JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit mengatakan jika Partai Golkar terus bersikeras mencalonkan Ketua Umumnya, Aburizal "Ical" Bakrie menjadi calon presiden, itu hanya akan menghabiskan waktu. Pasalnya, konflik internal diperkirakan akan semakin menguat di antara tiga faksi yang ada di kubu Golkar.
"Ada tiga faksi di Golkar yaitu Ical, JK, dan Akbar Tandjung. Kalau Ical tetap ngotot maju, pertentangan di internal akan semakin tinggi, perpecahan di Golkar akan terjadi," ujar Sukardi, Sabtu (5/1/2013), di Jakarta.
Ia mengatakan, satu-satunya cara bagi Ical untuk mengukuhkan pencalonannya adalah dengan survei internal yang independen. Ical harus bekerja keras hingga Juli 2013, batas waktu yang diberikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung untuk mendongkrak elektabilitasnya.
"Kalau Ical sampai di bawah 10 persen, dia harus evaluasi diri. Harus dilihat sekarang yang jadi prospek adalah pemilih muda dengan rentang sampai 27 tahun," ujar Sukardi.
Ia pun mengatakan, Golkar hanya akan menghabiskan tenaga, uang, dan waktu jika ternyata tetap tidak bisa mendongkrak popularitas Ical. Padahal, waktu lebih bermanfaat jika digunakan untuk konsolidasi partai.
Golkar telah mendeklarasikan Aburizal "Ical" Bakrie sebagai calon presiden yang akan diusung partai berlambang pohon beringin ini. Namun, pencalonan Ical ini mengundang keraguan lantaran survei-survei tidak menempatkan Ical dalam posisi teratas. Elektabilitas Ical masih dinilai rendah.
Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung bahkan sudah mengirimkan surat kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yang intinya meminta agar elektabilitas Ical segera ditingkatkan. Surat itu pun langsung diterima oleh Ical.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Ade Komarudin membantah saat ditanyakan surat itu merupakan ultimatum Akbar ke Ical lantaran tingkat elektabilitasnya yang dinilai masih rendah dalam bursa calon presiden 2014. "Bukan ultimatum, hanya memberikan saran supaya meningkatkan elektabilitas," kata Ade beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan surat dari Akbar sifatnya hanya memberikan saran dan tidak bisa menggantikan keputusan musyawarah nasional (munas) yang menetapkan Ical sebagai kandidat capres yang diusung partainya. Surat dari Akbar itu masih belum dibahas secara resmi oleh DPP Golkar.
"Nanti kami akan bahas sehabis tahun baru. Untuk menyikapi surat itu," kata Ade.
Ia pun menampik tudingan elektabilitas Ical yang kian melorot. Menurut dia, selama ini hasil survei yang dilakukan partai selalu menunjukkan eletabilitas Ical yang terus meningkat. "Kami gunakan survei dari LSI yang hasilnya terus meningkat. Siapa bilang turun terus?" ujar Ade.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang