dinikmati tanpa ada yang merasa perlu terpinggirkan,” ujar Geun-hye. (AFP/BBC/AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau