"Ngotot" Calonkan Ical, Golkar Bisa Makin Pecah

Kompas.com - 05/01/2013, 19:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit mengatakan jika Partai Golkar terus bersikeras mencalonkan Ketua Umumnya, Aburizal "Ical" Bakrie menjadi calon presiden, itu hanya akan menghabiskan waktu. Pasalnya, konflik internal diperkirakan akan semakin menguat di antara tiga faksi yang ada di kubu Golkar.

"Ada tiga faksi di Golkar yaitu Ical, JK, dan Akbar Tandjung. Kalau Ical tetap ngotot maju, pertentangan di internal akan semakin tinggi, perpecahan di Golkar akan terjadi," ujar Sukardi, Sabtu (5/1/2013), di Jakarta.

Ia mengatakan, satu-satunya cara bagi Ical untuk mengukuhkan pencalonannya adalah dengan survei internal yang independen. Ical harus bekerja keras hingga Juli 2013, batas waktu yang diberikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung untuk mendongkrak elektabilitasnya.

"Kalau Ical sampai di bawah 10 persen, dia harus evaluasi diri. Harus dilihat sekarang yang jadi prospek adalah pemilih muda dengan rentang sampai 27 tahun," ujar Sukardi.

Ia pun mengatakan, Golkar hanya akan menghabiskan tenaga, uang, dan waktu jika ternyata tetap tidak bisa mendongkrak popularitas Ical. Padahal, waktu lebih bermanfaat jika digunakan untuk konsolidasi partai.

Golkar telah mendeklarasikan Aburizal "Ical" Bakrie sebagai calon presiden yang akan diusung partai berlambang pohon beringin ini. Namun, pencalonan Ical ini mengundang keraguan lantaran survei-survei tidak menempatkan Ical dalam posisi teratas. Elektabilitas Ical masih dinilai rendah.

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung bahkan sudah mengirimkan surat kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yang intinya meminta agar elektabilitas Ical segera ditingkatkan. Surat itu pun langsung diterima oleh Ical.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Ade Komarudin membantah saat ditanyakan surat itu merupakan ultimatum Akbar ke Ical lantaran tingkat elektabilitasnya yang dinilai masih rendah dalam bursa calon presiden 2014. "Bukan ultimatum, hanya memberikan saran supaya meningkatkan elektabilitas," kata Ade beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan surat dari Akbar sifatnya hanya memberikan saran dan tidak bisa menggantikan keputusan musyawarah nasional (munas) yang menetapkan Ical sebagai kandidat capres yang diusung partainya. Surat dari Akbar itu masih belum dibahas secara resmi oleh DPP Golkar.

"Nanti kami akan bahas sehabis tahun baru. Untuk menyikapi surat itu," kata Ade.

Ia pun menampik tudingan elektabilitas Ical yang kian melorot. Menurut dia, selama ini hasil survei yang dilakukan partai selalu menunjukkan eletabilitas Ical yang terus meningkat. "Kami gunakan survei dari LSI yang hasilnya terus meningkat. Siapa bilang turun terus?" ujar Ade.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau