Australia Sesuaikan Diri Sambut Turis China

Kompas.com - 01/01/2013, 14:17 WIB

SYDNEY, KOMPAS.com -  Pada tahun 2013, di tengah meningkatnya kedatangan wisawatan dari China, dunia industri pariwisata Australia melakukan berbagai penyesuaian guna semakin banyak menarik minat dari negeri yang dulu dijuluki Tirai Bambu tersebut.

Di berbagai hotel di Australia misalnya makanan ringan seperti coklat sekarang diganti dengan mie instan. Tamu asal China diupayakan untuk tidak tinggal di kamar dengan angka 4, dan tidak ditawari buah seperti pir ataupun topi berwarna hijau.

"Kesan pertama ini yang paling penting, dan itulah yang sekarang kami tingkatkan untuk menarik lebih banyak lagi turis dari China," kata Peter Hook dari jaringan hotel terbesar Australia, Accor.

Menurut Sydney Morning Herald, Accor sekarang sudah memberlakukan program di 35 hotel mereka agar kamar dan layanan mereka lebih "bersahabat" bagi tamu dari China. Mereka mempekerjaan staf yang bisa berbahasa Mandarin, memasukkan dim sum dan makanan China lainnya ke dalam menu sarapan pagi, dan memasang televisi kabel berbahasa Mandarin.

"Dampaknya sangat terasa." kata Hook. "Terjadi peningkatan bisnis dari China sebanyak 25 persen sepanjang tahun lalu." lanjut Hook.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, jumlah turis asal China ke Australia di tahun 2012 naik 17 persen ke angka 573.000 orang, mengalahkan turis asal Inggris. Pelancong asal China sekarang kedua terbesar ke Australia setelah Selandia Baru.

"Kami mengalihkan banyak sumber daya ke China khususnya untuk menangkap peluang bisnis karena meningkatnya kelas menengah di sana," kata Direktur Pelaksana Tourism Australia Andrew McEvoy.

Mereka melancarkan kampanye iklan di Shanghai bulan Juni lalu.  Iklan tersebut yang kemudian diunduh di YouTube sudah disaksikan oleh 30 juta orang, 20 juta di antaranya datang dari China.

Tourism Australia ingin jumlah turis dari China meningkat dua kali lipat dari sekarang, dan pasar akan berkembang menjadi 10 miliar dolar dalam 10 tahun mendatang.

Kuncinya, menurut McEvoy adalah melakukan hal-hal mendasar seperti memiliki staf yang bisa berbahasa Mandarin dan makanan yang disukai oleh turis China. Perusahaan konsultan yang memberi pengajaran soal kebiasaan warga China juga berkembang pesat.

"Ada 56 kelompok etnis di China, kita tidak bisa melihat mereka sebagai satu kesatuan," kata Gary Crockett, direktur perusahaan konsultan China Ready&Accredited, perusahaan yang memberi pelatihan kepada industri pariwisata.

Mereka memberi pelatihan kepada staf hotel mengenai kebudayaan China. "Jangan beri pria China topi berwarna hijau. Soalnya konotasinya adalah istri mereka selingkuh." kata Crockett.

Potongan buah pir juga sebaiknya tidak diberikan karena pengucapannya dalam bahasa Mandarin berarti perceraian. "Sebagian kecil warga China sangat percaya dengan tahyul." kata Wanning Sun, profesor budaya China di University Techonology Sydney.

Selain itu, Prof Sun mengatakan  industri pariwisata Australia haruslah mengincar turis dari kota-kota di luar kota besar seperti Beijing, Shanghai atau kota besar lainnya. "Meskipun sudah banyak turis dari China ke Australia, namun dari segi persentase kan masih kecil sekali. Kita belum lagi meyentuh turis dari kota menengah dan kecil."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau